Oleh: Moh. Anis Romzi

Suatu saat saya masuk kelas mengganti pendidik yang berhalangan hadir. Selain mengajar terkadang saya mengajak peserta didik berdiskusi tentang satuan pendidikan. Ini saya maksudkan untuk mendengarkan langsung keluhan mereka perihal proses pendidikan di SMPN 4 Katingan Kuala. Saya berpendapat bahwa mereka adalah pelanggan eksternal utama terhadap layanan pendidikan yang telah dilaksanakan. Suara mereka dapat digunakan menjada bahan penyusunan rencana kerja sekolah pada tahun yang akan datang.

Dalam sebuah diskusi dengan peserta didik saya mencoba memancing harapan mereka untuk sekolahnya.” Kalian sudah belajar di sini selama 2,5 tahun. Apakah kalian melihat hal-hal yang perlu diperbaiki?” Saya memulai dengan pertanyaan. Saya hafal nama-nama peserta didik satu per satu. Ini karena memang jumlah peserta didik SMPN 4 Katingan Kuala hanya berjumlah 137 siswa. Setiap pagi saya menyambut mereka di depan gerbang sebagai bentuk perhatian sederhana. Dari kegiatan sambut pagi ini memudahkan saya untuk akrab dengan peserta didik. Terkadang mereka juga menyampaikan keluhan secara langsung dengan leluasa.

Beberapa tanggapan peserta didik masih bersifat pada hal konkret. Mayoritas dari mereka menyoroti sarana dan prasarana yang ada di sekolah. Mereka telah berproses selama dua tahun lebih. Kelas tertinggi dapat merasakan proses yang telah dilakukan selama ini. Tanggapan mereka bisa menjadi data kualitatif yang objektif. Selain itu suasana yang ramah dan hangat dari para pendidik memberikan ruang yang sangat terbuka untuk berpendapat.

“ Saya ingin sekolah kita dicat. Itu sudah mulai kusam, pak. Saya berharap dinding luar seluruh sekolah seragam warnanya. Bagian dalam biar kami yang berekspresi.”

“ Kami ingin ada fasilitas wifi untuk siswa pak. Supaya bebas mencari informasi.”

“Ini pak, meja dan kursi kita sudah mulai rusak. Mohon diperbaiki ya?”

“Kalau perihal proses pembelajaran, apakah ada permasalahan? Atau ada bapak, ibu guru belum cukup jelas menjelaskan materi?” Saya mencoba mengarahkan diskusi pada proses pembelajaran. Ini adalah vital dalam sebuah satuan pendidikan. Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) adalah ruh dari seluruh proses pendidikan. Ia harus dirawat dan diutamakan. Jika KBM dapat berlangsung dengan menyenangkan, ada harapan prestasi belajar juga meningkat.

“ Kalau dalam pembelajaran menurut saya baik pak. Bapak dan ibu guru dapat menjelaskan materi pelajaran dengan cukup jelas.” Jawab seorang peserta didik kelas 9b. Entah ini karena takut atau hal lain. Namun pastinya ada yang mewakili menjawab terkait proses pembelajaran di SMPN 4 Katingan Kuala. Baik tetapi belum cukup. SMPN 4 Katingan Kuala senantiasa berusaha memenuhi harapan pengguna layanan jasanya. Salah satu komitmen bersamanya adalah” Kita memiliki komitmen terhadap peningkatan yang kontinyu.”

Dari hasil diskusi dan masukan peserta didik perihal sekolah kami jadikan bahan untuk evaluasi mingguan SMPN 4 Katingan Kuala. Evaluasi yang diikuti oleh seluruh guru dan karyawan. Evaluasi ini dimaksudkan untuk mengidentifikasi permasalahan sejak dini. Agar masalah yang lebih besar dapat dicegah. Selain itu evaluasi dimaksudkan untuk menjaga arah dan tujuan pendidikan di SMPN 4 Katingan Kuala. Apabila masalah muncul segera dapat dicarikan jalan keluar bersama.

Harapan dan kepuasan peserta didik adalah cita-cita satuan pendidikan. SMPN 4 Katingan Kuala berkomitmen untuk mengutamakan peserta didik dalam proses pembelajaran. Dengan berupaya memenuhi harapan peserta didik akan timbul semangat mereka dalam belajar. Dan pada akhirnya mereka menjadi peserta didik yang wellbeing. Peserta didik bahagia belajar di rumah keduanya SMPN 4 Katingan Kuala.

Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 22/11/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *