Oleh : Yani Lestari

“Wa’alaikum Salam… monggo bu…” terdengar suara seorang bapak yang menjawab salam kami dan mempersilahkan kami masuk dengan bahasa Jawanya. Kami pun masuk ke rumah tersebut yang tak lain adalah rumah ibu kepala sekolah, dan bapak tadi adalah suami beliau. Alhamdulillah… di perantauan bertemu dengan bapak dan ibu yang berasal dari Jawa gumamku. Akhirnya kami masuk rumah dan untuk sementara kami tinggal disitu.

Sore harinya guru-guru berkunjung ke rumah ibu kepala sekolah karena mendengar bahwa ada tambahan guru baru untuk sekolah mereka. Guru-guru tersebut bersilaturahmi bersama dengan keluarganya, membawa istri dan anak-anak mereka. Sebagian besar guru-guru tersebut berasal dari luar daerah, Bapak Ardiansyah berasal dari dari Barabai Hulu sungai Tengah, Bapak Sofyan Suri dari Kandangan Hulu Sungai Selatan, Bapak Rustam dari Rantau kabupaten Tapin dan ada juga Bapak Edo Kasiana berasal dari Muara Teweh Kalimantan Tengah. 

Beberapa dari guru-guru tersebut ada yang beristrikan muridnya sendiri. Ternyata pada saat itu sudah ada cinlok atau cinta lokasi. Sepertinya merupakan hal yang lumrah ataupun wajar di daerah tersebut, jika anak perempuan yang lulus SD sebagian besar sudah dinikahkan oleh orangtuanya. Walaupun usianya masih cukup belia namun karena postur tubuh yang besar dianggap oleh orang tua mereka sudah siap untuk dinikahkan.

Berpuluh tahun guru-guru tersebut mengabdikan diri di sekolah yang akan kami tuju. Mereka sudah memiliki anak, ada yang 3 orang, 2 orang dan satu orang. Anak-anak mereka ada yang lahir di daerah ini dan ada juga yang lahir di daerah mereka berasal. Obrolan kami penuh dengan canda tawa, meskipun baru kenal, tetapi merasa sudah akrab. Tak terasa hari sudah menjelang senja, mereka kembali pulang ke rumah masing-masing menempuh jarak kurang lebih 3 km.

Tiba saatnya bagi kami melaksanakan rutinitas sore yaitu mandi. Kebiasaan masyarakat setempat jika urusan MCK (mandi cuci dan kakus) dilaksanakan di batang (Bilik di tepi sungai). Duh… kami berdua hanya saling memandang dengan penuh kebingungan. Jujur… meski di Yogya banyak sungai tetapi kami tidak pernah mandi di sungai. Mau tidak mau… suka tidak suka kami pun harus mandi di sungai. Dan akhirnya byurrr… byurrr… gayung mandi mengguyurkan air sungai ke tubuh kami, maklum… kami tak bisa berenang. Hari itu merupakan awal kami mandi di sungai Jelapat, yang merupakan anak dari sungai Barito.

Sempat bertanya kepada ibu kepala sekolah mengapa tidak ada orang yang membuat sumur di sekitar sini, dari jawaban beliau ternyata tingkat keasaman tanahnya sangat tinggi, sehingga berasa kelat (sepet dalam bahasa Jawa). Itulah sebabnya masyarakat disitu menggunakan air sungai untuk semua keperluan sehari-hari termasuk untuk urusan masak memasak. Duh… tambah bingung… jika air sungai untuk urusan MCK kami masih memaklumi, tapi untuk urusan memasak… idih… 

Karena tidak ada pilihan, akhirnya kami belajar untuk bisa menyesuaikan diri dengan keadaan. Air sungai yang akan kami gunakan untuk memasak kami campur dengan tawas. Menurut Wikipedia, tawas telah dikenal sebagai flocculator yang berfungsi untuk menggumpalkan kotoran-kotoran pada proses penjernihan air. Tawas sering sebagai penjernih air, kekeruhan dalam air dapat dihilangkan melalui penambahan sejenis bahan kimia yang disebut koagulan. Pada umumnya bahan seperti Aluminium sulfat [Al2(SO4)3.18H2O] atau sering disebut alum atau tawas, fero sulfat, Poly Aluminium Chloride (PAC) dan poli elektrolit organik dapat digunakan sebagai koagulan. Untuk menentukan dosis yang optimal, koagulan yang sesuai dan pH yang akan digunakan dalam proses penjernihan air, secara sederhana dapat dilakukan dalam laboratorium dengan menggunakan tes yang sederhana (Alearts & Santika, 1984). Prinsip penjernihan air adalah dengan menggunakan stabilitas partikel-partikel bahan pencemar dalam bentuk koloid. Tawas sebagai koagulan di dalam pengolahan air maupun limbah. Sebagai koagulan alum sulfat sangat efektif untuk mengendapkan partikel yang melayang baik dalam bentuk koloid maupun suspensi. Memang benar, setelah air sungai dicampur dengan tawas dan diendapkan beberapa saat, kami temukan air yang jernih dan ada endapan yang menggumpal di dasar tempat penampungan airnya. Air jernih tersebut kami tuang perlahan ke tempat lain dan kami gunakan untuk memasak. Sungguh… suatu kehidupan baru yang harus kami jalani di perantauan ini

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *