Oleh: Moh. Anis Romzi

Ini pak, dari  hasil pengamatan saya. Ada dua orang, mungkin lebih. Mereka belum bisa membaca dengan lancar.” Laporan seorang guru dalam rapat mingguan sekolah.

“Ya, pak. Kemarin saya suruh mereka membaca. Ehh, malah hanya senyum-senyum saja.” Timpal Bu Eni.

Ya, dua orang siswa yang dimaksud di rapat itu adalah JonSo. Dua sekawan dari kampung sebelah. Mereka adalah dua orang pelajar yang mempunyai rekor tidak naik kelas lebih dari satu kali. JonSo adalah kependekan dari dua nama Sarjono dan Sodik. Nama yang ringan dan ringkas untuk diucapkan.. Nama-nama yang jarang dipakai oleh generasi tahun 2000 an. Unik seperti kedua orang pemiliknya.

Saat berbincang dengan mereka, di sela waktu belajar, JonSo terlihat ceria seperti anak-anak yang lain.

“Kalau sore lepas sekolah, saya bermain dengan anak-anak SD  di rumah saya pak.” Terang Sodik, ketika aku tanyakan kegiatannya di rumah.

“Memang tidak ada teman lain, dik? Misal tetangga rumahmu?” tanyaku menginvestigasi.

“ Kalau saya bermain , pak. Kadang-kadang juga membantu bapak mencari rumput untuk sapi-sapinya.” Jono, nama panggilan dari Sarjono ikut nimbrung.

“terus, apa yang membuat kamu berdua tidak naik kelas?”

“Saya belum bisa membaca pak. Terkadang saya mengeja tetapi terlalu lama. Kata Bu guru.” Sodik mulai bercerita. Sebenarnya ia sangat sedikit bicara saat berada di kelas bersama kawan-kawanya.

“Jono, berapa kali kamu tidak naik kelas?”

“Satu kali, ehh dua kali kayaknya pak.” Jono mencoba mengingat-ingat.

“Apakah kamu takut kalau tidak naik kelas lagi, Jon,dik?” Tanyaku kepada keduanya. Mereka yang dilaporkan beberapa pengajar belum bisa membaca di rapat sekolah.

“cita-citamu apa? Kalau kamu nanti sudah dewasa dan menjadi bagian dari masyarakat?”

“Saya mau menjadi mekanik pak.” Jawab Sodik singkat.

“Kamu Jono?”

“Pingin seperti bapak saya pak. Beternak sapi. Saya suka melihat bapak mencari rumput. Sapi bapak banyak.” Sarjono menjawab lebih banyak.

“Sejak kapan bapakmu beternak sapi, Jon?”

“Saya tidak tahu pak. Sejak saya kecil sapi-sapi itu sudah di rumah saya.”

“Bagus sekali cita-cita kalian berdua. Apakah itu sudah cukup. Tidakkah kalian ingin menjadi polisi, dokter, atau guru mungkin?”

 JonSo terlihat seperti berpikir. Tidak tahu apa yang ada di pikiran mereka. Sesekali mereka saling berpandangan untuk menyamakan jawaban mungkin. Terkadang menunduk, sesekali melihat saya.

“Tidak, Pak. Saya tetap ingin menjadi mekanik. Saya suka melihat orang yang bekerja di bengkel.”

“Sapi-sapi bapak saya perlu dicarikan rumput. Saya anak terakhir pak. Biar saya membantu bapak saya merawat ternaknya.” Jono menjawab setelah Sodik.

“Ehm, baiklah kalau begitu. Tetapi kamu tetap harus belajar ya? Sini bacakan judul buku ini untuk bapak!”

Jono terlihat kaget. Bibirnya terlihat berkomat-kamit mengeja.” Ka-ka-ka…Li..Li ..mat-kali..mat ramad..Han”

Sampit, Kalteng. 29/3/2021


0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *