Oleh: Ade Zaenudin

Alkisah dalam kitab Mukasyafatul Qulub karya Imam Ghazali, ada seorang yang taat beribadah bernama Abu bin Hasyim seorang yang tidak pernah meninggalkan tahajud (qiyamullail) selama puluhan tahun

Satu ketika, saat hendak mengambil wudhu tiba-tiba Hasyim dikagetkan dengan kehadiran sesosok makhluk. Wahai hamba Allah, siapakah engkau? Tanya Hasyim. Aku adalah malaikat utusan Allah SWT. Jawab Malaikat sambal tersenyum.

Hasyim terkejut, sekaligus bangga karena dikunjungi tamu yang tidak biasa, yaitu malaikat mulia. “Apa yang sedang kamu lakukan?” Tanya Hasyim. “Aku disuruh untuk mencari hamba pecinta Allah SWT”. Jawab Malaikat.

Mendengar jawaban tersebut, Hasyim berharap dalam hatinya bahwa namanya terdapat dalam buku catatan amal saleh yang diterima tersebut. “Wahai Malaikat, adakah namaku tercantum di situ?”.

Malaikat memeriksa buku tersebut, namun malaikat tidak menemukan namanya. Kemudian Hasyim meyakinkan kembali agar malaikat memeriksa sekali lagi, barangkali namanya terlewatkan. Namun Malaikat tetap tidak menemukan namanya. “Betul, namamu tidak ada di dalam buku ini” Kata malaikat.

Hasyim gemetar, jatuh tersungkur dan menangis di depan malaikat. “Betapa ruginya diriku yang selalu tegak di setiap malam dalam tahajud dan bermunajat, tetapi namaku ternyata tidak masuk dalam golongan para hamba pecinta Allah SWT.” Ratap Hasyim

“Apa gerangan yang menjadi penyebabnya, hingga Allah SWT melarang untuk menuliskan namaku di dalamnya”. Tanya Hasyim sambil berlinang air mata.

“Engkau memang ahli beribadah kepada Allah SWT, namun sayangnya engkau pamerkan kemana-mana ibadahmu dengan penuh rasa bangga dan engkau juga asyik beribadah memikirkan diri sendiri. Padahal di kanan-kirimu ada orang sakit dan lapar, tidak engkau jenguk dan tidak engkau beri makan. Bagaimana mungkin engkau dapat menjadi hamba pecinta Allah SWT dan dicintai oleh-Nya, kalau engkau sendiri tidak pernah mencintai hamba-hamba yang diciptakan Allah SWT?” Jawab malaikat.

Kisah Hasyim tersebut memberikan beberapa pelajaran kepada kita. Pertama, bahwa beribadah tidak menjadi jaminan mendapatkan pahala dan masuk surga.

Ibadah adalah proses penghambaan manusia kepada Sang Maha dengan cara melakukan apa yang diperintah-Nya atau menjauhi larangan-Nya. Dengan demikian, jelas bahwa ibadah itu bukan untuk dipersembahkan kepada manusia tapi untuk dipersembahkan kepada Allah SWT. Al-hasil, kalau salah sasaran, wajar kalau tidak dapat pahala karena yang punya pahala adalah Allah SWT, bukan manusia.

Kedua, Perlunya keseimbangan antara ibadah mahdhah dan ghair mahdhah (ibadah yang langsung kepada Allah dan ibadah yang melalui perantaraan manusia).

Ibadah berdimensi individual vertikal yang kita lakukan seperti salat, puasa, dan lain sebagainya harus diimbangi juga dengan ibadah sosial horizontal seperti zakat, sadaqah, peduli pada alam dan lain sebagainya. Tidak boleh kita biarkan ada tetangga yang kelaparan pada saat kita berkecukupan.

Dalam beberapa ayat kita menemukan perpaduan serasi antara ibadah individual dan sosial, misalnya di At-Takatsur ayat 2, “Salatlah kepada Tuhanmu dan berkurbanlah”. Bahkan setidaknya ada 24 ayat yang menyandingkan antara salat dengan zakat. Kodenya keras, sangat jelas.

Oleh karena itu, mari kita orientasikan ibadah pada jalur yang semestinya, yaitu dalam rangka memenuhi perintah-Nya, bukan untuk dinilai oleh manusia.

Mari belajar dari kisah Hasyim di atas, bahwa kesombongan dan ketidakpedulian bisa menghanguskan pahala. Sia-sia. Naudzubillah

0Shares

By Admin

One thought on “Ibadah yang Sia-sia”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *