Oleh: Moh. Anis Romzi

Pagi ini cerah sekali. Matahari bersinar terang tetapi tidak panas. Pak Ical sudah bersiap sejak pagi di depan gerbang sekolah. Tugas ‘wajib’ baginya karena jarang yang rela mengganti. Banyak menghabiskan waktu kata pendidik lain ketika diberi giliran jaga. Beberapa yang lain mengeluh Terlalu pagi, urusan rumah tangga belum kelar. Ahh, waktu menjadi kambing hitam lagi.

Peserta didik terpagi hari ini yang datang, Indri. Peserta didik putri dari kampung sebelah JonSo. Pengamatan Pak Ical anak ini selalu datang dalam kelompok terpagi. Walaupun kampungnya agak jauh ia telah berupaya keras menjaga disiplin waktu. Indri kawan sekelas JonSo yang pendiam dan jarang berbicara, namun tekun.

“ Jalannya tidak becek, Indri?” Tanya Pak Ical. Tadi malam ada hujan, deras namun sebentar.

“ Saya mengambil jalan lain, Pak. Saya memutar menuju jalan aspal baru. Agak jauh, tetapi lebih cepat. Tapi harus berkorban bahan bakar lebih banyak.”

Hari ini adalah waktu jeda menunggu penyerahan laporan hasil belajar. Beberapa pendidik akan sibuk menyiapkan laporan hasil penilaian. Saat-saat seperti ini adalah waktu yang kritis. Khususnya bagi penanggung jawab satuan pendidikan, seperti Pak Ical. Banyak aktivitas peserta didik yang tidak terpantau karena jumlah GTK yang terbatas di sekolah JonSo.

Setelah tiga puluh menit berlalu, dan lonceng penguatan pendidikan karakter telah berbunyi. Rombongan terlambat JonSo tiba. Pak Ical yang dari tadi menunggu sudah hafal.

“ Tadi Jono Pak, yang menyebabkan kami terlambat. ”Banu memberi informasi tanpa diminta. Dari gelagatnya dia tidak jujur. Banu seperti menjadi penguasa dalam rombongan itu. Jono yang menjadi landasan alasan kesalahan keterlambatan tidak membantah. Ia hanya tersenyum seperti menyembunyikan sesuatu. Kena suap mungkin.

Sementara itu sudah menunggu di depan gerbang Arif, kawan Banu sekelas. Pak Ical telah memprediksi kalau Banu, Jono dan kawan-kawannya akan terlambat. Pak Ical menginterogasi Arif lebih dahulu sebelum rombongan Jono datang.

“ Kamu akrab dengan Banu, Rif?” Tanya Pak Ical sebagai pembukaan.

“ Biasa pak, kadang-kadang.” Jawab Arif pendek. Tampaknya ia menyadari kalau akan sedang diinterogasi.

“Bapak melihat kamu sering jalan bersama saat jam istirahat. Apakah itu bukan tanda?”

“ Hah, iyakah, pak?” Kali ini Arif kaget. Ia tidak menyangka kalau selama ini Pak Ical memperhatikan gerak-geriknya di sekolah. Arif adalah anak piatu yang baru saja ditinggal ibunya. Ayahnya sudah berpisah sebelum ibunya meninggal. Kabar burung ayahnya meninggalkan ibunya karena sakit-sakitan. Arif dirawat oleh kakek dan neneknya.

“ Hari ini kita tidak belajar kan pak?” Banu percaya diri bertanya. Walaupun melanggar ke-sekian kalinya ia seperti tidak merasa bersalah.

“ Ada, kamu berdiri dulu. Baca surah at-Thin!” perintah Pak Ical

“ Aduh, saya belum hafal.”

“ Kalau begitu, kamu berdiri lebih lama!”

Banu tengak-tengok mencari dukungan kawan-kawannya. Mereka terdiam melihat Banu yang salah tingkah.

Jaya Makmur, Katingan , Kalteng. 21/6/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *