Oleh: Hermi Pasmawati

Meskipun aku tak begitu yakin setelah langkah kaki ini meninggalkan kelas, makhluk Setengah Dewasa ini masih bisa duduk manis melanjutkan pembahasan materi yang tidak tuntas ku bahas hari ini. Namun kelas hari ini sudah ku sudahi dengan ucapan maaf, ibu tidak sampai selesai, untuk sesi selanjutnya silahkan dilanjutkan dengan kegiatan diskusi. Pagi ini hanya 30 menit aku bercuap-cuap di depan makluk setengah dewasa ini, mata mereka berbinar-binar. Binar mata ini menyiratkan dua makna, berbinar karena materi penjelasan memang sangat relevan dengan pengalaman hidup mereka atau karena mendapat angin segar di awal tadi bahwa aku tidak bisa lama untuk menemani mereka di kelas hari ini. meskipun tebakan ku ini salah, sepertinya tidak akan jauh meleset. Karena aku pun pernah di situasi ini, meskupun sudah menjadi makluk setengah dewasa namun masih sangat antusias jika mendapat kabar bahwa dosen tidak akan lama mengajar di kelas.

Selesai ku paparkan penjelasan dari poin-poin penting materi hari ini, ku sudahi penjelasanku dengan ucapan maaf dan salam, lalu aku bergegas meninggalkan ruang kelas. Ku pencet tombol remot mobil lalu keletakan tas ransel warna abu di samping kursi. Tak butuh waktu lama aku sudah berada di gerbang kampus Hijau, ya satu-satunya kampus Islam Negeri di Provinsi yang baru berkembang ini.

Naluri praktisku muncul, aku memilih jalan yang tidak ada hambatan, ya jalan pinggir pantai yang tak satupun akan bertemu dengan halangan lampu merah. Ku putar lagu Ebit G. Ade, yang tak begitu ku pilih, yang penting ada musik untuk menemaniku menempuh jarak 30 menit perjalananku. Sambil menikmati alunan lagu dengan lirik “ Esok Pagi ku buka Jendela, …” ingatanku masih melayang pada kelas yang belum selesai ku tuntaskan.

“Kegiatan Penting??? Seperti ada bisikan ditelingaku, ya sahut dalam hatiku, ini penting, dan sangat penting, karena sudah masuk delapan tahun aku tak bersua dengan sahabat karibku selama menjalani masa studi, setelah tahun 2012 selesai aku wisudah belum pernah kami bersua, jadi cukup beralasan jika aku meninggalkan kelas ngajarku hanya sekedar ingin bersua dengan sahabat karib ini. Waktu subuh tiba-tiba Handphoneku berbunyi ada pesan masuk” Saya aku sama mama sudah di Bengkulu”, kita ketemuan hari ini ya, soalnya nanti sore aku harus balik.”

Aku masih berasa bermimpi, kok tiba-tiba sekali, tidak dari kemarin-kemarin memberi tahu. Gumamku dalam hati” Ah sudahlah namanya juga tak direncanakan.”  Ku injak kembali pedal gas hingga ke angka 80 KM/JAM, tak sabar rasanya ingin segera bertemu dengan teman yang satu ini, lucu dan punya banyak cerita ngenes yang ingin segera aku dengarkan langsung. Kami sering berdiskusi dan bercerita tentang semua hal, namun semuanya hanya lewat handphone. Ada misi yang sangat ingin ku tuntaskan pada sahabat karib ku ini, ya, terkait pasangan hidup, dengan kondisiku yang sudah memiliki tiga orang jagoan, dan kondisi Ismi yang belum juga bertemu pasangan sejatinya membuat energi konselorku menggelora ingin memberikan wejangan secara langsung. Inipula alasanku rela meninggalkan kelas mengajarku, disamping memang karena alasan kami sudah lama tidak bersua.

Tepat 20 menit mobilku sudah landing di gerbang kampus biru, ya kampus termegahlah di kota ini. aku bergegas menuju gedung FKIP, tempat Ismi dan Mama menunggu, kenapa harus di kampus biru ini, karena kebetulan sahabat kami Ara juga mengajar di sini, Kami sudah berjanji untuk bertemu bertiga, berempat dengan mama. Ara adalah salah satu dosen di kampus FKIP, dengan Ara juga menyisakan potongan kisah yang cukup dramatis, mulai dari pasangan hidup, kemudian kompetisi kami saat mengikuti tes menjadi pengajar di kampus biru ini, dan aku gagal di tes wawancara, Ara lah yang menjadi pemenangnya, hati ini bahagia, namun tak rela, semuanya bercampur menjadi satu. Kebahagian Ara pada saat itu, sekaligus menjadi kehancuran hatiku, tapi ya sudahlah daun jatuhpun sudah Allah rencanakan, apalagi kegagalaku saat itu. Setahun kemudian aku pun mengikuti tes mejadi pengajar di kampus sekarang tempat ku mengajar, dan Alhamdulillah  Allah menakdirkan aku untuk mengabdi di kampus Hijau ini.

Ku parkirkan mobilku dengan posisi yang tak beraturan, karena harus menyesuikan dengan tiga kendaraan yang telah lebih dulu parkir di sebelahnya dengan posisi mereng tak beraturan, sehingga garis putih yang telah dibuat sebagai batas masing-masing kendaraan berada tepat di bawah tiga kendaraan ini, aku pun mengikuti secara otomatis, karena tinggal satu lagi posisi tempat mobil yang bisa ku tempati. Bergegas ku turun, sambil mengambil kotak pensil warna hijau lumut serta Handphoneku, ya seperti biasa aku tipe orang yang sangat praktis paling malas harus bawak-bawak tas jinjing dan dompet, kebetulan isinya juga beberapa uang receh saja..ha..ha”

Aku langsung menuju ruangan di samping gedung FKIP, ku hampiri Ismi dan Mama yang sudah menunggu di ruang pintar lah mungkin namanya, karena di sana disedikan beberapa meja dan kursi semen permanen dan beberapa saklar listrik, tempat mahasiswa berselancar di dunia maya, raung ini memiliki wifi free dari kampus. Mama duduk membelakangi arah jalan masuk, sedangkan Ismi berada tepat di sebelah kananya, atau tepatnya di samping Mama.

Dengan setengah meloncak aku memeluk mama dari belakang. Mama “ Sapa ku antusias”, maaf ya say diriku tadi ke kampus dulu, masuk kelas dulu bentar. sudah lama menunggu ma’ tanya ku beruntun”. Lumayan kata mama jujur. Ha..ha,

Ku lepaskan pegangganku di pundak mama, karena melihat Gerak Ismi yang juga ingin bersalaman dan cipika-cipiki dengan ku, Ti, dirimu nggak berubah say, kelihatan lebih fresh sekarang dan badanmu juga masih langsing kayak dulu, nggak kayaky mak-mak Ti, cerocos Ismi dengan lugu dan bersemangat”. Ah bilang aja dirimu mau bilang diruku masih kurus seperti dulu..ha..ha

Is, dirimu sidah sangat berbeda sekarang, timpalku balik, gigimu sudah rapi, ha-ha,, berapa lama dirimu perawatan,,,ha,,ha lumayan lama jawab Ismi butuh lima tahun untuk kondisi Sekarang say. Alhamdulillah terbayar dengan ketaatan gigi-gigi itu berjejer rapi oleh kawat pengaman bukan,cercaku tanpa dosa”..sambil tergelak lepas…itulah ciri khas sahabat, kalau sudah ngobrol ngak  pakai di rem-rem.

Aku mengambil posisi duduk berseberangan di arah Ismi dan Mama, supaya lebih terasaa saat mengobrol, menurut ilmu komunikasi dan ilmu psikologi, tatatlah mata lawan bicara saat sedang bercerita, kalau dalam konseling itu istilahnya Kontak mata. Aku kembali fokus ke mama yang sejak tadi ikut tertawa lepas dengan guyonan kami. Oy ma, mama juga ngak jauh berubah, malah kayak mahasiswa tahun akhir tadi ma, masak iya timpal mama, ada-ada saja dengan bahasa Minangnya yang kental, serius ma, “ jawabku penuh pecaya diri, “ Dari belakang ma”. Mama pun menepuk sayang pundaku, kalau sudah ngobrol begini lupa rasanya dengan status diriku sebagai seorang ibu sekaligus pengajar, pokoknya jaimnya ilang. Ha..ha…

Oy Is, Ara mana??  Tanya ku basa basi” sebenarnya aku yakin Ara pasti masih ngajar, karena di kampus Ara untuk dosen-dosen muda masih di dampingi oleh dosen senior, sehingga tak mungkin Ara seberani diriku meninggalkan kelas ngajar. Tadi di pesan whatsappnya ada kelas ngajar pagi ini 3 SKS, Jawab Ismi meyakinkan. Okey timpalku, dan segera menawarkan ide ke mama,

Mama dan Ismi sepertinya belum sempat sarapan tadi? sebenarnya itu alasan untuk diriku yang tadi hanya sempat menyerumput teh poci hangat sebelum ke kampus, gimana kalu kita tunggu Ara di Kantin saja ma Is,  Boleh jawab mama dan Ismi ” mama ikut aja Ti. “jawab mama dan Ismi hampir serempak ”

Kamipun bergegas menuju kantin yang diapit oleh beberapa gedung. Sampai di kantin aku lansung menghampiri Bude kantin, Mama dan dirimu Is mau makan apa, ikut aja Tia, waduh bisiku dalam hati, ini jawaban yang membuatku bingung menentukan pilihan , mungin sama dengan kebingungan Ismi selama ini dalam menentukan pendamping hidup. Aku langsung terpikir mengambil alternatif, Nasi Soto aja Bude.   Yang satu nasinya dikit aja bude, Ismi langsung menjawab tanpa ku tanya, ya aku juga say dikit aja. Ya udah dua porisi nasi setengah aja bude. Trus minumnya apa ma? Teh panas hambar aja mama, dirimu Is? Tanya ku jeruk panas ada, ada bude keteruskan pertanyaan Ismi pada bude? Ya ada okelah, teh panas hambar satu, jeruk panas, terus susu milo satu Bude. Ya kata Bude “sambil terus mengaduk kuah soto yang masih dipanaskan; sepertinya pagi ini Bude agak rempong karena belum Datang Mbk Dewi ponaan Bude yang biasa menjadi asisten Bude di kantin ini. Aku kembali ke tempat duduk tepat di depan mama, sedangkan Ismi bersebelahan dengan mama,  Sambil menunggu soto Bude, aku pun bertanya antusias pada mama dan Ismi, aku masih berasa mimpi ma bisa bertemu Mama dan Ismi di sini, ya say sambung Ismi, diriku juga tidak ada perencanaan sama sekali mau ikut mama ke sini. Oy dirimu libur Is? Ya aku ngambil izin dua hari untuk ke sini. Ismi adalah salah satu tenaga pengajar kontrak di salah satu Universitas Islam di sumatera Barat. Ismi sebenarnya sudah beberapa kali ikut tes PNS Dosen namun karena gagal di bidang TIU. Namun Alhmdullilah satu kali ikut tes Kementrian sebagai tenaga pengajar dosen tidak tetap non-PNS Ismi langsung lulus.

Oy Ti, sebenarnya mama datang ke sini disamping mengatarkan bang An kakak tertua Ismi yang menikah dengan gadis di kota ini, juga ada niat mama sharing dengan Tia dan Ara. Oh ala baru ingat mau wa Ara bahwa kita sudah pindah tempat ngetem, “ ucapku dalam hati”. Ya terus sambil ke buka handphone dan minta izin ke mama untuk memberi tahu ke Ara bahwa kita menunggu di kantin. Jadi gini Ti, ada dua orang yang sepertinya mulai serius dengan Ismi, ya ma jawabku pelan, Sambil sesekali aku mengarahkan pandangan pada Ismi, mama tahu selama ini Tia cukup dekat dengan Ismi, ya angguku dengan muka yang lebih serius, sebelum mama cerita panjang lebar tentang dua laki-laki ini, coba Tia tes menurut feelingnya waktu melihat dua foto laki-laki ini, kira-kira yang mana yang cocok untuk Ismi, yang mudah-mudahan menjadi jodohnya Ismi dunia Akhirat kelak. Sebenarnya aku sudah mulai serius begitu mendengar pernyataan mama, membuat imajinasiku bereaksi, dan membayangkan seorang gadis yang sedangan konslutasi dengan paranormal saja, yang mencoba untuk mencenayang pasangan mana yang paling cocok hanya dengan melihat fotonya saja. Aku berusaha untuk tetap serius dan menahan senyumku, oh ya ma, boleh aku liat dulu foto sang pangeran itu ma, sambil memperhatikan mama mengutak ngatik HP  nya mencari foto sang pangeran, aku melirik Ismi yang dengan ekspresinya yang cengar-cengir dan senyum dikulum, kali ini aku tidak bisa menyembunyikan tawa ku, ait mama ini seperti aku paranoral saja ma yang bisa menerawang” ucapku datar sambil tertawa kecil”

Oy ma apa tidak sebaiknya kita sambil makan, ini sotonya kasihan lo kita angguri dari tadi, sangking seriusnya kita ngobrol tentang jodoh, aku mencoba mencicipi satu sendok…hemm enak ma, dengan nada menyuruh mama untuk makan dulu. Tapi mama masih semangat mencari foto sang pangeran itu, lalu menanyakan ke Ismi di Hanphone mama sepertinya terlalu banyak foto Is, coba kirimlagi dari handphone kamu Is. pinta mama, yo ma sabar ma, kita makan dulu aja ma, ajak Ismi.

Beberap detik berselang, Kami pun menoleh serentak ke arah pintu masuk, karen ada panggilan Hei…di sini rupanya sapa Ara yang baru datang dengan dua orang temannya, yang wajahnya tidak asing lagi, ya teman mengajar Ara di Fakultas. Mereka berdua mengambil meja di bagian depan, sementara Ara permisi mau ikut gabung dengan meja kami. Sambil meletakan tas jinjingnya di meja, Ara bertanya, Ti kok nggak ngabarin dari tadi kalu udah nunggu di Kantin. Bukanya sudah di wa say, timpalku, belum liat Handphone, trus kok bisa langsung ke sini, tadi niatan aja mau nunggu di sini, soalnya waktu aku samperin di ruang pintar pada nggak ada di sana. “pungkas Ara”. yang langsung mengabil pososi di sebelahku…

Bersambung… J

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *