JonSo (17) Puasa Orang Kebanyakan

Oleh: Moh. Anis Romzi

“ Jon, kamu puasakan tadi? Bukanya pakai apa?” Tanya Sodik saat mereka bertemu ketika hendak salat tarawih di musala yang sama.

“ Ya, iyalah. Jono kok tidak Puasa. Malu dong.” Jono percaya diri kalau di depan Sodik. Keduanya seperti surat dan materei tanda tangan di atasnya, lengket.

“Puasa pertama hari ini, panas sekali harinya. Ada mendung sebentar tadi, tetapi tidak jadi hujan. Haus terus dik bawaannya.” Jono terus saja bicara tanpa diminta.

“Ya, memang panas Jon. Tapi aku tadi tidak nanya harinya. Kamu buka puasanya pakai apa?” Sodik agak jengkel.

“He..he iya. Sorry bro. Begitu saja sewot. Ini lagi puasa ingat!” Jono menggoda Sodik.

Sodik agak nggondok, tapi ia bisa mengendalikan diri. Raut mukanya tidak berbeda antara marah dan senang. Ia tetap bisa tersenyum walaupun lagi dongkol. Jono tahu persis kapan sodik marah atau tidak.

“ Dasar kamu Jon. Eh ya, Ngomong-ngomong menurutmu puasa kita tadi bagaimana ya Jon? Berhasil atau tidak?”

“Ya, baik-baik saja lah dik puasa kita. Asal kita tidak makan dan minum dari subuh sampai dengan azan magrib.” Jono memang percaya diri sekarang ini. Ia terlihat yakin dan santai menanggapi pertanyaan Sodik.

“ Yaitu masalahnya Jon. Apakah puasa kita cukup hanya dengan tidak makan dan minum di siang hari saja. Rasanya kita sudah hampir lima kali puasa. Itu-itu saja yang kita lakukan. Apa ada yang lain Jon? Selain itu. Coba pikir lagi.”

“Malas ah aku memikirnya. Kalau pas musim menggarap sawah begini bisa tahan tidak makan dan minum itu sudah bagus. Sedangkan yang lain saja belum tentu puasa. “

“Hush.! Yang lain biar saja Jon. Kita tidak tahu yang mereka rasakan saat puasa sambil menggarap sawah misalnya. Coba bayangkan para bapak kita, dari pagi membajak di bawah terik matahari. Mesin traktor tangan juga berat. Jika tidak puasa wajar.”

“Wajar? Bagaimana mungkin wajar. Sebuah kewajiban ditinggalkan karena urusan makan dan minum. Terlalu!” kali ini Jono serius.

“Maksudku wajar, pekerjaan itu memerlukan tenaga yang besar. Sedangkan kalau terlambat menggarap sawahnya bisa gagal panen. Karena sebentar lagi ini akan menghadapi musim kemarau. Aku pikir berat rasanya jika harus tetap berpuasa.” Sodik menjelaskan pendapatnya.

“Kalau dipikir begitu dik, semua pekerjaan pasti berat. Masalahnya adalah kekuatan niat. Kalau itu ada dan kuat semua dapat di antisipasi. Misalnya, pagi-pagi sekali berangkatnya. Kemudian berhenti sebelum tengah hari. Itu kalau mau.” Kali ini Jono menggurui.

“Ya sudahlah Jon. Kita berusaha saja puasa ini tidak ada bolongnya sampai lebaran nanti. Tidak makan dan minum di siang hari cukup sudah sementara.” Sodik mencoba berdiplomasi.

Singam Raya, Katingan, Kalteng. 14/4/2021. Hari ke-2 Ramadan 1442 H.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *