JonSo (8) Literasi, Numerasi, Oh My God!

Oleh: Moh. Anis Romzi

“Kamu dengar kemarin Bu Sari menjelaskan tentang literasi, Dik?” Jono membuka percakapan saat hendak berangkat bersama ke sekolah.

“ Mendengarkan, tapi aku tidak mengerti, Jon. Kalau kamu mengerti?” Sodik menjawab sekenanya.

“Sama. Yang aku tahu itu terasi, bumbu sambal makku di rumah, he … he …,” Jono nyengir.

“Tampaknya kita nanti harus mencari tahu. Kalau mendengarkan Bu Sari kemarin, sepertinya itu hal yang sangat penting,” jelas Sodik singkat.

“ Setuju! Kalau tidak penting untuk apa Bu Sari menyampaikan di kelas?” ulang Jono mengikuti kata-kata Sodik. Dia juga pingin tahu apa itu literasi.

Pagi yang lumayan cerah, menemani Jono dan Sodik melangkahkan kakinya yang terbalut sepatu agak butut namun masuh patut dipakai. Hari ini ada pelajaran Bu Sari, yang tempo hari membuat Jono dan Sodik kepo berat. Pagi ini pun dalam obrolan menuju ke sekolah, tema literasi yang bikin kepo kembali mencuat.

“ Ehh … Dik. Kira-kira nantinya apa yang bisa kita buat dengan si literasi ini? Adakah gunanya untuk kita?” tanya Jono meminta kepastian.

“ Aku tidak tahu juga, yang penting kita dengarkan Bu Sari menjelaskan. Paham atau tidak pokoknya kita datang ke sekolah,” jawab Sodik  yang juga masih belum mengerti.

Suara lembut namun tegas memenuhi ruang kelas yang hening tanpa kata, hanya tatapan mata lugu penuh harap akan limpahan ilmu.

“Anak-anak, literasi secara umum adalah kemampuan membaca dan menulis. Itu setidaknya  pengertian menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, orang bilang KBBI. Selain itu literasi juga bermakna kemampuan individu untuk mengolah informasi dan pengetahuan untuk kecakapan hidup,” Bu Sari menyampaikan kembali pengertian literasi sebagai pembuka pelajaran yang beliau sampaikan.

Lanjut beliau, “ Pada saat kalian nanti di kelas 8, Penguasaan kemampuan pada literasi ini akan di ukur. Negara berharap bahwa ketika kemampuan literasi dasar akan diketahui melalui pengukuran ini, maka kalian bisa meningkatkan kemampuan literasi yang dimiliki sehingga bisa bersaing dengan negara-negara maju lainnya”

JonSo dan kawan-kawan masih terdiam. Wajah-wajah mereka masih antusias untuk memahami makna literasi

“Pada pembelajaran tentang kompetensi literasi ini, kalian akan disuguhkan dua jenis teks. Pertama adalah fiksi dan kedua teks informasi. Bagaimana kalian mampu mencari informasi rinci, seperti siapa, kapan, di mana, bagaimana. Pada bagian akhir kalian akan diminta untuk mengevaluasi dan merefleksi dua jenis teks di atas. Bagaimana apakah bisa dipahami?” tanya Bu Sari.

Seluruh siswa di kelas JonSo masih tercekam hening. Mereka tidak menjawab ya atau tidak. Banyak di antara mereka merasa kebingungan dengan penjelasan Bu Sari. Menyadari itu Bu Sari berhenti menjelaskan. Kembali ia mengamati satu persatu siswanya di kelas JonSo.

“Memang ada manfaatnya Bu mempelajari dua jenis teks di yang Ibu sebutkan di atas?” Santi memberanikan diri bertanya. Sementara JonSo tetap bergeming.

“Pertanyaan yang bagus Santi. Dalam hidup kita akan bertemu ragam teks. Penilaian minimal untuk jenjang SMP nantinya hanya pada dua jenis di atas. Apakah ada manfaatnya? Tentu, bahwa dengan kemampuan literasi diharapkan kalian dapat mengolahnya menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk diri dan lingkungan. Selanjutnya dengan kemampuan mengolah informasi ini dapat memberikan kontribusi positif pada negara, bahkan dunia.”

JonSo masih bergeming. Keduanya masih belum mudeng.

“ Terus kita harus bagaimana Bu nantinya untuk menyambut literasi ini?” Jono memberanikan diri bertanya.

“Membaca menjadi perilaku yang sangat penting berkaitan dengan literasi ini, Jono. Bukan hanya sekadar melafalkan, tetapi mampu memahami. Banyak membaca akan memberikan banyak pengetahuan. Nah dari dasar pengetahuan dan keterampilan inilah manusia bertindak.”

“Oh, Tuhan, literasi kok menyulitkanku,” Sodik nyeletuk. Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 5/4/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *