Oleh: Moh. Anis Romzi

Jono masih saja ingin mendengarkan kisah nabi Yusuf sampai akhir. Hampir setiap sore Ramadan ini dia setia dengan Sodik. Tidak lain karena ia ingin tahu sampai akhir kisah nabi Yusuf. Pasti kisahnya dapat dijadikan teladan dalam kehidupan. Pun begitu dengan Sodik, walaupun terkadang sulit untuk mengingat kisah nabi Yusuf, ia tetap berusaha untuk mencari bersama yang lain.

Benar, ini sore Ramadan yang ke-20. JonSo segera bersiap menuju tempat biasa, dangau sawah orang tua Jono. Keduanya  Istikomah saling berdiskusi perihal kisah nabi Yusuf ini. Terkadang Dede juga ikut bergabung.

“Apakah kisah nabi Yusuf masih panjang, dik?” Jono membuka percakapan sore itu.

“Kalau aku lihat-lihat seperti sudah hampir habis. Nabi Yusuf diangkat jadi bendahara kerajaan. Nabi Yusuf sudah menang, dengan kebahagiaan di akhirnya “ Jono percaya diri menyimpulkan.

“Belum. Masih agak panjang.” Jawab Sodik pendek.

“Kalau belum ya lanjutkan lah!” Ternyata Jono hanya memancing Sodik. Ha-ha. Ia sudah mulai pintar dan kritis.

Sore itu masih seperti kemarin. Panasnya terik sekali. Rerata orang yang berpuasa mengeluhkan rasa haus yang sangat. Namun hembusan angin sepoi-sepoi persawahan membantu JonSo mengurangi rasa haus sore itu.

“ Saat saudara-saudara nabi Yusuf datang kepadanya. Ketika nabi Yusuf menimbangkan gandum untuk mereka, Yusuf berkata, ”Bawalah kepadaku saudaramu yang seayah dengan kamu (Bunyamin), tidakkah kamu melihat bahwa aku menyempurnakan  takaran dan aku adalah penerima tamu terbaik?”(QS. Yusuf:59)

“ Maka jika kamu tidak membawanya kepadaku, maka kamu tidak akan mendapat jatah (gandum) lagi dariku dan jangan kamu mendekati.” (QS. Yusuf;60)

Jono tenang mendengarkan Sodik bercerita. Dalam benaknya mulai bertanya-tanya, nabi Yusuf telah mulai menunjukkan sifat-sifat kenabiannya. Dia cerdas, berani menghadapi saudara-saudaranya. Walaupun mereka masih belum tahu berhadapan dengan adiknya sendiri. Jono bergumam,” memang kalau orang sudah berkuasa akan menjadi percaya dirilah, seperti nabi Yusuf?”

“Heh, Jon. Kenapa melamun. Diceritai malah melotot saja.” Sodik mengejutkan Jono.

“Eh, ya. Tidak apa-apa. Aku hanya berpikir tentang nabi Yusuf. Ia cerdas, tampan, pintar. Apakah aku bisa ya sepertinya?” Jono menutupi lamunannya.

“Terus bagaimana, dik. Apakah saudara-saudara nabi Yusuf menyanggupi untuk membawa adik mereka yang seayah?” Jono mendesak Sodik untuk melanjutkan.

“Sebentar. Nggih Monggo.” Terlihat sekelompok ibu-ibu buruh tandur berjalan pulang melewati dangau di mana JonSo sedang dudukan. Sodik basa-basi menyapa mereka dengan senyum khasnya, mata menyipit.

“ Alah, Sodik ayo lanjutkan. Keburu nanti magrib ini lho.” Jono semakin tidak sabar.

“Itu Jon, aku berpikir andaikan menjadi ibu-ibu tadi. Sampai di rumah masih harus masak untuk buka puasa.” Sodik berempati.

“Cerita, cerita, Sodik. Bukan ibu-ibu.” Jono manyun. Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 02/04/2021. 20 Ramadan 1442 H. Selamat Hari Pendidikan Nasional.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *