banner 728x250

JonSo (34) Ada Getar Cita Cinta di Musala

banner 120x600
banner 468x60

Oleh: Moh. Anis Romzi

Musala itu telah berdiri tahun 2016. JonSo tiba di SMP Jamur Pedas sudah ikut menggunakannya. Satu bangunan tempat ibadah dan belajar yang belum selesai 100%.  Ia tiang pancang kedua perjalanan cinta sekolah JonSo. Banyak orang akan menandai bangunan itu pernah ada untuk belajar meraih cinta-Nya.

banner 325x300

Bagi JonSo kapan berdirinya Musala sekolahnya tidaklah penting. Namun rasa dan nuansa belajar di Musala inilah yang akan menjadi cerita bagi keduanya. Ia terpisah dari kelas-kelas reguler. Keduanya merasa proses pembelajaran di Musala ini berbeda. Hanya di sekolah JonSo ini ada. Panji, Naba, Woiki, dan Limus. Teristimewa di hari Jum’at Duha berjamaah dan tadarus sepuluh ayat pertama Qur’an Surah al-Kahfi.

“ Ini sudah hampir satu tahun kita belajar di sini dik. Namun hanya baru dua bulan kita dapat bertatap muka. Itupun dengan sangat terbatas. Kalau kamu senang belajar dari rumah seperti sebelumnya atau tatap muka terbatas seperti ini?” Jono pagi itu saat keluar dari Musala.

“ Aku senang masuk sekolah seperti ini. Tapi aku juga agak takut, jangan-jangan bisa tertular covid-19.” Sodik memberikan pendapatnya

“ Ya sama. Tapi kita ini disuruh mematuhi protokol kesehatan bukan?” Jono meminta persetujuan.

“ Iya sih. Namun tetap saja khawatir itu ada. Banyak kasus terjadi di TV menyebutkan bahwa pandemi covid-19 ini belum ada tanda-tanda berakhir. Bahkan muncul berbagai turunan virus jenis baru.”

“Kita seharusnya bersyukur Jon, daerah kita ini sepi dan terisolasi. Jadi aktivitas manusia sangat terbatas. Jadi kita diijinkan untuj belajar tatap muka walaupun terbatas.”  Sodik tetap skeptis pada situasi yang tengah terjadi.

“ Ngomong-ngomong kamu merasa tidak, kalau sekolah kita ini berbeda? Maksudku berbeda kegiatannya dengan sekolah yang lain begitu. Khususnya saat pagi ketika kita di Musala.” Jono mengalihkan pembicaraan.

Keduanya sedang hendak keluar gerbang sekolah. Biasanya JonSo menunggu yang lain untuk berjalan beriringan pulang.

“Rasanya saat di Musala hatiku terasa dingin. Walaupun aku belum cukup bisa mengaji. Kegiatan Panji banyak memberikan aku pelajaran. Kemudian nasehat kebaikan yang disampaikan kawan-kawan. Woiki oleh bapak dan ibu guru kita. Rasanya cukup banyak nasehat setiap pagi. Hanya dalam 15 menit. Kamu merasa tidak dik?” Jono mengungkapkan perasaannya.

“Benar kamu Jon. Ditambah lagi ada buku-buku Islam baru di pojok Musala. Kemarin kita melihat para ilmuwan Muslim zaman dahulu. Itu sangat memberi inspirasi.” Sodik setuju dengan Jono.

“Sayangnya Musala sekolah kita belum 100% jadi ya dik. Tapi tidak mengapa, itu sementara cukup. Semoga cinta kita pada Musala kita membawa berkah untuk sekolah dan para donaturnya ya dik?”

Cita-cinta JonSo pada Musala sekolahnya mulai bersemi. Semoga semua juga begitu adanya. Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 1/5/2021. Hari ke- 19 Ramadan 1442 H.

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *