Oleh: Moh. Anis Romzi

“Itu pak, kami tidak berani sama orang dewasa. Nanti kalau kami tanya-tanya mungkin mereka merasa terganggu.” Jono membuka suara lagi.

“Lantas masalahnya kalau kamu melapor ke Bapak, apa Jon?”

“Bapak itu kan sama orang dewasa seperti mereka. Saya pernah melihat salah satu dari orang-orang yang berseragam biru itu pernah ke sekolah. Dia pernah berbincang dengan Bapak. Kami penasaran apa peti putih itu. Kenapa diletakkan di sawah, terus untuk apa. Adakah hubungannya dengan musim? Sekarang ini seharusnya musim kemarau bukan? Tetapi kok sering hujan di tempat kita.” Jono panjang lebar berbicara. Sementara Sodik hanya mengangguk pura-pura sepaham dengan Jono.

“Ooo, begitu ya. Oke nanti bapak akan mencari informasi perihal peti putih harya karun itu.”

“Bukan peti harta Karun, pak. Tapi alat misterius. Karena itu dibawa berpindah-pindah.” Jono serius sekali.

“Jadi bukan peti harta Karun? ”Pak Ical  bertanya sambil tersenyum.

“Karena banyak orang asing, kami berdua curiga. Jangan-jangan ada yang berbahaya di sawah kita ,pak.” Jono masih tetap serius. Sementara Sodik bergeming.

“Baik kalau begitu. Kalau ini menurut kalian penting, bapak akan ambil bagian dalam penyelidikan ini.” Pak Ical bergaya seperti kepala intel dan keamanan.

Selang dua hari kemudian JonSo masih melihat rombongan orang-orang berbaju biru itu di persawahan. Pak Ical masih belum memanggil keduanya. Berarti Pak Ical masih mencari informasi perihal kotak putih misterius itu.”

“JonSo, nanti siang setelah asar silakan datang ke rumah.” Sebuah pesan WhatsApp pendek masuk di gawai baru Jono.

“Dik, ini kita dipanggil Pak Ical. Nanti kita datang. Apakah kamu siap?” Jono memberi informasi dan instruksi sekaligus.

“Siap ,Ndan.” Sodik memberi isyarat seperti anggota pasukan khusus yang memberi hormat.

Siang setelah salat ashar mereka melaju di atas bebek Honda menuju kediaman Pak Ical. Keduanya sudah tidak sabar ingin mendengarkan informasi perihal peti putih misterius yang ditaruh di tengah sawah. Mereka sangat berharap informasi ini berharga untuk masa depan keduanya.

“Begini JonSo, kemarin bapak sudah menghubungi salah satu dari orang-orang yang berseragam biru tua yang kamu maksud. Pak Diding namanya.” Pak Ical memulai setelah mempersilahkan dua anak didiknya yang terlihat tidak sabar

“Terus, bagaimana nasib peti putih itu?”Jono mendesak.

“Sabar dulu. Dunia saat ini sedang mengalami perubahan iklim. Itu disebabkan karena efek gas rumah kaca.”

“Efek gas rumah kaca, perubahan iklim, sawah, …, ????***.”” Jono tampak bingung. Tangannya menjawil Sodik yang sedari tadi diam.

“Ngomong, dik. Jangan kau biarkan aku sendiri dalam kebingungan.”

“Ya, Saya ikut ngomong. Apa hubungannya dengan kita, pak?” Sodik pendek bertanya.

“Ambil nafas dulu.” Pak Ical tersenyum.

Sampit, Kalteng. 4/7/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *