Oleh: Moh. Anis Romzi

“Katanya kita sekarang tidak perlu lagi mencari sinyal di sawah. Sinyalnya sudah bisa masuk rumah dik.” Satu Sore Jono memberitahu.

“Memang iya? Berarti sawah-sawah kita menjadi sepi. Kita tidak bisa bertemu lagi di sawah.” Sodik malah tidak suka dengan pemberitahuan Jono.

“Jon, bagaimana ceritanya sinyal yang kemarin di sawah sekarang bisa masuk rumah-rumah kita? Apa bapakmu mengundangnya?” Ahh. Sodik masih belum paham juga.

“Aku ya tidak tahu juga, dik. Kata Pak Lik saya sih antena di ujung kampung kita sudah menyala. Itu yang menyuruh sinyal internet masuk rumah.

“ Kamu tahu tidak antena di ujung kampung itu? Kalau malam ada lampunya kelap-kelip di atas kaya bintang?” Jono berusaha meyakinkan Sodik.

“Tidak tahu. Kalau malam aku jarang keluar Jon. Paling hanya ke Musala dekat rumah saja. Lagi pula kenapa mesti repot-repot memperhatikan antena. Bintang-bintang sungguhan pasti lebih banyak.” Sodik masih belum ngeh.

“Nah, itu dia. Kamu tidak pedulian orangnya. Karena antena itu sinyal bisa mudah masuk ke rumah. Kita tidak perlu mencarinya di tempat-tempat yang jauh dari rumah. Walaupun rumah kita kunci sinyalnya tetap bisa masuk.”

“Hah, masa iya. Hebatnya sinyal itu, kaya pencuri saja. Masuk rumah tanpa permisi. Bisa bahaya kalau begitu, Jon.” Aduh Sodik.

“Begini lho dik, Dulu kita dan kawan-kawan sekolah sering berkumpul di sawah. Semuanya mencari sinyal.” Jono menjelaskan dengan bahasanya sendiri.

“Masalahnya kalau di rumah sinyal internet di hp kawan tidak keluar. Katanya pula, kita tidak bisa melihat video, main game, atau membaca pelajaran dari bapak dan ibu guru. Itu kan sulit kalau nggak bisa main game, melihat video, dan pelajaran.” Jono terus saja berkisah perihal sinyal internet.

“ Eh, Jon. Memang sinyal itu barangnya kaya apa to? Dia bisa masuk rumah tanpa kunci. Selain itu bisa-bisanya menyuruh kita ke sawah, atau harus tinggal di rumah. Kok sakti sekali dia.” Rasa ingin tahu Sodik mulai timbul. Sedari tadi dia yang tidak peduli mulai on.

“Sinyal itu ya, aku kasih tahu. Barangnya halus, tidak terlihat, namun sebenarnya besar. Dia digerakkan oleh listrik. Kemudian didorong oleh antena di ujung kampung kita itu.” Jono yakin menjelaskan.

“Kalau sinyal itu datang enakknya untuk kita apa to Jon?” Sodik meminta kepastian.

“Ooo kamu ini. Kalau ada sinyal itu mau apa-apa jadi mudah dik. Mau nonton, mau belanja, mau pamer, mau cari makan, belajar, semua bisa.”

“oooh, begitu ya. Terus kalau mau nangkap sinyal ditaruh di mana nanti?” Sodik penasaran.

“ Aduh Sodik, ya pakai hp pintarlah. Nanti sinyal ditempatkan di sana. Terus kita buka-buka gampang banget.” Jono sudah yakin menang menjelaskan.

“ Wah, enak tenan. Eh, Jon. Berarti harus pakai hp kita bisa dapat sinyal. Kita ini kan tidak punya.” Sodik nyengir.

“Oh, iya ya. Lali  aku. Kita tidak punya hp ternyata. Bener kamu dik.” Keduanya tertawa lepas tanpa dosa. Ada sinyal tak ada hp. Haduh…!

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 2/4/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *