Oleh: Moh. Anis Romzi

Warna-warni kehidupan pastilah ada. Karena dari sanalah aneka cerita lahir. Cerita yang dapat dijadikan pelajaran bagi yang berpikir. Ada cerita baik dan yang buruk. Keduanya selalu berpasangan. Baik dan buruk kehidupan memberikan pesan untuk kita pembelajar untuk dapat memilih. Hasil dari pembelajaran adalah tindakan atas dasar pengetahuan, pengalaman, dan keterampilan yang diperoleh saat proses belajar. Hidup itu adalah belajar untuk mendapatkan kebaikan di dunia dan akhirat.

‘Selamat datang di dunia tipu-tipu’. Sebuah ungkapan yang ramai di status kaum mileneal. Saya memaknai sebagai sebuah skeptisisme. Bahwa dunia dipandang sebagai sebuah keragu-raguan. Tidak bisa dipungkiri bahwa memang ada yang menipu. Dunia itu permainan dan tipu daya (al-Qur’an). Namun di sinilah memang tugas kita sekarang. Sekalipun tipu daya masih tetap ada pedoman. Di sini pula kita diminta untuk berbekal menuju kampung akhirat. Generalisasi penuh tidaklah cukup bijaksana.

Alhamdulillah, di Indonesia tempat kita bernaung hanya ada dua musim. Berdasarkan kondisi geografis sepanjang tahun dapat digunakan untuk bekerja. Bahwa ada bagian yang Dia sediakan lebih daripada yang lain. Namun, tidak sedikit yang lalai menyukurinya. Kenikmatan hidup ini akan ada pertanggung jawabannya. Hidup di Indonesia adalah berkah.

Hidup adalah anugerah. Tidak semua diberikan kehidupan yang sama. Beberapa diberi kelebihan dari yang lain. Apakah itu adil? Persepsi bahwa keadilan harus sama jamak dipahami. Muncul aneka tuntutan persamaan untuk yang namanya keadilan. Semua harus rata, sama. Tidak sedikit korban dalam memperjuangkan atas nama persamaan. Persepsi adil harus sama tidak sepenuhnya benar. Tetap ada sisi yang berbeda dalam keadilan. Penempatan hal pada posisinya itulah keadilan. Jadi kalau ada yang lebih bukan berarti keadilan itu tidak ada.

Hidup tidak pernah satu warna. Begitulah adanya. Ada sekian miliar manusia yang isi kepala dan hatinya berbeda. Tindakan pun menghasilkan sesuatu yang berbeda pula. Namun tetap dapat dikelompokkan. Ini semata karena keterbatasan manusia. Warna-warni hidup ya bermiliar jumlahnya. Kehidupan itu satu, namun warnanya beragam. Tidak perlu minder berbeda dalam hidup.

Menjalani hidup dengan mengingat tugas pengabdian. Andai warna hidup itu berupa profesi, maka apa saja profesi mempunyai tugas pengabdian. Mereka hanyalah pengantar untuk menuju-Nya. Berikan pengabdian terbaik pada warna profesi Anda. Ia akan menyala tanpa harus memberi tahu kalau pernah ada. Ingat pada tugas pengabdian hidup mengikis kesombongan warna pada hidup yang lain.

Apapun warna hidup kita, mari tebar kebaikan semampu yang kita bisa. Sebuah eksperimen sederhana tentang warna. Aneka warna yang berbeda, ketika ia dijajar dalam sebuah roda. Kemudian roda itu diputar cepat. Pada akhirnya hanya akan menghasilkan satu warna. Putih. Ini seperti perlambang bahwa pada akhirnya semua akan menujunya. Tidak ada warna abadi. Seperti kehidupan itu sendiri.

Anda sendiri yang menentukan warna hidup. Jika Anda meyakini bahwa hidup itu adalah pilihan. Anda berhak merencanakan dan memilih warna hidup. Jadilah sebagai pelengkap yang indah karena pilihan warna yang benar. Tidak harus sama untuk indah. Pun sebaliknya sama tidak mengapa, ini karena memang Anda menyadarinya.

Merah, biru, hitam, putih kehidupan hanyalah visualisasi. Sekadar gambaran bahwa kita diciptakan berbeda. Namun seyogianya tidak perlu dibedakan hanya karena warna. Ada putih sebagai akhir tujuan dalam aneka warna kehidupan. Memang hidup kadang merah, biru. Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 3/2/2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *