Imam Muslim dan An-Nasa’I meriwayatkan hadits yang artinya: “Bau mulut orang yang berpuasa itu lebih harum di sisi Allah pada hari kiamat.”

Ih … padahal …?

Satu ciri khas orang berpuasa dari sekian ciri yang lainnya adalah aroma mulut yang khas.

Sebuah kondisi yang tidak dapat dihindari, karena ketika orang berpuasa, terutama pada siang hari saat perut kosong, maka sekresi saliva (produksi air liur) berkurang dan kadar asam lambung meningkat. Hal tersebut menyebabkan uap asam lambung mengalir ke arah rongga mulut hingga menimbulkan bau mulut yang tidak sedap.

Namun, inilah yang membuat Ramadhan “istimewa.” Bagaimana bisa? Apa istimewanya bau mulut yang mengganggu itu? Jorok amat ya Islam …

Pertanyaan tersebut dan kesan jorok itu, sah-sah saja. Logis … masuk akal. Mana ada orang yang senang dengan bau mulut yang tidak sedap? Tidak ada bukan? Apakah Islam itu jorok?

Tidaklah! Lalu?

Islam tidak mengajak gaya hidup jorok. Ajaran Islam dalam sehari mengajarkan untuk membersihkan bagian-bagian tubuh yang sering bersentuhan dengan udara atau bagian tubuh yang tidak tertutupi, yaitu dengan “berwudlu” minimal lima kali.

Dicontohkan pula oleh Rasulullah Saw bagaimana mandi besar, makanan dan minuman seperti apa yang boleh dikonsumsi. Bahkan, kapan sebaiknya menggosok gigi atau bersiwak.

Jadi tidak benar ketika kita berpuasa maka tidak apa-apa jika mulut kita berbau.

Hadist di atas hendak menyampaikan pesan yang patut dijadikan pegangan bagi orang-orang yang beriman, bahwa pahala atau hadiah bagi orang yang berpuasa sangatlah menyenangkan, yakni Allah memberikan pujian dan ridhlo padanya. Siapa yang tidak merasa istimewa dipuji oleh Allah? Mendapatkan ridhlo-NYA?

Kita dipuji oleh sesama manusia saja rasanya sudah selangit, bukan? Apalagi yang memuji kita itu adalah orang yang berkedudukan atau orang yang kita kagumi … dijamin akan serasa melayang di awang-awang.

Baik…mari kita sambut bulan istimewa ini dengan bau mulut yang harum. Harum di sisi manusia dan lebih harum di sisi Allah SWT.

*Diambil dari berbagai sumber Pustaka

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *