banner 728x250

JonSo (64) Tidak Datang Lagi

banner 120x600
banner 468x60

Oleh: Moh. Anis Romzi

Pengumuman telah disampaikan Pak Andi. Namun hari ini beberapa siswa terlihat belum hadir. Sodik termasuk salah satunya. Mungkin saja karena ia tidak punya gawai, jadi lambat menerima informasi. Jono pun telat datangnya. Ia belakangan datang sama Banu dan Dani. Dua saudara sepupu sewatak. Rajin telat dan bolos.

banner 325x300

“ Aduh Jono, kenapa terlambat lagi datangnya?” Pak Ical sudah menunggu di depan gerbang.

“ Itu pak, menunggu Banu tadi. Dia tidak datang-datang.” Jawab Jono agak ketakutan.

“ Banu, apa alasanmu?” Tanya Pak Ical pendek. Pak Ical seperti sudah tahu jawaban Banu apa.

“ Saya tidak tahu pak, kalau hari ini masuk. Saya tadi baru tahu saat Rani berangkat pakai seragam. Saya belum mandi.” Banu panjang menjelaskan.

Sedikit masuk akal jawaban Banu. Hari ini adalah hari pertama pembelajaran tatap muka. Sudah empat Minggu sejak bulan puasa kemarin mereka libur, kemudian dilanjutkan belajar dari rumah selama dua Minggu. Sekolah JonSo sudah menjadi zona hijau kembali. Artinya diperbolehkan melaksanakan tatap muka terbatas.

“ Memang apa yang ada di benak kalian, Jono, Dani, Banu? Langganan terlambat kok bersama-sama. Ini konspirasi tidak baik.” Pak Ical mulai berceramah.

Ketiganya tertunduk menunggu lontaran kata demi kata Pak Ical. Mereka diam, namun mendengarkan atau tidak itulah masalahnya. Jono sudah gelisah. Ia sadar pasti akan mendapat sanksi setelah ini. Ia berdiri, namun badannya bergoyang ke kanan dan ke kiri.

“ Jono, kamu membaca Woiki.” Perintah Pak Ical

Benar dugaan Jono. Dia yang akan terkena jatah sanksi atas keterlambatan berjamaah ini. Nasib, Jono bergumam.

“ Aduh saya tidak bisa pak.” Jono semakin takut. Badannya semakin tidak tenang berdiri.

Seluruh siswa yang lain telah berada di dalam Musala sejak 15 menit yang lalu. Tiga serangkai ini terlambat cukup lama untuk tradisi sekolah JonSo.

“Dani gantikan Jono!” Seketika tugas membaca Woiki beralih. Sebenarnya Pak Ical tahu kalau Jono akan menolak. Jono memang tidak percaya diri kalau diminta membaca nyaring. Itu karena kekurangan intelektualitas. Namun patut diacungi jempol. Jono tidak berputus asa untuk terus belajar.

“ Ini dibaca nomor satu sampai tiga belas pak?” Dani tidak yakin dengan instruksi Pak Ical.

“ Ya, sambil menunggu kawan-kawanmu selesai di Musala. Kita membaca Woiki ini.” Pak Ical mempertegas instruksi kepada Dani.

“ Banu saja pak. Saya sudah pernah.” Dani berusaha menawar.

“ Heh, aku ini baru di sini. Jadi belum tahu.” Banu ringan beralasan. Belum ada hal positif yang terlihat dari Banu. Walaupun katanya ia pindahan dari kota. Para pendidik di sekolah JonSo sedang mencari potensi yang dimilikinya. Tetapi masih nihil. Malah sebaliknya yang terlihat.

“ Kesuksesan itu dekat kepada, yang senantiasa berusaha.” Kata bijak pertama keluar dari mulut Dani. Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 31/5/2021

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *