Oleh: Moh. Anis Romzi

Di baris awan berarak melata

Putih kemerahan mengantar sang Surya ke tempat bertata

Setinggi asa di dalam dada

Cita-cita mulia anak-anak desa membahana

JonSo duduk di tepi sawah hari pertama liburannya. Keduanya masih belum menemukan aktivitas bermakna. Dari pagi hingga siang tadi bermain dengan kawan-kawan. Ada kesenangan ketika itu. Namun saat senja menghadap keduanya memandangi tanaman padi orang tuanya. Gelisah kembali melanda, akankah panen kali ini berhasil?

“Aku lelah, dik. Setelah setengah hari lebih tadi bermain. Kayaknya aku perlu tenang sebentar ini.” Jono membuka suara.

Sodik bergeming. Ia masih asyik menatap tanaman padi di depannya. Beberapa bagian terlihat botak. Sepertinya terserang hama tikus. Sodik menarik napas dalam, namun masih tidak bersuara. Jika sudah begini bayangan kegagalan menghantui.” Ah, nasib kami, kalau ini nanti gagal panen lagi._”

“Sekarang musimnya tidak menentu ya, Jon? Bulan Juni tiba-tiba hujan tiap hari di tempat kita.” Sodik bersuara kali ini.

Jono merasa ada ketidaknyambungan dialog antara dia dengan Sodik. Ia menatap Sodik lebih dalam. Ternyata memang Sodik tidak sedang berbicara dengannya. Sodik malah asyik melamun. Jono mengambil ranting kering dan melemparkannya ke arah Sodik.” Heh, masih muda suka nglamun. Nanti kesambet tahu rasa.”

Sodik sontak terkaget.”Jono, apa sih? Kamu bisa-bisanya sibuk membicarakan kegiatan bermain, sementara padi bapak kita sedang dalam masalah. Di mana rasamu?”

“Aku juga sedih, dik. Namun apalah dayaku ini? Daripada bersedih lebih baik dibuat main saja. Sedihnya jadi hilang.” Jono menghibur diri sebenarnya.

“Aku pikir ini nanti akan menjadi masalah. Panen gagal, kita akan terkena dampaknya juga.”

“ Mana bisa begitu, dik? Kita ini tidak berhubungan dengan tanaman padi. Masa kita diikut-ikutkan?” Jono tidak percaya.

Keduanya terus berdebat, sementara senja terus beranjak mengejar. Keduanya tidak menyadari kalau hari mulai gelap. Cahaya merah di ufuk barat semakin menyala terang. Sodik masih terdiam. Semilir angin senja menyapa keduanya. Hawa dingin mulai menusuk tulang. JonSo masih bertahan.

“Katanya Pemerintah berpihak pada para petani. Tapi buktinya tipis.” Sedikit suara Sodik keluar.

“Ah, ya tidak begitu juga, dik.” Jono kontra Sodik kali ini.

“Tidak begitu apanya. Coba kamu lihat tanaman padi bapak kita ini. Kalau panennya bagus gabahnya murah. Kalau gagal ditanggung sendiri. Di mana pemerintah hadir.” Kali ini suara Sodik meninggi.

Jono diam tidak berani bicara. Dalam hatinya dia agak setuju dengan Sodik. Bapaknya dan para petani lainnya mulai gelisah saat ini. Musim yang diduga kemarau ternyata hujan berterusan. Berdasarkan pengalaman inilah penyebab munculnya hama tikus.  Beberapa petani mengeluh kewalahan mengendalikannya. Mereka pasrah pada akhirnya.

Senja itu ada kemarahan. Merah awan laksana sulut pembesarnya.

“Ayo kita pulang. Ini sudah gelap.” Jono menarik Sodik yang belum reda amarahnya.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 28/6/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *