Oleh: Moh. Anis Romzi

“ Bapak-bapak sekalian, kita akan melanjutkan musala kita. Seperti yang kami sampaikan berulang kali, bahwa sekolah ini adalah milik masyarakat. Jadi apabila masyarakatnya baik, gurunya baik, insyaallah sekolahnya juga akan baik.” Sambutan saya saat berdiskusi dengan komite sekolah dan beberapa tokoh masyarakat.

Sudah hampir enam tahun, mulai dari perencanaan sampai dengan pelaksanaan. Musala SMPN 4 Katingan Kuala telah berproses. Ikhtiar untuk mewujudkan sarana pendukung pendidikan karakter relijius. Gagasan sederhana pengelola, komite sekolah, dan masyarakat. Sebuah niatan telah diwujudkan untuk diselesaikan dengan kerangka aksi. Anak-anak dapat belajar dan memanfaatkan fasilitas untuk perkembangan dirinya.

Musala tanda cinta sumbangsih orangtua dan masyarakat untuk SMPN 4 Katingan Kuala. Sebuah partisipasi yang luar biasa. Kepedulian, pengorbanan, perhatian telah dicurahkan. Setelah jeda, saatnya melanjutkan kembali. Jika ini cinta maka pengorbanan adalah sesuatu yang wajib diberikan. Inisiasi harus kembali dimulai. Walaupun ada tempuhan jalan liku, dengan keyakinan dan semangat Allah pasti akan menolong. Berniat bersama, membangun bersama, dan mengawasi bersama. Musala cinta pasti selesai.

Perjalanan yang agak panjang, ini karena semua dukungan atas gotong-royong dengan tenaga, biaya, dan keringat sendiri. Ini akan sangat membanggakan. Waktu akan mencatat dengan indah pengorbanan yang telah diberikan. Barangsiapa yang bersedekah kemudian dimanfaatkan oleh umat niscaya akan diganti dengan yang tidak terbatas. Biar panjang terpenting tidak berhenti. Senantiasa berusaha adalah upaya menuju keberhasilan. Ini adalah milik semua, untuk harapan generasi bangsa yang berakhlak mulia. Salah satu karakter yang diharapkan tumbuh dari bangku pendidikan.

Sarana pendukung untuk penguatan pendidikan karakter relijius. Tradisi keagamaan Islam yang sudah dimulai sejak SMPN 4 Katingan Kuala berdiri. Panji, Naba, Woiki, salat zuhur dan duha berjamaah mulai dari sini. Pembuka dan penutup kegiatan reguler dari musala cinta ini bermula. Ia harus dipertahankan sebagai sarana pendidikan relijius yang toleran. Salah satu sumber pengajaran moral bertempat di sini. Musala hasil jerih payah para orangtua dan masyarakat. Semoga karakter akhlak mulia dapat tumbuh dan memberikan pahala yang mengalir bagi para pendermanya.

Terkadang terhenti sesaat. Kemudian mulai lagi. Begitulah memang keadaannya yang sebenarnya. Segala sesuatu kebaikan yang diusahakan pasti menyimpan kendala. Bukan untuk dihindari, tetapi harus diselesaikan. Kekuatan niat, semangat, dan ketulusan dalam pengabdian harus terus dikobarkan. Jika ada yang berhenti, harus ada yang mengingatkan untuk melanjutkan kembali. Ini ghirah semangat kebersamaan menuju perbaikan terus-menerus. Pelan tidak mengapa, tetapi terus berjalan menuju kebaikan.

Ada kendala biaya, namun tidak menghalangi untuk terus berjalan. Diawali dari urunan sedikit demi sedikit, sejumput demi sejumput telah berbuah walaupun belum selesai. Ini akan terus diupayakan sebagai bagian dari perjuangan dalam pendidikan. Komite sekolah, orangtua, tokoh masyarakat di Jaya Makmur dan Makmur utama telah duduk bersama. Segala upaya akan dilakukan untuk selesainya musala cinta SMPN 4 Katingan Kuala. Semoga akan menjadi saksi kebaikan bagi keluarga di dalamnya saat hari pertanggung jawaban.

Walaupun berliku bukan berarti tidak bisa dilalui. Hambatan dan rintangan akan mendewasakan dalam setiap pertumbuhan dan perkembangan. Inilah fitrah perjuangan. Ujungnya jauh pangkalnya belum tiba. Sekali niat diselipkan pantang menyerah sebelum selesai. Akan selalu ada jalan bagi yang senantiasa berharap dan berusaha hanya karena Dia. Kesulitan hanyalah tantangan kecil yang harus diselesaikan. Jalan berliku semakin menarik dan menantang untuk dilalui. Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 6/2/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *