Oleh: Moh. Anis Romzi

Hamparan persawahan membentang di desa JonSo. Saat ini  masa mendekati musim panen. Seluruh petani harap-harap cemas akan hasil panen nanti. Biasanya akan selesai pada setiap bulan September. Jika para pembaca berkunjung pada bulan-bulan ini maka akan melihat pemandangan menghijau bak tanah lapang pertandingan sepak bola

“ Andai kamu boleh memilih dik, lebih enak mana, menjadi anak desa atau anak kota?”

“ Aku lebih memilih menjadi anak desa, Jon. Di desa itu tenang. Kita bebas  bermain, kawannya tidak pilih-pilih. Kita bisa bersahabat dengan alam. Dan yang terpenting di desa itu udaranya sejuk.”

“ Tapi kalau di kota semua ada, dik.”

“ Ada, tetapi semua harus pakai uang. Jika tidak ada alat ini kita akan kesulitan untuk beradaptasi di kota, Jon.”

“ Terus apa menurutmu kota lebih buruk dari desa?”

“ Tidak selalu begitu, Jon. Segala sesuatu pasti ada kelebihan dan kekurangannya. Hanya sudut pandang yang kita pakai untuk melihatnya.”

“ Maksudmu? aku kok menjadi bingung.”

“ Enak dan tidak itu masalah rasa. Ia bergantung kepada yang merasakannya. Ini lebih bersifat pribadi. Jadi kalau kamu bertanya apakah itu enak, jawabannya hanya dua. Ya dan tidak.”

JonSo kali mencoba membandingkan kehidupan antara di kota dan di desa. Keduanya adalah anak desa yang jarang, bahkan belum pernah melihat kota secara langsung. Keduanya hanya bisa melihat kota lewat buku, televisi, atau media sosial. Bagi mereka kota saat ini masih imajinatif. Namun, tidak bisa dipungkiri terkadang ada rasa bagi keduanya ingin melihat keramaian kota. Seperti yang tertulis di buku-buku perpustakaan atau tayangan televisi yang mereka lihat.

“ Bagiku kota atau desa itu adalah sebuah tempat, Jon. Namun tidak sekadar tempat semata. Keduanya ada sisi-sisi yang mungkin tidak tertangkap mata. Ada sisi sosial, ekonomi, budaya, agama, dan politik. Kalau menurutku sisi-sisi yang aku sebutkan tadi, di kota lebih rumit.

“ Rumit? Maka di kota serba ada. Kegiatan ekonomi bermacam-macam. Kita bisa mendapatkan layanan barang dan jasa jauh lebih mudah. Kamu bilang rumit.”

“ Maknanya rumit, kalau diurai kegiatan ekonomi yang kamu maksudkan jauh lebih panjang. Itu jika dibandingkan dengan kehidupan kita di desa. Karena banyak kegiatan ekonomi yang dilakukan, kemudian berbeda-beda, tampaknya orang-orang kota lupa dengan sekitarnya.”

“ Analisamu yang rumit ini, dik. Semakin membingungkan.”

“ Coba lihat kalau di tempat kita di desa. Ragam pekerjaan mungkin tidak lebih dari sepuluh. Itupun paling banyaknya pada bidang pertanian, perdagangan, dan sedikit jasa. Lha kalau di kota, bisa puluhan atau bahkan ratusan.”

“ Terus kita nanti, bagaimana????” Jono berpikir keras.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 19/6/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *