Oleh: Moh. Anis Romzi

“ Kamu berapa mata pelajaran yang tuntas, dik?”

“ Hanya satu, Jon. Pelajaran agama. Sisanya di bawah KKM. Aku sekarang hanya menunggu tugas untuk melakukan perbaikan. Kalau ada. Kalau kamu berapa?” Sodik balik bertanya kepada Jono.

Waktu jeda penyerahan hasil belajar adalah waktu kritis bagi JonSo. Biasanya mereka lebih sibuk daripada kawannya yang lain. Satu-persatu hasil ulangan dibagikan, hampir semua di bawah standar.  Hasil uji pengetahuan keduanya memperlihatkan kemampuan kognitif keduanya harus diasah lebih mendalam. Bapak dan ibu gurunya akan menjadikan ini sebagai data perbaikan. Langkah-langkah apa yang akan diambil untuk melakukan pembinaan kepada keduanya.

Sebenarnya JonSo tidak sendirian. Masih ada beberapa kawannya yang lain yang kemampuan kognitifnya belum mencapai batas minimal. Maka dalam dua sampai tiga hari menjelang penyerahan hasil belajar adalah hari-hari tersibuk bagi mereka. Tidak sedikit dari mereka yang harus menangis untuk memenuhi tugas perbaikan tersebut.

“ Sama denganmu, dik. Hampir semua aku harus perbaikan. Satu hal yang sulit adalah tugas mata pelajaran Bahasa Inggris. Bagaimana tidak, sama Bu Yani aku diminta mengerjakan ulang. Lha soal yang kemarin aku tidak mengerti semua.” Jono terlihat putus asa.

“ Tapi kita boleh membuka buku, Jon. Ini berarti lebih mudah. Kita hanya perlu mengurangi tidur dan menjawab soalnya.” Sodik mencoba menyemangati Jono.

“ Tetap sulit. Lha huruf, bunyi dan artinya tidak sama dengan bahasa kita. Kalau yang lain masih bisa dikira-kira. Ini nanti pasti hitung kancing. Tipis harapannya, dik.” Jono masih sulit untuk move on.

“ Kita tanya pada yang pintar, Jon.” Sodik masih berusaha memberi solusi.

“ Memang siapa, mbahmu bisa?” Jono masih saja dongkol.

“ Kamu ini bercanda, memang mbahmu bisa?” Sodik sedikit terpancing.

“ Kita tanya sama Yuli saja. Dia kemarin tuntas hasil ulangannya. Siapa tahu dia bisa membantu.” Alternatif penyelesaian Sodik semakin mengerucut pada seorang figur di kelasnya.

“ Apakah kamu yakin dia mau membantu kita?” Jono masih skeptis.

“ Begini, Jon. Yang aku tahu bahwa tidak semua pintar dan bisa dalam segala hal. Kita bantu dia menutupi kekurangannya dulu.”

“Aku tidak paham maksudmu?”

“ Kamu tahu, Jon. Kalau selain perbaikan ada tugas yang lain untuk semua murid. Nah, tugas itu berat kalau untuk anak perempuan. Kita diminta mengumpulkan satu karung sekam padi. Nah, kita tawari dia untuk dicarikan. Bagaimana ideku?”

“ Ehm. Masuk akal, dik. Kalau anak lain idenya sama seperti kita? Menawari Yulia untuk dicarikan sekam padi.”

“ Kita harus bergerak cepat. Paham!”

“ Siap, Ndan!” Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 22/6/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *