Oleh: Moh. Anis Romzi

“Fatimah, kamu yang membuka panji kali ini.” Pak Ical menunjuk cepat. Ini karena waktu Panji sudah berjalan lebih dari lima menit. Untuk panji waktu terasa mahal.

“Hah, saya pak. Saya sudah lupa. Lama sekali sudah tidak pernah dapat giliran memimpin.” Fatimah mencoba menghindar.

“Ayo coba saja. Pasti bisa.” Pak Ical meyakinkan Fatimah.

“ Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Marilah kita awali kegiatan belajar kita hari ini dengan pagi mengaji. Kita akan membaca bersama-sama Qs. Adl-Dluha dan al-Insyirah. Naba akan disampaikan oleh Jono. Sedangkan Woiki (WQ) disampaikan oleh Rofiah.” Fatimah mulai membuka panji. Cukup lancar dan tanpa gemetar.

Sebaliknya Jono ketika namanya disebut Fatimah, dia terkejut. Dia menoleh kiri dan kanan pada kawan-kawannya.” Kenapa saya?” hatinya mulai tidak karuan. Jono merasa seperti dikerjai. Fatimah adalah kakak kelasnya yang berasal satu kampung dengannya. Sejatinya Fatimah adalah adik kelas. Karena Jono pernah tidak naik, sekarang Jono setingkat di bawah Fatimah kelasnya.

Setelaj dua surah pendek selesai dibaca bersama-sama. Kini giliran Jono harus melaksanakan tugas. “Saya tidak bisa pak.” Jono mencoba membujuk Pak Ical agar tugas menyampaikan naba dialihkan pada siswa yang lain.

“ Tidak apa-apa Jono. Kamu harus berlatih untuk berani. Apa saja asal baik boleh disampaikan. “Pak Ical memotivasi Jono agar percaya diri.

Naba adalah aktivitas lain di dalam kegiatan panji. Ia berisi nasehat kebaikan yang disampaikan kepada para siswa peserta panji. Untuk membantu para siswa, Pak Usro guru agama membantu dengan membuat tempelan-tempelan hadis-hadis pendek di bagian depan musala. Naba adalah gagasan untuk memudahkan penamaan kegiatan. Kalau Naba dalam Bahasa Arab berarti berita besar.

“ Ass… Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.” Suara Jono tercekat. Ia terlihat bingung hendak mengucapkan apa.

“ Ayo, Jono. Kamu pasti bisa”. Pak Ical menyemangatinya.

Jono gemetar kakinya. Ia menoleh lagi mencari bantuan. Kawan-kawannya terdiam menunggu kalimat-kalimat yang keluar dari mulut Jono. Bantuan tidak datang. Jono melongok ke depan melihat tempelan-tempelan kertas berwarna kuning di depan. Ia mengamati agak lama, memilih yang paling pendek yang ia bisa baca dan pahami. “ Ad-dinu yusrun.” Satu kalimat terucap dari mulut Jono.

Suasana musala tenang. Para siswa sedang menunggu lanjutan kalimat Jono.

“ Aaa…ga…ga..ma itu… mu..mudah.” kalimat Jono terputus-putus.

“Coba diulangi Jono!” Pak Ical meminta sambil mengacungkan tiga jari. Jono memperhatikan dengan seksama. Ia menatap tempelan-tempelan tulisan lagi setelah melihat tanda dari Pak Ical dengan tiga jarinya.

“Waduh, Pak Ical minta diulang lagi.” Gumam Jono

Ad-dinuu yusrun, agama itu mudah.” Kali kedua ini Jono sangat lancar.

“haah… Lega.” Batin Jono. Hari itu ia telah menyampaikan naba yang pertama kali baginya. Sekaligus hari itu ia berani melawan rasa takut pada dirinya. Selamat Jono. Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 12/4/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *