Oleh: Moh. Anis Romzi

“Tok-tok.” Terdengar suara ketukan dari luar ruang Kepala sekolah. JonSo berdiri di depan pintu. Mereka mencoba untuk mengetuk pintu lagi. Karena belum ada jawaban dari dalam. Di dalam hati mereka dag-dig-dug tidak menentu. Ada apa gerangan?

“Kita kembali saja Jon. Orangnya tidak ada.” Sodik mengajak untuk tidak jadi menemui Pak Ical di ruangannya.

“Jangan, kita ketuk sekali lagi. Siapa tahu Pak Ical tadi tidak mendengar. Kalau kita kembali sebelum bertemu, dikira nanti kita tidak bertanggung jawab.” Jono percaya diri.

“ Tok-tok. Assalamualaikum Pak. Kami JonSo ingin menghadap.” Mereka masih merasa bingung kira-kira ada dipanggil oleh Pak Ical. Mereka merasa tidak melakukan pelanggaran di sekolah. Tetapi tadi Dede menyuruh keduanya menghadap Pak Ical.

“ Waalaikum salam, masuk.” Terdengar suara besar dari dalam ruangan Pak Ical. Keduanya segera mendorong pintu ruang Pak Ical. Tampak pak Ical duduk di kursinya sambil memeriksa beberapa lembar kertas. Kaki JonSo mulai bergetar ketika mendekati meja kerja pak Ical. Ini karena biasanya siswa yang dipanggil rata-rata bermasalah. Apalagi bila dipanggil secara khusus. Biasanya karena ada laporan ke sekolah tentang perilaku siswanya di luar sekolah.

“ Oh, ya. Sini JonSo. Jono dan Sodik. Duduk di kursi depan bapak.” Pak Ical memerintahkan. JonSo saling dorong berebut belakangan duduk di depan Pak Ical. Keduanya ditatap dari atas ke bawah oleh Pak Ical.

“ Tadi Dede memberi tahu kami untuk menghadap bapak. Apakah ada yang salah dengan kami pak?” Jono memberanikan diri bertanya kepada Pak Ical. Walaupun gemetar ia tetap memaksa.

“ Begini JonSo. Kemarin sore bapak ada lewat lapangan desa kampung kamu. Ada banyak anak-anak muda dan beberapa orang tua ramai berkumpul di lapangan. Mereka membawa burung di tangannya masing-masing. Nah, Bapak melihat ada kamu berdua di sana? Apakah kalian bisa menjelaskan?” Pak Ical memulai pertanyaan pertama.

“ Ya, pak kami berada di sana. Biasanya setiap Sabtu sore lombanya. Banyak anak-anak muda dan orang tua berkumpul. Walaupun tidak janjian. Mereka umumnya membawa merpati masing-masing.” Jono menjelaskan.

Sodik di sebelahnya hanya ikut mendengarkan. Tidak ada suara dari mulutnya keluar. Maskernya setia menempel menutup hidung sampai dagunya. Namun ia memperhatikan Jono menerangkan perihal Sabtu sore di lapangan kampungnya.

Pak Ical manggut-manggut pelan. Sambil menarik nafas perlahan Pak Ical bertanya.” Apakah ada taruhan di lomba balap burung merpati itu Jon?”

“ Ya adalah pak. Orangnya banyak sekali yang datang. Merpatinya pun katanya mahal-mahal banget.” Jono terus terang.

“Kalian berdua ikut taruhannya?” Pak Ical mengejar.

“ Tidak ikut pak.” Hampir berbarengan mereka menjawab.

“ Kenapa tidak ikut?” Terakhir pertanyaan Pak Ical.

“Kami tidak punya uang pak.” Jawab Sodik. Ah, JonSo bukannya takut dosa, tapi karena tidak punya duit ternyata. Haduh.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 7/4.2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *