Oleh: Naufal Al-Zahra

Namanya tertulis dalam lembaran sejarah bangsa Indonesia sebagai tokoh yang memantik api kebangkitan nasional. Semua orang mengakui ketokohannya sebagai pemimpin besar bumiputra. Bahkan, kolonial sendiri memberinya titel sebagai “Raja Jawa Tanpa Mahkota”. Di balik kebesaran namanya sebagai pemimpin bumiputra pada paruh awal abad 20, tak banyak orang yang tahu bahwa dirinya pernah melewati hari-hari yang pelik sebelum akhirnya ia bisa memimpin dan menggerakkan jutaan orang di bawah payung Sarekat Islam.

Anhar Gonggong dalam HOS Tjokroaminoto mengisahkan, Raden Mas Hadji Oemar Said Tjokroaminoto lahir pada 16 Agustus 1886 di Bakur, Madiun, Jawa Timur. Ia merupakan anak kedua dari dua belas bersaudara. Ia terlahir dari keluarga ningrat yang juga memiliki darah ulama. Darah ningrat diwariskan dari ayah dan kakeknya; Tjokroamiseno dan Tjokronegoro. Sementara, darah ulama diwariskan dari buyutnya, Kiai Kasan Basari. Sebagai keturunan ningrat, ia dinikahkan juga dengan seorang putri ningrat yaitu Raden Ayu Suharsikin.

Sebagai keturunan ningrat, Tjokroaminoto mengenyam jenjang pendidikan yang berkelas. Ia adalah alumni OSVIA, sekolah yang menghasilkan pamongpraja di era kolonial Hindia-Belanda. Mungkin saat ini semisal IPDN. Setelah lulus dari OSVIA, ia digadang-gadang dapat meneruskan karir keluarganya sebagai seorang abdi negara.

Awalnya ia mencoba mewujudkan harapan keluarganya dengan bekerja sebagai seorang juru tulis patih di Ngawi. Profesi tersebut tentu sangatlah prestisius dan diidam-idamkan oleh kalangan bumiputra. Namun, setelah tiga tahun bekerja ia memutuskan untuk berhenti dari pekerjaannya itu.

Meskipun lulusan OSVIA, Tjokroaminoto adalah sosok yang unik, ia tergolong orang yang mudah bosan dalam menekuni satu bidang pekerjaan dan pantang gengsi mencoba berbagai jenis pekerjaan yang biasa dilakukan oleh rakyat pada umumnya. Hal ini terlihat dari rekam jejak pekerjaannya, ia sempat bekerja di Firma Kooy & Co sambil menempuh studi di Burgerlijke Avondschool (1907-1910). Kemudian, beralih menjadi pegawai di perusahaan gula Surabaya, setelah itu ia pindah lagi menjadi calon masinis (1911-1912). Tindakannya yang seringkali berpindah-pindah pekerjaaan padahal itulah yang justru menyebabkan hubungannya merenggang dengan keluarga istrinya.

Dengan tindakan semacam itu, Mangunsumo yaitu mertuanya yang juga seorang Wakil Bupati Ponorogo mempersoalkan keputusan dan juga tindakannya. Alih-alih menduduki jabatan strategis dalam institusi pemerintahan, Tjokroaminoto memilih untuk resign di bidang itu dan malah bekerja di bidang-bidang yang pada umumnya dilakukan oleh rakyat biasa. Akibatnya, perbedaan paham antara menantu dan mertua pun tak bisa dihindarkan. Dari hari ke hari ketegangan antara keduanya semakin jelas dan memanas.

Dalam menghadapi situasi yang tidak kondusif di dalam rumah, Tjokroaminoto berpikir untuk menjauh dari keluarga istrinya. Ia pun benar-benar kabur dari rumahnya, meninggalkan Sang Istri yang tengah mengandung anak pertama. Tentu saja, hal itu semakin membuat emosi mertuanya membuncah.

Kali ini, ayah Raden Ayu Suharsikin memerintahkan putrinya untuk menceraikan suaminya lantaran telah membuat malu nama keluarga dan mencoreng martabat keluarganya. Namun, istri Tjokroaminoto dengan tegas tidak ingin melakukannya. Dikisahkan dalam HOS Tjokroaminoto, Suharsikin berkata kepada ayahnya:

“Ayahku, ketika ananda akan dikawinkan dengan Mas Tjokro, ananda sama sekali tidak mengenalnya, ananda menerima, taat kepada kehendak ayah bunda. Dan sekarang ananda diminta bercerai dengan Mas Tjokro,….anandapun……menerima , ananda taat atas kehendak ayah bunda itu, tetapi…syaratnya…ananda tidak akan kawin lagi dengan orang lain….seumur hidup ananda tidak akan kawin lagi. Sebab…Mas Tjokro lah suami ananda seumur hidup….Mas Tjokro lah suami ananda dunia dan akhirat…ananda tidak akan mempunyai lagi suami yang lain.”

Dari perkataan di atas kita bisa menilai betapa tulusnya Suharsikin dalam mencintai belahan hidupnya. Tanpa tergoyahkan oleh perkataan Sang Ayah, Suharsikin memilih setia dan berbaik sangka. Di sisi yang lain, sekilas mungkin saja kita menilai tindakan Tjokroaminoto sebagai seorang laki-laki dan suami tidaklah gentle. Namun, perlu digaris bawahi, alasan dirinya meninggalkan Sang Istri yang tengah hamil bukanlah persoalan yang sederhana. Ia tidak ingin kehidupan keluarganya diwarnai percekcokan yang tak bisa diprediksi kapan akan berakhir dan yang tak kalah penting, Tjokroaminoto tak ingin istrinya yang sedang mengandung melihat ketegangan hubungan di dalam rumah.

Sementara, ia pergi jauh dan menetap di Semarang, Jawa Tengah. Ketika hidup di sana, ia berusaha memenuhi kebutuhan hidup dengan cara bekerja menjadi seorang kuli pelabuhan. Di saat-saat itulah kepedulian Tjokroaminoto terhadap buruh mulai tumbuh, ia merasakan jerih payah bumiputra yang bekerja sebagai buruh. Kelak di kemudian hari, ketika ia memimpin Sarekat Islam, kaum buruh mendapatkan pembelaan dari organisasinya.

Di balik ketersediaan fasilitas sebagai keturunan ningrat, Tjokroaminoto tidak serta merta melewati hari-hari dengan penuh kemewahan. Justru sebaliknya, meski terlahir dari keluarga ningrat namun ia sama sekali tidak memanfaatkan kedudukannya untuk memenuhi kepentingan dirinya sendiri. Ia memilih jalan ideal-nya dengan menempuh hidup yang penuh lika-liku perjuangan. Inilah hari-hari pelik Tjokroaminoto yang akan membentuk pribadinya semakin kuat dan hebat pada masa-masa berikutnya.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *