banner 728x250

Hardiknas Bertindih Lebaran

banner 120x600
banner 468x60

Idul Fitri 1443 H jatuh bertepatan dengan peringatan Hari Pendidikan Nasional. Dua hari besar yang biasa diperingati dengan cara yang berbeda. Satu sisi bernuansa religi, sisi lainnya rasa nasionalisme. Dua kutub berbeda, namun tidak perlu rasanya untuk dibedakan. Keduanya berkontribusi besar terhadap berdirinya bangsa Indonesia ini. Ki Hajar Dewantara dengan kapasitas religi dan nasionalisme meramu pendidikan yang menjadi akar pendidikan Indonesia.

Gema suara pendidikan terdengar lirih. Ini berbanding terbalik dengan fenomena mudik. Tradisi sosial lebaran yang sejak dua tahun dilarang pemerintah sebab pandemi Covid-19. Tahun ke-3 kembali diizinkan. Tentu euforia suasana kemeriahan lebaran laksana petasan. Ia meledak kecil-kecil seantero dunia.

banner 325x300

Walaupun kecil dalam dalam gema, pendidikan tetap harus digaungkan. Ia sarana pemartabatan bangsa di mata dunia. Ini harus diakui, bahwa sejarah berdiri bangsa Indonesia dipelopori kaum terdidik. Dr. Soetomo, Dr. Wahidin, Ir. Soekarno, Moh. Hatta dan masih banyak tokoh mempelopori pergerakan karena pendidikan yang disandangnya.

Selalu ada makna tersirat dalam sebuah peringatan. Pun hari raya Idul Fitri dan hari pendidikan nasional yang datang berbarengan. Idul Fitri kali ini begitu menguras emosi. Setelah melandainya kasus covid-19 dan pelonggaran banyak kegiatan kemasyarakatan. Mudik menjadi trend kembali setelah dua tahun menghilang. Peringatan Hari Pendidikan Nasional (seperti) terlupakan. Tiada mengapa, toh pendidikan tetap masih berjalan.

Sedikit yang membicarakan peringatan pendidikan Indonesia kali ini. Sepertinya pendidikan masih belum dirasakan sebagai hajat orang banyak. Kehadirannya masih belum dianggap sebagai sebuah solusi problem kehidupan. Ini sangat wajar, karena pendidikan menggarap investasi jangka panjang. Manusia sebagai objek pendidikan, perubahannya akan terasa setelah satu generasi berganti.

Sebagian dunia masih berperang, Rusia dan Ukraina. Aneka kepentingan melatari di belakangnya. Tidak sedikit mata dunia yang terus-menerus menoleh pada perang ini. Tidak sedikit sentimen keagamaan ditarik, atau mungkin saja tertarik untuk bersikap pada perang antar dua negara yang berselisih. Sedikit suara pendidikan menyoal soal perang ini. So, masihkah pendidikan boleh dikatakan sebagai penyelesaian konflik?

Dua momen jatuh pada waktu yang sama, bukanlah satu kebetulan. Dua momen besar yang dipersatukan memberi kesempatan dua refleksi sekaligus. Sisi relijus, dan sisi sosial kemanusiaan. Idul Fitri dapat ditarik kembali sebagai sarana pemersatu kekerabatan yang bersifat emosional, sementara pendidikan harus ditempatkan menyeluruh dalam kehidupan beragama, berbangsa dan bernegara.

Selamat berlebaran sekaligus berpendidikan. Kembali pada fitrah jiwa dan pendidikan yang memanusiakan manusia.

Singam Raya, Katingan, Kalteng.  03/05/2022

Penulis: Moh. Anis Romzi
Sahabat Kalimat Katingan Kuala – Kalteng

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *