Oleh: Moh. Anis Romzi

“Jono,kemarin ke mana kok tidak masuk?”

“Ehm…, itu pak saya ditinggal teman-teman. Tidak ada yang jemput ke rumah.”

Pagi itu Jono terlambat datang. Seperti biasa, siapa saja yang terlambat harus ditahan di gerbang sekolah dulu. Mereka harus berbaris. Kemudian membaca ayat-ayat pendek al-Quran dan 13 kata-kata motivasi dari bapak dan ibu guru. Mereka berdiri dan melafalkan ayat-ayat itu sampai seluruh siswa yang di dalam selesai melalsanakan Panji (Pagi Mengaji).

“Memang kamu berangkat sama siapa biasanya? Kawan-kawanmu juga tidak masuk.”

“Sama Banu pak. Dia biasanya jemput saya. Tetapi kemarin saya tunggu-tunggu tidak datang-datang.”

“ Maka biasanya temanmu berangkat si Putra? Kenapa ganti temannya?” Tanyaku selidik.

Banu adalah peserta didik baru pindahan dari kota. Orangtuanya menariknya pulang karena ia merasa tidak betah tinggal di asrama. Ada beberapa catatan nilai akademik cukup pada laporan hasil belajar yang dibawanya. Selalu jika ada peserta didik baru diiring tanya di belakangnya. Apakah membawa masalah? Atau justru berkah untuk sekolah. Saya memilih yang kedua, walaupun ada keraguan.

Benar adanya, pagi itu Jono datang dengan Banu. Sementara Sodik sudah duluan datang dengan selamat. Entah dengan siapa, yang penting dia sudah masuk. Para peserta pendidik yang  datang pada 06.30 diwajibkan mengikuti penguatan karakter relijius di Musala, bagi yang muslim.

“Banu, kenapa kamu terlambat? Dan kemarin tidak masuk berombongan dengan Jono.” Aku berondong siswa baru ini dengan pertanyaan beruntun.

“Eee…, Anu pak, motornya tadi pagi untuk mengantar makanan di sawah.” Jawab Banu dengan gugup. Terlihat matanya melirik kanan dan kiri. Rasanya seperti ada yang ditutupi.

“Terus hari sebelumnya, kamu, dan juga Jono tidak terlihat datang ke sekolah. Alasanmu? Apakah motornya juga dibawa ke sawah untuk mengantar ransum?” Aku mulai kurang percaya dengan keterangan Banu.

Tampak Jono kelihatan salah tingkah ketika Saya mencecar Banu dengan pertanyaan-pertanyaan lanjutan. Banu adalah kawan baru baginya. Baru satu Minggu ini ia bergabung dengan kawan-kawannya di kelas 8. Saat pertama datang penampilannya pun terkesan tidak sopan untuk ukuran pelajar di sekolah barunya. Anak desa yang datang dari kota.

“Ohh… Kalau yang kemarin saya kesiangan bangunannya pak. Saya harus membantu panen orangtua sampai sore kemarin. Jadinya saya bangun telat. Mau berangkat takut nanti dihukum.” Banu terlihat menjawab sekenanya.

“Jono, Banu. Apakah di rumahmu tidak ada jam dinding? Apakah bapak dan ibumu tidak membangunkan kalian saat harus berangkat ke sekolah?” Saya mulai meninggikan suara. Keduanya terlihat menunduk untuk menghindari tatatapan saya.

“ Saya berharap ini adalah keterlambatan yang terakhir. Bapak menjaga gerbang sekolah ini untuk memastikan siapa saja yang biasa terlambat. Bapak hafal satu persatu siswa yang biasa datang belakangan. Kalian berdua ini yang kedua kalinya, setelah kemarin tidak datang karena alasan yang tidak masuk akal. Besok tidak terlambat lagi, Jono, Banu. Apakah bisa dipahami yang bapak katakan?”

Jono, Banu mengangguk sambil tetap menunduk. Jono memilih teman baru yang membawanya dalam masalah di sekolah. Ikut yang baru belum tentu menyelamatkan Jono.

Sampit,30/3/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *