Oleh: Moh. Anis Romzi

“JonSo, kalau liburan sekolah, biasanya apa yang dilakukan? Apakah kalian juga liburan seperti anak-anak lain di pulau seberang?” Tanyaku iseng saat mereka memasuki gerbang sekolah tadi pagi.

Keduanya tampak kaget dengan pertanyaan spontan itu. Mereka tidak langsung menjawab. Kadang menatap, lain waktu tengak-tengok. Terlihat seperti meminta bantuan jawaban dari teman-temannya.

“ Eeeem… Kalau saya di rumah saja pak. Bantu bapak mencari rumput. Terus mainan sama kawan-kawan.” Jono duluan menjawab.

“ Belum pernah saya pergi ke kota. Paling jauh ya di  Pegatan situ pak..’

“ Memang ada apa saja di Pegatan, Jon? Kamu sering ke sana?”

“Kemarin traktor bapak saya rusak. Terus saya diajak bapak mencari alatnya di Pegatan. Jarang-jarang saya diajak. Karena pas Belajar Dari Rumah, saya ikut. Rasanya lama sekali sejak kemarin saya kesana.” Jono cukup lancar bercerita.

Sodik yang sedari tadi belum juga menjawab. Saat hendak berbicara seolah ada rasa takut. Senyuman khas tertutup dengan masker sempurna. Bila tersenyum matanya menyipit.” Anu pak, saya hanya mendengar nama kotanya saja. Tapi belum pernah ke sana. Sampit kamarnya sangat ramai.” Akhirnya menjawab juga.

“JonSo, kalian tidak ingin jalan-jalan ke kota kalau pas liburan? Melihat pembangunan, gedung-gedung, pertokoan, atau kendaraan yang lalu lalang?” Saya membujuk rasa ingin tahunya. Siapa tahu keduanya penasaran tentang lingkungan baru bagi mereka.

Sodik menggeleng duluan. Sepertinya tanda tidak setuju dengan pernyataan dan pertanyaan saya.

“Saya suka di rumah saja pak. Di sini tidak ramai. Katanya kalau di kota itu semua harus beli. Kalau di sini kan tidak pak.” Sodik terlihat tidak tertarik berbicara tentang kota.

“Kalau kamu Jon, berminat pergi ke Sampit, Palangkaraya, atau Jawa tempat Mbahmu?”

“Emmm… Sebenarnya ingin pak. Tetapi kata bapak saya kalau ke kota biayanya mahal sekali. Untuk naik klotok saja bisa beli beras 10-15 kilogram. Kalau pulang-pergi kan bisa dapat 25 kilogram beras.” Nalar hitung Jono lebih jalan ketimbang Sodik.

“Belum lagi kalau beli-beli, menginap, makan di perjalanan pasti lebih mahal lagi.” Jono yakin dengan perhitungannya. Berdasarkan cerita orang-orang yang pernah pergi ke kota perhitungan Jono tidak jauh berbeda.

Bagi JonSo, sawah, sungai, dan hutan adalah rumah mereka. Terkadang sekolah pula. Apalagi di saat pandemi seperti ini, praktis 80% waktu mereka di tiga tempat di atas. Boleh jadi  pergi ke kota adalah rekreasi besar dengan persiapan yang panjang. Biaya, waktu dan tujuan harus sangat jelas. Kalau tidak pergi ke kota hanya untuk berobat dalam keadaan darurat. Sungguh tidak menyenangkan.

Setiap ditanya apakah pernah pergi ke kota. Keduanya tidak menjawab. Sekali-sekali liburan to JonSo, biar kaya yang lain. Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 01/04/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *