Oleh: Moh. Anis Romzi

“ Setiap manusia akan diuji dalam kehidupan. Termasuk kita. Ketika kita belajar di sekolah adalah latihan kecil daripada ujian kehidupan.” Pagi itu Pak Ical mendampingi Panji di sekolah JonSo.

“Di sekolah ini kita berlatih menyelesaikan masalah kehidupan. Kalian masih beruntung diberikan kesempatan belajar. Selain itu belajar di sekolah kalian berkesempatan menandai peristiwa. Kemudian mengidentifikasi penyebabnya, dan berusaha mencari solusi. Dalam kehidupan nyata nanti masalah itu datang tanpa permisi.” Pak Ical menjelaskan lebih panjang. Beberapa siswa tertegun. Pun begitu pula JonSo. Keduanya tampak memperhatikan.

“Tapi soal-soal di tiap mata pelajaran terlalu banyak pak. Apalagi pada saat datangnya Penilaian, baik itu tengah semester maupun akhir. Kita kan jadi mumet.” Dede sang ketua kelas JonSo protes.

“ Iya lho pak. Ini waktunya akan segera ulangan. Saya saja kemarin tidurnya sedikit sekali. Gegara mengerjakan tugas belajar daring pak.” Santi mendukung Dede kali ini.

JonSo menatap saja. Keduanya tanpa ekspresi mendengarkan Pak Ical, Dede, dan Santi saling berdiskusi. Entah apa yang mereka pikirkan, keduanya tetap tenang-tenang saja.

“Kalau kamu bagaimana Sodik? Apakah kamu juga mumet seperti Dede?” Tiba-tiba Pak Ical mengajukan pertanyaan kepada salah satu dari JonSo.

Sodik jingkat terkaget. Ia tidak menyangka akan dihujam dengan dua pertanyaan sekaligus oleh Pak Ical. Ia tolah-toleh ke kanan dan kirinya. Ia masih belum yakin kalau pertanyaan itu dialamatkan kepadanya.

“Iya dik. Pak Ical bertanya kepadamu.” Santi meyakinkan.

Sodik tersenyum sedikit. Itu tidak terlihat karena dia memakai masker. Kawan-kawannya menandai kalau matanya menyipit, berarti dia sedang tersenyum.

“ Sodik itu kalau ditanya pasti tidak segera menjawab. Cepetan dik, Belanda mau datang ini lho.” Dede jahil menggodanya.

“Mumet, pak.” Jawaban pendek keluar dari bibirnya yang tertutup masker rapat. Sangat ringkas jawabannya.

“ohh. Begitu ya? Terus kalau mumet ada obatnya apa tidak?” Pak Ical memancing jawaban Sodik agar keluar lebih banyak.

Lama Sodik berpikir untuk menjawab Pak Ical. Ia terlihat berpikir sangat keras memahami pertanyaan lanjutan itu. Masker di wajahnya terlihat maju mundur lebih cepat. Itu pertanda ia bernafas lebih cepat. Ia seperti merasa cemas ketika hendak menjawab.

“Aaa….aaa…da, Pak.” Suara Sodik gemetar.

“Jangan takut, Sodik. Bapak tidak menggigit kok.” Pak Ical menenangkan sambil tersenyum.

“Suulit pak. Saaya sebenarnya banyak tidak paham. Walaupun sulit saya tetap nekat belajar. Kalau obat mumet belajar saya ke sungai atau sawah membawa pancing. Sesulit dan mumet apapun pelajaran akan hilang di sungai pak.”

“ Memang Sodik siap nanti kalau ada ulangan?” Terakhir dari Pak Ical.

“ Ya begitu pak. Siap tidak siap harus siap.”

Pak Ical mengacungkan jempol tanda setuju. Dan mengakhiri Panji pagi itu.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 10/4/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *