Oleh: Moh. Anis Romzi

Masa kanak-kanak akhir inilah yang sedang dialami JonSo. Keduanya mulai mencari perhatian dari yang lain. Selain itu ada kecenderungan mulai berkelompok juga. Mereka pilih-pilih teman di kelasnya.  Tidak semua mereka merasa cocok untuk bergaul. JonSo berkawan dengan orang-orang yang sama. Beberapa hal patut disayangkan jika memilih teman yang salah.

“ Aku itu kenapa ya dik, kalau sama Dede agak malas berteman. Masalahnya dia itu bicaranya banyak sekali. Aku jarang diberi kesempatan berbicara.”

“ Kalau aku sembarang saja, asal tidak menyakiti, baik ucapan maupun perbuatan. Banyak kawan kita kalau berbicara asal bunyi. Juga tidak jarang perbuatannya  semaunya sendiri.”

JonSo memang dua sekawan dengan keterbelakangan intelektual. Mereka sering kesulitan beradaptasi dengan lingkungannya. Termasuk dalam hal mencari dan mendapatkan teman. Di saat harus bekerja secara kelompok keduanya enggan. Kawan-kawannya berpikir bahwa JonSo berkontribusi minim dalam kelompok.

Dalam pengamatan kelas pun demikian. Sodik terlihat sulit berinteraksi dengan kawan-kawan.  Namun dia memiliki semangat untuk belajar secara mandiri. Walaupun hasil dari uji pengetahuan belum cukup menggembirakan. Para pendidik di sekolah JonSo sedang berjibaku menemukan potensi positif untuk dikembangkan. Target minimal tingkat pengetahuan adalah kemampuan literasi membaca.

“ Aku maunya kalau dalam belajar itu dibimbing dari dekat sebenarnya. Tapi, apa mungkin? Kawan-kawan kita banyak. Masa kita minta diistimewakan?” Jono menggumam kepada Sodik.

“ Aku setuju hal itu, Jon. Terkadang aku melihat guru-guru kita ini hanya memperhatikan yang pintar-pintar saja. Kita sering diabaikan. Apakah kita ini hanya pelengkap saja di sekolah?” Sodik pun merasakan keresahan yang sama.

“ Tapi tidak semua guru kan, dik? Ada beberapa guru yang masih perhatian kepada kita.” Jono sedikit tidak sepakat dengan Sodik.

“ Mana, Jon? Aku kira semua sama guru-guru itu.” Sodik masih kukuh pada keyakinannya.

“ Apakah kamu tidak menyadari kalau kita diistimewakan di sekolah kita ini? Kita berdua memang tidak diistimewakan di kelas, tapi di tempat lain ada. Bukankah kita dibina secara khusus untuk mengejar ketertinggalan kita dalam hal membaca. Bagaimana?” Jono mengetuk perasaan Sodik.

“ Oh, iya kamu betul, Jon? Aku baru menyadari setelah kamu ingatkan. Kemarin kita dipanggil untuk dibina secara khusus. Aku kemarin diminta membaca satu paragraf. Bu Yati mencatat waktu yang aku habiskan dalam membaca.” Sodik mulai terbuka.

“ Syukur kalau kamu sudah mulai sadar. Artinya ini adalah kesempatan bagi kita untuk menundukkan hal baik yang kita miliki untuk sekolah kita ini. Kamu senang apa tidak sekolah kita yang sekarang ini?”

“ Masih biasa, Jon. Tetapi cukuplah. Walaupun aku kesulitan mengikuti pelajaran, namun bapak dan ibu gurunya sabar.”

“ Kalau begitu yang penting kita belajar. Kalaupun kawan-kawan membully kita, harus dihadapi.” Jono bersemangat.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 25/6/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *