Oleh: Moh. Anis Romzi

Hampir enam bulan lebih JonSo diminta belajar dari rumah. Karena pandemi covid-19 yang terjadi sejak Pebruari tahun 2020.

“ Kalau belajar dari rumah kami harus pakai HP pak. Bapak dan emak belum bisa membelikan. Pokoknya kami disuruh ke sekolah.” Jono mengiba.

Pun begitu pula dengan Sodik. HP android yang populer saat ini baginya sangat mahal. Ketika mengeluh kepada orangtuanya,” tunggu panen, dik. Bapak masih belum punya uang.”

JonSo, keduanya memang berasal dari keluarga yang kurang mampu. Mata pencaharian orangtuanya hanya bergantung pada hasil panen setiap enam bulan sekali. Terkadang modal tanam dan hasil panen impas. Dan yang lebih ngeri orangtuanya masih harus menanggung hutang apabila panennya gagal.

“Ini saja kami mengurus SKTM pak. Kemarin pak kades menyarankan.” Suatu sore orangtua Jono mengantarkan ke sekolah.

“ Saya hanya bisa sore pak datang ke sekolah. Karena ini sedang musim tanam. Jadi kalau pagi kami bekerja menjadi buruh tandur padi. Mumpung masih ada pekerjaan.” Ibu Jono melanjutkan.

“Masalah biaya urusan no dua ibu. Terpenting JonSo masih tetap mau sekolah.’” Pak Ical menjelaskan.

“ Yaitu pak, anak sangat ingin sekolah. Tapi katanya kok tidak boleh masuk. Dia bilang ke saya disuruh belajar dari rumah. Karena covid kata Bu guru. Belajar harus pakai hp. Lha ini kami masih belum bisa membelikan pak. Bagaimana kalau anak saya masuk sekolah saja.”

“ Ya Bu. Memang pemerintah mewajibkan para peserta didik untuk belajar dari rumah. Maksud pemerintah adalah menjaga kesehatan dan keselamatan warga sekolah. Selagi pemerintah mengurus yang sakit, yang kehilangan pekerjaan, dan yang terkena dampak karena covid-19.” Pak Ical menjelaskan panjang lebar.

“ Tapi anaknya mau tetap sekolah pak. Sementara kalau belajar di rumah saya tidak bisa mendampingi dan mengajari.” Ibu Jono masih memaksa.

“Ibu, belajar dari rumah tidak selalu harus pelajaran sekolah. Jika anak mau membantu orang tuanya di rumah, itu sudah belajar namanya. Masalah pelajaran sekolah biar nanti menjadi urusan bapak dan ibu gurunya.” Pak Ical masih sabar memberi penjelasan.

“Aduh pak. Mumet saya dibuat oleh Jono. Disuruh membantu orang tuanya hilang-hilang terus. Begitu pulang dia malah makanan yang dicari.”

Pak Ical tersenyum mendengarkan ibu Jono. “eem… Ibu, memang dunia anak-anak seperti Jono masih banyak bermainnya. Anak-anak seperti mereka masih belum sepenuhnya bisa bertanggungjawab pada dirinya sendiri. Di sinilah peran orang tua ibu. Orangtuanya tidak semata-mata memenuhi kebutuhan jasmaninya, namun juga rohaninya.”

“Lha kalau begitu, kapan saya bekerjanya pak. Pokoknya bagaimanapun caranya saya ingin Jono bisa belajar di sekolah.” Ibu Jono masih ngeyel.

Pak Ical manggut-manggut. …

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 9/4/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *