Oleh: Moh. Anis Romzi

“ Tadi malam saya jaga di sawah, pak. Saya menjaga burung.”

“ Jadi karena itu kamu terlambat, Har.” Pak Ical menginterogasi kawan JonSo yang terlambat di depan gerbang sekolah.

“ Memang sampai jam berapa jaganya, hingga bangunnya kesiangan?”

“ Sampai jam 09.00, pak.”

Hari kawan JonSo hari ini terlambat datang ke sekolah. Ini adalah hal tidak biasa baginya. Waktu-waktu sebelumnya dia selalu hadir ke sekolah sebelum gerbang ditutup. Pak Ical mencoba mencari alasan yang masuk akal kenapa Hari terlambat pagi ini. Hari kawan JonSo dengan badan kecil, namun kemampuan bekerja di sawah setara orang dewasa.

“ Jam 09.00 malam itu masih sore bukan, Har? Terus apa tidak langsung tidur ketika sampai di rumah?”

“ Saya tidak bisa tidur, pak.”

Sementara itu rombongan Jono kembali berdiri di depan gerbang sekolah. Hanya karena menunggu Banu, semuanya menjadi terlambat. Terkecuali Sodik, dia mencari jalan sendiri. Ia sudah bergabung dengan kawannya yang lain di Musala.

“ Memang apa yang kamu pikirkan, Har? Hingga tidak bisa tidur. Apakah tanaman bapakmu bermasalah?”

“ Tidak ada pak. Saya sama bapak di sawah minum kopi tadi malam. Sampai di rumah jadi tidak bisa tidur.”

Hari adalah kawan JonSo yang tergolong unik. Hampir mirip seperti JonSo, ia juga memiliki sisi intelektual yang kurang. Kemampuan literasi di bawah rata-rata kawannya. Namun ia memiliki kemampuan bekerja layaknya orang dewasa. Ia mampu mengoperasikan traktor tangan dan membajak sawah untuk menanam padi. Orangtuanya berani melepas Hari menyiapkan lahan sendiri. Sungguh tidak lazim untuk anak-anak generasi gawai sekarang ini.

“ Kala tidak bisa tidur apa yang kamu lakukan?”

“ Besok pelajarannya matematika, pak. Saya tidak bisa tidur. Saya bisa atau tidak.”

“ Ada apa dengan matematika, Har?”

“ Saya banyak yang tidak paham, pak. Diulang-ulang penjelasannya masih belum paham juga. Kalau saya tidak naik bagaimana nanti?”

“ Apakah itu yang membuat kamu tidak bisa tidur?”

Pak Ical memang akrab dengan anak didiknya. Apalagi bagi mereka yang sering terlambat. Itu karena  setiap hari berjaga di depan gerbang sekolah. Usianya sudah hampir tujuh tahun. Gerbang sekolah itu setia menjadi saksi lalu lalang peserta didik menggapai cita-cita mereka.

“ Bukan, pak.”

“Lantas?”

“ Bapak mengajak ngobrol terus. Saya hendak tidur tidak enak, pak.”

“ Bahan obrolannya apa, Har? Soal pelajaran di sekolah?” Pak Ical terus mengejar.

“ Bukan, pak. Paling banyak ya soal padi di sawah bapak. Apakah nanti berhasil baik panennya.”

“ Atau karena kopi, kamu tidak bisa tidur, bukan ngobrolnya?”

“ mungkin saja, pak. Tapi saya sedikit kok minumnya.”

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 18/6/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *