Harus Bagaimanakah
MaryatiArifudin, 15 Ramadhan 1442

Aku harus bagaimana menjalani seorang hamba? Apakah aku harus termenung dan diam diri saja. Ataukah ku ambil kesempatan tuk mengisi ramadhan tahun ini tidak sia-sia.

Keputusan ada ditangan anda. Ramadhan tinggal lima belas hari saja. Andai ingin mengikuti jalan Tuhan-Nya tinggal mempraktekkan ajaran yang dibawanya. Jadikan rujukan ajaran Islam yang mulia jangan ada keraguan di dalamnya.

Banyak tausyiah berupa hikmah, berita-berita besar, dan peringatan berupa perintah serta larangan Tuhan-Nya telah tersampaikannya. Buka pendengaran, penglihatan, hati kalian agar bersegera meraih ampunan-Nya. Sehingga tumbuh dalam diri takut dan harap hanya kepada Sang Pemilik Alam.

Kita telah mendengar berita besar itu untuk menjadi pengingat kehidupan. Saat ini, genderang perang terhadap hawanafsu harus dikokohkan. Tuk segera beramal terbaik agar tidak muncul penyesalan. Kembalilah, ke jalan Tuhanmu yang memberi kedamaian dan ketenangan dalam kehidupan.

Firman Allah surah Al-hujarat: 13: Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.

Gambarannya jelas bukan banyak harta atau tingginya tahta yang membuat hati yang damai. Tetapi, sungguh ketaqwaanlah yang membuat hati dan jiwa menjadi tentram damai. Maka itu, jagalah hati jangan kau kotori.

Dalam Az Zumar 22 : “Maka celakalah bagi mereka yang keras qalbunya dari berdzikir kepada Allah. Mereka berada dalam kesesatan yang nyata”.

Renungkanlah! Kurang jelaskah akan berita-berita besar yang menjadi pengingat diri. Berita tentang hari qiyamat, surga dan neraka, perintah dan larangannya, kisah dan azab orang -orang dahulu. Ku bertanya pada diri,” Belum mampukah berita besar kita menundukkan hawa nafsu ini”? Sampai kapan hati kita akan keras membatu. Apakah harus Alloh SWT menurunkan peringatan atau azab tuk kita? Harapan semua hamba, jangan sampai murka Alloh turun ke muka bumi.

Berhentilah! Berbuat maksiat pada Tuhanmu. Ingat ketundukkanmu akan bermaanfaat untuk dirimu sendiri. Kebaikanmu bukan untuk ibu dan bapakmu, apalagi tuk Tuhanmu. Dirimu berbuat yang tidak terpuji atau terpuji tidak akan mengurangi keagungan Tuhanmu. Ingatlah! Setiap diri akan berpertanggung jawab pada dirinya sendiri.

Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah dilakukannya. ( Surat Al-Muddatstsir, Ayat 38)

Kembalilah ke jalan lurus, pintu taubat selalu terbuka bagi siapa yang ingin memperbaiki diri. Alloh sangat mencintai hambanya yang bertaubat dengan kesungguh hati. Lunakkan hatimu untuk mengakui segala dosa-dosa dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.

Bukalah hatimu, bahwa sumber kerapuhan hati dari perkara yang melenakan. Sungguh kerapuhan hatimu berasal dari lalai dan merasa aman. Lalai terhadap perintah dan larangannya, lalai akan datangnya hari kemudian, dll. Merasa aman saat bermaksiat karena segala dosa dan kesalahan yang kita berbuat tidak langsung dihisab atau segera turun azab. Segera jauhkanlah maksiat agar hati kita tidak membatu.

Andai segala dosa dan kesalahan itu berbau atau menebar warna di wajah kita apa yang terjadi wahai sabahat? Bisa jadi kita tak punya sahabat atau kawan yang mau mendekat. Bersyukurlah! Segala dosa yang kita lakukan tidak meninggalkan bekas pada jazad atau wajah walau sesaat. Renungkan! Andai setiap dosa yang kita lakukan meninggalkan noda di wajah hambanya. Apa kata dunia?

Ingatlah! Kemaksiatan ibarat suatu wabah yang harus dibuang jauh dan harus dicegah. Buang jauh wabah dari pikiran dan hati kita. Jangan sampai wabah mendekat apalagi melekat. Jika terlanjur tersentuh segera sucikanlah, agar tubuhmu mampu berpikir sehat. Akhiri segera aktivitas yang tidak bermutu berupa maksiat walau sesaat yang membuatmu sesat. Wahai saudaraku mari kita segera bertaubat, sebelum pintu ampunan ditutup rapat-rapat.

Taubat telah kita lakukan berjanjilah pada diri agar tidak mengulangi kemungkaran dan maksiat walau sekejab. Berjanji akan selalu berbuat yang terbaik mengikuti syariat. Insya Alloh hidup terasa hitmad dan ketenangan batin akan didapat. Bukankah kunci kedamaian dan ketenangan hadir jika kita mampu mendekat pada-Nya.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.[ar Ra’d/13:28].

Bersegera perbaiki diri! Saatnya, Ramadhan tahun ini kita berhitmad untuk menghidupkan ramadhan mengikuti sunah-sunah-Nya. Penuhilah lisan-lisan dengan berdzikir pada Alloh semata. Tumbuhkan rasa takut dan berharap. Takut saat amalan tidak diterima akibat tumbuhnya penyakit hati yang tak terlihat. Dan berharap, agar dosa-dosa diampuni dan amalan ramadhan menjadi timbangan pemberat.

Referensi:
https://almanhaj.or.id/25137-antara-ketenangan-jiwa-kedamaian-hati-dan-sebuah-kebenaran-2.html
http://m.voaislam.com/news/muslimah/2011/08/24/15844/mengapa-hatimu-begitu-keras-dan-hidupmu-terasa-kacau/

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *