Jadikan Diri Bahagia
MaryatiArifudin, 14 Maret 2021

Kebahagian itu terasakan hanya orang yang memandang. Sejujurnya yang paham akan bahagia adalah yang menjalaninya. Lebih-lebih dalamnya rasa cukup dimikmati oleh pemilik bahagia, dan orang lain hanya pemirsa akan hadirnya itu rasa.

Hidup ini tinggal memetik bahagia atau kesedihan dalam jiwa. Jika mendapat kesedihan maka bersedih boleh saja. Namun, kesedihan tak boleh singgah lama nanti akan membuat diri merana dan tak terlihat ceria. Jika pura-pura bahagia, maka kepura-puraan juga akan membuat keletihan jiwa.

Suka atau kebahagian dan kesedihan atau kedukaan adalah pilihan raga. Bolehkah kita memilih salah satu saja dalam hidup ini. Boleh saja memilih, tapi itu tak mungkin bisa karena dua sifat itu selalu hadir tanpa banyak cerita. Namanya rasa akan muncul dengan sendirinya. Namun, ada satu cara mengelola dua rasa itu. Yaitu menerima, kedua rasa itu dengan hati ridla dengan kehendakk-Nya. Sehingga, rasa sedih itu akan sirna, bagaimana menggapainya?

Caranya bermanja-manjalah dengan Sang Pembuat Rasa saat bermunajat pada-Nya. Bermunajat adalah sesuatu yang istimewa bagi seseorang tuk selalu berduaan dengan sang penciptanya. Waktu-waktu yang selalu ditunggu-tunggu kehadiran oleh sang perindu tuk berjumpa dengan Tuhan-Nya.

Kadang seseorang mencari waktu tengah malam, karena ingin mencari kepuasan bermanja dengan Sang Pencipta. Sang maha Agung yang mampu memberikan semua apa-apa yang kita pinta. Tepatnya, saat sepertiga malam para salafusoleh melakukan tuk bermunajat bersama Tuhan-Nya.

Ia sadar sepenuhnya jiwa keimanan kita selalu turun naik seiring menjalani kehidupan di alam semesta. Sehingga, waktu malam adalah yang sangat di nanti bagi orang yang ingin dekat dengan Tuhannya. Hanya, orang terpilih yang mampu melakukaanya.

Mereka akan selalu menunggu waktu-waktu yang tepat tuk bermunajat pada-Nya. Waktunya akan selalu digunakan untuk mengagungkan atas segala nikmat pemberiaan-Nya yang tiada tara. Pemberian nikmat yang tak terhitung dan tidak bisa digantikan oleh apapun jua. Nikmat, udara segar yang tiada taranya, dll

Pandai bersyukur yang membuat hati tidak lara, ia akan selalu bermunajat agar Sang Pencipta selalu menambahkan Anugrah nikmat yang tiada tara itu. Ia tak akan bosan-bosannya selalu berdua bersama Tuhan-Nya. Agar rahmat dan kasih sayang-Nya tidak lepas dari dirinya.

Saat bermunajat pada-Nya, ia selalu bermanja-manja agar Sang Kholik selalu menambahkan kesehataannya, agar ia bisa melaksanakan semua perintah-Nya. Ia, tak ragu dengan takdir-takdirnya karena ia yakin takdirnya adalah takdir terbaik. Suasa hati inilah, yang harus di bangun agar selalu bahagia selalu.

Orang-orang beriman tidak ada rasa bosan tuk berjumpa dengan Tuhan-Nya. Karena waktu-waktu itulah, yang selalu di tunggunya. Disaat sujud-sujud terakhir ia akan bersimpuh mengadu atas segala persoalannya. Ia tidak akan ragu, bahwa segala yang terjadi adalah kehendaknya.

Manusia hanya mampu berdoa Tuhan diatas sana yang menentukan ketetapan-Nya. Ia akan selalu berdoa, agar takdir memihak padanya tuk menerima segala keputusannya. Dia akan selalu bermunajat tuk kebahagian dunia dan akheratnya. Yakinkan itu, jika dekat dengan Tuhanmu maka hatimu akan tenang. Dan kebahagian akan hadir bersamamu.

Imam Thabrani dari Abu Umamah menyebutkan, “Sesungguhnya Nabi saw. berkata (mengajari) seseorang. Katakanlah, Ya Allah, aku memohon kepadaMu jiwa yang merasa tenang kepadaMu, yang yakin akan bertemu denganMu, yang ridho dengan ketetapanMu, dan yang merasa cukup dengan pemberianMu.'”

Jangan lupa berdoa selalu di sujud-sujud akhirmu. Maka, kebahagian akan terasakan di setiap sanubarimu. Dorong diri ini, untuk selalu mencari waktu-waktu yang bagus untuk bermunajad pada-Nya. Agar, kita bersama golongan orang-orang yang dimuliakan di yaumil akhir nanti. Dan termasuk golongan perindu tuk berjumpa dengan Tuhan-Nya.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *