photo of camels on dessert

Jundub bin Junadah bin Sakan atau lebih dikenal dengan nama Abu Dzar al-Ghifari, berasal dari sebuah kabilah bernama “Ghifar”, terletak di jalur lalu lintas antara Mekkah-Syam. Sebelum cahaya Islam datang, kabilah ini dikenal sebagai sarangnya para penyamun, posisi mereka yang strategis digunakan untuk mencegat rombongan kafilah-kafilah dagang yang melintas. Agar perjalanan bisnisnya aman dan nyaman, kafilah-kafilah yang melintas di sana dengan terpaksa memberikan sesuatu untuk para penyamun, jika tidak maka semua harta dan nyawa taruhannya.

Meski berada ditengah-tengah masyarakat yang sedemikian buruk akhlaknya. Abu Dzar adalah orang yang banyak menyendiri, sebelum ia tahu bahwa ada seorang lelaki di Mekkah yang diutus menjadi Rasul, kehidupannya diisi dengan bertafakur (merenung) dan banyak beribadah. Kemudian ketika tersiar berita bahwa di Mekkah ada seorang lelaki yang dituduh macam-macam oleh kaummnya, karena ia mengaku sebagai utusan Tuhan. Abu Dzar merasa perlu mengecek kebenarannya.

Mendatangi Hidayah

Dan telah menceritakan kepadaku Ibrahim bin Muhammad bin ‘Ar’arah As Sami dan Muhammad bin Hatim lafazh keduanya tidak jauh berbeda, dan lafazh ini milik Ibnu Hatim keduanya berkata; Telah menceritakan kepada kami ‘Abdur Rahman bin Mahdi; Telah menceritakan kepada kami Al Mutsanna bin Sa’id dari Abu Jamrah dari Ibnu Abbas dia berkata, “Ketika Abu Dzar mendengar berita bahwasanya ada seorang nabi yang diutus di Makkah, maka ia berkata kepada Unais (saudaranya); ‘Hai Unais pergilah ke Makkah! Setelah itu, beritahukanlah kepadaku tentang laki-laki yang menyatakan bahwa ia adalah seorang rasul Tuhan yang mendapat wahyu dari langit. Dengarkanlah apa yang diucapkannya lalu sampaikan hal itu kepadaku!” Kemudian Unais berangkat hingga ia tiba di Makkah dan mendengarkan apa yang diucapkan oleh Rasulullah Saw. Setelah itu, Unais kembali kepada Abu Dzar seraya berkata; ‘Menurut pengamatanku, nabi utusan Tuhan tersebut mengajarkan budi pekerti yang luhur dan menyampaikan firman-Nya yang tidak sama dengan syair.’

Abu Dzar berkata; ‘Sepertinya aku belum puas dengan apa yang kamu katakan hai Unais dan aku ingin mengetahui informasinya Iebih banyak. OIeh karena itu, sebaiknya aku berangkat sendiri ke sana.’ Lalu Abu Dzar menyiapkan berbagai perbekalan dan membawa kantung berisi air minum. Setelah itu ia pun pergi berangkat menuju Makkah. Setibanya di Makkah, ia langsung pergi ke Masjidilharam untuk menemui Rasulullah. Namun karena ia belum mengenalnya dan enggan untuk bertanya, maka ia pun mengalami kesulitan untuk bertemu dengan beliau.

Hari Pertama

Setelah malam tiba, Ia tidur berbaring di dekat Ka’bah. Sementara Ali melihatnya dan ia tahu bahwa orang yang berbaring itu adaIah orang asing. Maka Ali menemani orang tersebut tanpa ada yang bertanya di antara keduanya sampai pagi.

Hari Kedua

Kemudian Abu Dzar membawa kantung air dan perbekalannya ke masjid. Seharian lamanya ia berada di tempat itu, namun ia tidak melihat Nabi Muhammad Saw. sampai sore. Lalu ia kembali ke tempat peristirahatannya. Tak lama kemudian Ali melewati tempat itu seraya berkata; ‘Mengapa orang ini belum pulang juga? ‘Akhirnya Ali mengajaknya untuk tinggal bersamanya tanpa ada yang bertanya tentang sesuatu di antara mereka berdua.

Hari Ketiga

Pada hari yang ketiga, Abu Dzar melakukan hal yang sama seperti hari sebelumnya. Lalu Ali mengajaknya lagi untuk tinggal bersamanya. Ali bertanya kepada Abu Dzar; ‘Mengapa engkau datang ke kota Makkah ini? ‘Abu Dzar menjawab; ‘Jika engkau berjanji untuk membimbing saya, maka saya akan mengerjakannya.’ Lalu Abu Dzar pun menuturkan maksudnya itu kepada Ali. Mendengar penuturannya itu, maka Ali berkata; ‘Sebenarnya Muhammad itu memang benar dan ia adalah utusan Allah.

Hari Keempat

Sebaiknya, besok pagi engkau ikut saya. Kemudian jika saya mencemaskan sesuatu padamu, maka saya akan berdiri, seolah-olah saya menuangkan air. Oleh karena itu, ikutilah kemana saya pergi! ‘Abu Dzar pergi mengikuti kepergian Ali, hingga keduanya masuk ke dalam rumah Nabi Muhammad Saw. Kemudian Abu Dzar mendengarkan penjelasan Rasulullah Saw. hingga ia langsung masuk Islam seketika itu juga. Nabi Muhammad Saw. berkata kepada Abu Dzar: ‘Pulanglah kamu ke kaummu dan sampaikanlah ajaran Islam kepada mereka hingga kamu mendapatkan kemenangan agama Islam.’ Abu Dzar berkata; ‘Demi Allah yang menguasai diriku, sungguh akan aku sampaikan Islam kepada mereka dengan sejelas mungkin.’

Kemudian Abu Dzar keluar dari rumah Rasulullah Saw. pergi menuju Masjid al-Haram. Sesampainya di sana ia berseru dengan sekuat tenaganya mengucapkan; ‘Aku bersaksi bahwasanya tiada sesembahan yang hak selain Allah semata dan aku bersaksi bahwasanya Muhammad itu adalah utusan Allah.’ Mendengar seruan itu, maka para penduduk kota Makkah terkejut dan saling berdatangan ke tempat sumber suara tersebut. Setelah mengetahui bahwa yang mengumandangkan suara itu adalah orang asing dan bukan penduduk Makkah, maka mereka pun langsung memukulinya hingga ia terjatuh. Tak lama kemudian Abbas bin Abdul Muththalib datang melindunginya seraya berkata; ‘Celaka kalian ini! Tidak tahukah kalian bahwa orang yang kalian pukuli itu adalah dari suku Ghifar? Dan tidak sadarkah kalian bahwa jalur perdagangan kalian ke negeri Syam pasti akan melalui wilayah suku Ghifar? ‘ Lalu Abbas pun langsung menyelamatkan Abu Dzar dari amukan orang-orang Quraisyy. Keesokan harinya Abu Dzar tetap melakukan perbuatan seperti itu, hingga orang-orang Quraisyy Makkah berdatangan untuk memukulinya. Kemudian Abbas pun datang untuk melindungi dan menyelamatkannya dari amukan mereka. (HR. Muslim: 4521)

Begitulah kisah dari seorang manusia yang senantiasa berpikir tentang keberadaan alam semesta ini, hingga akhirnya ia temui kebenaran yang hakiki, cahaya itu ia cari dan paparkan ke dalam dadanya. Ia tidak berdiam diri menunggu kebenaran menghampiri, dan memang seperti itulah seharusnya keimanan itu didapatkan, perpaduan antara hasrat, keingintahuan yang lebih, daya pikir yang jernih menjadi elemen yang seringkali dapat menghantarkan seseorang menuju keyakinan yang hakiki. Islam.

Abu Dzar al-Ghifari sejak saat itu termasuk salah seorang as-Sabiqun al-Awalun (orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama masuk Islam), ada yang mengatakan, ia adalah orang kelima yang terdahulu masuk Islam. Ditangannyalah setengah dari kaummnya ’Bani Ghifar’ mengucap syahadat, memeluk Islam, setengahnya lagi memeluk Islam ketika Rasulullah Saw berada di Madinah. Rahimahullah Abu Dzar al-Ghifari, sahabat yang ketawadhuannya disebut oleh baginda Nabi Saw. Mirip dengan ketawadhuan Nabi Isa alaihisalam. Wallahualam bissawab

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *