Oleh: Moh. Anis Romzi

Pagi itu mendung tebal. Gerimis mengiringi sang mendung. Tampaknya akan hujan lebat beberapa menit ke depan.

Pak Ical telah bersiap di depan gerbang sekolah. Ia biasa menyambut anak-anak didiknya. Dengan senjata pemeriksa suhu badan di tangannya. Beberapa siswi mulai berdatangan lebih dahulu. Pak Ical memeriksa suhu badan satu persatu peserta didiknya dengan senjata yang dipegangnya dari tadi. Benda putih dengan warna strip biru.

Ini sudah hampir mendekati lonceng masuk untuk kegiatan ‘Panji’ atau Pagi Mengaji. JonSo belum terlihat hadir di sekolah. Benar! Hujan semakin lebat diiringi oleh angin kencang. Pak Ical masih sabar menunggu di gerbang sekolah. Ia bernaung di bawah atap gerbang yang lebarnya 1 meter. Sapuan angin kencang memaksanya bertahan dari kuyupnya air hujan.

“ Reeeng… Aduh maaf pak, di sana tadi hujan sangat lebat. Kami tidak membawa jas hujan.” JonSo tergopoh-gopoh. Keduanya sudah basah kuyup sebelum sampai di depan gerbang sekolah.

“Masuk-masuk. Langsung saja ke tempat parkir” Perintah Pak Ical seraya menodongkan pemeriksa suhu badan ke dahi mereka berdua. Tampaknya JonSo adalah siswa yang paling terakhir datang.

“Langsung saja ke Musala untuk Panji. Pak Andi sudah menunggu di sana.”

“Tapi baju kami basah sekali pak.” Jono ingin menolak.

“ Tidak apa-apa, yang penting kamu hadir di Musala ikut Panji. Pak Ical meyakinkan JonSo untuk berani ke Musala. Sebenarnya bukan hanya JonSo yang bajunya basah kuyup. Bahkan, beberapa masih belum terlihat hadir karena hujannya masih sangat lebat.

Begitu sampai di Musala Panji telah berakhir. Beberapa siswa berlarian menuju kelas untuk menghindari hujan yang masih belum reda. JonSo pun ikut kembali ke kelas. Keduanya tidak berlari menghindari hujan. Terlanjur basah, mungkin itu yang di pikiran mereka berdua. Begitu sampai di teras kelas, bibir mereka putih karena hawa dingin. Gigi-gigi mereka gemeretak saling beradu. Namun mereka tetap tersenyum menunggu lonceng pelajaran masuk.

“Aduh, dingin sekali dik. Mataharinya tidak ada muncul lagi. Kapan keringnya baju kita ini?” Sodik pun menggigil.

Pak Ical melihat dari kejauhan. JonSo bersedekap tanda kedinginannya belum pergi. Pak Ical perlahan mendekati keduanya. JonSo semakin merasakan kedinginan karena kuatir akan mendapat sanksi karena terlambat datang tadi. Antara menggigil karena dingin dan gemetar karena Pak Ical datang tiada beda.

“ ehem… JonSo tadi waktu hujan lebat di jalan kenapa kamu tidak berpikir untuk bernaung? Kamu kan tidak membawa jas hujan di motormu?” Sambil berdehem Pak Ical mencoba menghangatkan suasana.

“Takut terlambat pak.” Jawab Sodik pendek.

“ Ohh begitu ya. Maka ada kawan-kawamu yang kembali dan sengaja tidak masuk karena hujan lebat tadi? Kenapa kalian tidak berpikiran sama, kembali dan tidak berangkat sekolah.” Pak Ical memancing jawaban lebih panjang.

“Kami berniat untuk belajar, pak. Masa hanya air saja ditakuti. Jangankan hujan air, hujan api pun kami akan berangkat” Jono yang menjawab duluan. Ia sudah mulai tersenyum.

“ Wah.., mantap semangatmu Jon! Lanjutkan. Indonesia perlu semangat besar hanya untuk melawan hujan.” Pak Ical bangga pada JonSo. Mereka berani belajar dan melawan takut pada hujan. Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 8/4/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *