Oleh: Moh. Anis Romzi

“Sing sapa sabar, bakal subur.”

JonSo hari ke-3 liburan di rumah saja. Situasi liburannya semakin tidak jelas. Rencana awal hendak ke perpustakaan desa nihil. Tidak ada respon positif dari pejabat berwenang. Entah kenapa buku-buku yang seharusnya dapat menjadi konsumsi jiwa anak-anak desa seperti JonSo disimpan saja. Tidak publikasi dan itikad untuk memberdayakan si perpustakaan itu.

Masih dalam kebingungan mengisi liburan. Suasana hati mereka tidak keruan. Tiba-tiba Jono teringat tentang pesan Pak Ical tentang saling berwasiat dalam dalam kebenaran dan kesabaran. Keduanya kali sedang dibingungkan dengan si sabar. Liburan dalam kebingungan disuruh sabar. Terus piye?

“Kita hanya bisa menonton saja ya, dik. Banyak orang di luar sana saat sedang sibuk. Bahkan tidak sedikit pula yang kebingungan. Bedanya adalah kita bingung mengisi liburan, Sedangkan mereka yang di luar sana pusing menyelesaikan wabah.”

“Inilah masanya yang sebenarnya kita menghadapi ujian. Ada yang memaknai musibah itu sebagai ujian, pun ada yang berkeyakinan ini sebagai hukuman. Kalau aku Jon, saat-saat seperti inilah kita bisa bersyukur diberikan kesehatan. Berita di televisi hampir semua melaporkan rumah sakit khusus covid-19 sudah penuh. Andai aku menjadi mereka yang terpapar entah kuat apa tidak?” Sodik merenung.

“Inilah waktunya menguatkan keyakinan dan kesabaran. Kalau aku yang terkena dampak wabah ini, mungkin akan sangat emosional. Menurut kamu, dik. Bagaimana seharusnya kita bersikap pada kondisi yang seperti ini?”

“Hidup tetap harus berjalan dan bermanfaat. Itu prinsipnya. Ada keuntungan bagi orang sabar dalam hidupnya. Ini adalah keajaiban orang beriman. Ia bersyukur saat mendapat nikmat dan bersabar saat menghadapi musibah.”

“Taoi apa iya bisa sabar terus. Kesabaran itu ada batasnya lho!” Jono kontra Sodik.

“Kita, manusia yang terbatas, Jon. Atau kalau tidak ingin dikatakan membatasi kesabaran. Karena tiap isi kepala manusia tidak sama, maka batasan kesabarannya pun berbeda pula.”

“Ah, itu mah teori saja. Praktiknya?” Jono belum bisa mempercayai ucapan Sodik.

“Masih lumayan Jon, kalau ada teorinya. Soal praktik akan lebih mudah apabila memiliki landasan teori yang kuat. Teori yang benar adalah sumber keyakinan yang kuat, Jon.” Sodik masih keukueh.

Dari bingung Mengisi waktu liburan, akhirnya JonSo terbawa juga pada situasi bangsa dan dunia yang sedang dirundung wabah. Sodik mengisyaratkan untuk tetap yakin dan sabar. Wabah itu ada, namun bukan untuk ditakuti. Namun harus ditaklukkan. Kalau tidak bisa ya berdamai saja dengan wabahnya. Begitu aja kok repot.

“Intinya apa dik untuk kita ambil sebagai pelajaran?” Jono hendak menarik simpulan.

“Syukur dan sabar tanpa harus membatasi. Kita harus memiliki keyakinan untuk dapat keluar dari krisis ini, Jon. Tuhan memberikan ujian sekaligus jawabannya. Jadi tetap tenang, sambil menyelesaikan masalahnya.”

“Sabar terus, memang bisa?” Jono tidak begitu yakin.

Singam Raya, Katingan, Kalteng. 30/6/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *