Oleh: Moh. Anis Romzi

Hujan ternyata semakin sering di bulan Juni dan Juli. Kalau dulu dalam puisi Sapardi Djoko Damono ‘Hujan di Bulan Juni’ menjadi sesuatu yang unik karena tidak lazim, sekarang tidak berlaku lagi. Kata orang-orang tua yang agak pinter perubahan iklim katanya. Begitulah JonSo mendengar dari selentingan obrolan para orang tua di kampungnya.

Beberapa hari yang lalu di sawah kampung JonSo ada beberapa orang berseragam berkumpul di tengah sawah. Sebagian seperti orang ‘asing’ bagi JonSo. Balutan seragam di tubuh mereka menandakan mereka seperti orang terpelajar. Siapa gerangan mereka ini? JonSo bertanya dalam hati.

Rompi berwarna biru tua seolah ingin menunjukkan bahwa mereka berbeda. Sebagian kecil dari mereka JonSo mengenal sebagai petugas penyuluh pertanian di desanya. Sedangkan yang lain embuh. Mereka memasang sebuah alat berbentuk kotak berwarna putih. Kotak harta Karun? Mungkin.

“Kita lapor pada Pak Ical saja. Ini misterius.”Jono tergopoh-gopoh mengajak Sodik.

“Sebentar, tenang dulu, Jon. Kita amati bersama lebih lama dulu. Kalau ada yang mencurigakan, baru kita lapor.” Sodik berlagak seperti Detective Conan.

JonSo mengendap-endap melihat orang-orang berseragam biru tua itu. Mereka menghindari agar tidak terlihat dengan merunduk. Sesekali bergaya seperti orang yang sedang memancing. Agar tidak menarik perhatian. Benar-benar seperti Intel yang sedang menyamar. Setelah berlangsung agak lama Sodik menarik simpulan.

Fix, kita harus melapor pada Pak Ical.” Simpulan sementara Sodik.

“Kenapa, dik? Ada yang aneh?” Jono mengklarifikasi.

“Tidak. Ini karena memang aku tidak mengerti sama sekali apa yang mereka lakukan. He-he.”

“Dasar Sodik. Aku kira paham. Let’s go.

“Assalamualaikum, Pak.”

“Waalaikum salam. Masuk JonSo! Ada apa hari libur ke rumah bapak, atau pingin segera masuk sekolah?”

“Saya dan Sodik hendak melapor, pak. Ada yang mencurigakan di sawah. Banyak berseragam biru meletakkan alat aneh berbentuk kotak putih. Dari bentuknya seperti peti pak. Siapa tahu berbahaya pak untuk kampung kita. Orang-orang berseragam biru itu mengerubuti alat itu. Kemudian menulis-nulis yang kami tidak tahu. Itu karena kami melihatnya dari jauh. Laporan selesai, pak.” Rinci Jono memberikan laporan pandangan mata kepada Pak Ical.

Pak Ical tidak langsung menjawab. Ia menatap dua rius kepada JonSo. Pak Ical manggut-manggut. Sambil tersenyum Pak Ical menggeser tempat duduknya. Ternyata JonSo sudah mulai kritis pada keadaan. ”Kamu mengenal mereka, Jon?”

“Tidak banyak pak. Tapi beberapa saya pernah melihat mereka. Biasanya di kantor dinas pertanian di ujung kampung kita itu.”

“Lha, kamu kenapa melapor ke Bapak? Tidak langsung ke kantor pertanian?” Pak Ical membalik Jono.

“Itu dia pak, masalahnya.” Jono tersenyum.

“Masalah?” Kali ini Pak Ical yang dibuat bingung oleh JonSo.

Sampit, 3/7/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *