photo of turned on night lamp

Harapan Sepertiga Ramadhan

Maryati Arifudin, 10 Ramadhan 1442

Sore menunggu buka puasa sungguh ada sejuta nikmat. Apalagi bisa berbuka bersama dengan sahabat, kerabat atau tetangga yang dekat.

Saat Ramadhan hadir kami dibuat semakin akrab, sambil menikmati buka bersama buatan sahabat. Jadi, persaudaran terasa rekat dan sedap.  Sambil berbuka kadang diselingi cerita singkat membuat kita dapat tersenyum sekejab.

Walau musibah corona mewarnai kampus kami, agenda takjil tetap semangat. Kami warga kampus SMK membuat komitmen satu kalimat sepakat. Hadir berbuka bersama tetap memperhatikan protokol kesehatan yang ketat.

Peraturan ketat dibuat, sungguh sebagai usaha preventif memutuskan virus covid 19 segera berakhir. Semua orang pasti berharap agar wabah hilang lenyap. Saat ini, kesempatan untuk berharap semua tangan mengiba mohon ampun atas dosa yang telah dibuat. Jika perlu segera sholat taubat, agar Alloh SWT segera mengabulkan doa umat.

Perintah bertaubat nasuha ini ada pada Al Qur’an dalam surat At-Tahrim ayat 8, yang artinya: ” Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya). Mudah-mudahan Rabbmu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu.

Masing-masing pribadi berbenah tuk mengharap rahmat dan pertolongan kepada Alloh SWT. Di saat sujud-sujud terakhir mohon ampunannya, agar negeri ini terbebas dari wabah yang ada. Sungguh, hanya Alloh SWT yang mampu membebas musibah besar ini. Sungguh Allah tidak menurunkan suatu penyakit melainkan juga menurunkan penawar baginya.

Semua insan hanya bisa menghamba, mohon ampunannya. Kita hanya insan biasa banyak salah dan doa. Hari ini, kami bermunajat agar terbebas dari musibah wabah ini. Hanya pada-Mu kami memohon, ampunilah dosa-dosa hamba. Turunkan rahmadmu di bulan mulia ini. Sungguh Engkau Ya Alloh, Tuhan yang tak pilih kasih yang mampu  mengabulkan doa-doa hamba yang bertaubat.

Sungguh hanya Alloh saja, Rabb manusia Yang Menghilangkan kesusahan, berilah kesembuhan, Engkaulah Zat Yang Maha Menyembuhkan.  Tidak ada yang mampu menyembuhkan kecuali Engkau, kesembuhan yang tidak meninggalkan penyakit lain” (HR Bukhari 541).

Penuhilah lisan ini dengan dzikir kepada-Nya. Perbanyak istighfar dan berjanji tidak mengulangi dosa-dosa besar. Mumpung bulan suci ini, Alloh menurunkan ampunan. Percayalah, hanya Alloh saja yang bisa menghilangkan kesusahan dari wabah ini.

Percayalah! Alloh sangat menyukai semua orang yang benar-benar bertaubat dan menghindari diri dari perbuatan dosa. Seperti yang difirmankan dalam Al-Baqarah 2:22, yang artinya: ” Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”

Lara akan segera sirna. Kesusahan pasti ada jalan keluarnya. Asalkan, semua makhluk di bumi  melakukan taubat nasuhaa dengan semurni-murninya. Sehingga, Alloh SWT akan menutupi segala kesalahan kita dan mengganti dengan rahmad-Nya.

Hanya satu langkah para sahabatku bahwa kita semua makin mendekat. Kita harus sadar diri bahwa dunia sudah penuh dosa-dosa besar, sehingga wabah ini belum punah. Malah, tumbuh wabah lainnya yang makin mengganas. Perhatikanlah! Penanganan wabah belum optimal, bencana banyak bermunculan. Sungguh! Kita umat di bumi banyak bermuhasabah diri. Agar, pintu ampunan terbuka dan  musibah segera berhenti.

Sungguh pintu ampunan akan terbuka, jika diawali dari sikap muhasabah. Muhasabah adalah sikap mawasdiri. Sikap memperhatikan dan merenung kesalahan atau dosa yang telah diperbuat. Perintah untuk intropeksi diri terdapat dalam surah al-Hasyr ayat 18.  

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah (dengan mengerjakan suruhan-Nya dan meninggalkan larangan-Nya), dan hendaklah tiap-tiap diri melihat dan memerhatikan apa yang ia telah sediakan (dari amal-amalnya) untuk hari esok (hari Akhirat).

Jadikan  bulan Ramadhan sebagai bulan bermuhasabah. Lakukan muhasabah diri saat kita sendiri atau berkumpul dengan sahabat atau tetangga dekat. Tidak ada salahnya berkumpul tuk muhasabah diri dari pada berbicara ke kanan dan ke kiri.

Apalagi saat menunggu buka puasa tiba bersama tetangga dekat lakukanlah muhasabah diri. Mengakui segala kesalahan dan dosa yang telah berlalu. Segera penuhi lisan kita dengan dzikir bersama agar ramadhan makin bermakna. Sadar akan kesalahan diri maka perbanyaklah istighfar. Setiap jiwa dirikan sholat taubatan nasuhaa sehingga ampunan Alloh turun ke bumi. Akhirnya, segala musibah akan sirna di ramadhan tahun kedua. Itulah, harapan kita bersama.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *