Oleh: Ade Zaenudin

Pandemi baru saja menyapa, menerpa sekaligus menempa kekuatan semesta, mendidik manusia agar semakin kuat menghadapi segala kemungkinan yang ada.

Di sisi yang berbeda, pandemi seolah memastikan hadirnya ketidakpastian, tidak pasti apakah pandemi benar-benar sirna, atau hadir kembali dengan varian berbeda, tidak pasti kapan kondisi ekonomi akan pulih secara sempurna, dan masih banyak ketidakpastian yang menjadi misteri.

Dalam perspektif yang lain, kita juga bisa melihat peluang yang nyata, dalam percaturan bangsa-bangsa misalnya, pandemi justru memosisikan semua negara berada pada garis start yang sama, entah itu negara maju, berkembang, maupun terbelakang, pada saat yang bersamaan semuanya berjuang bangkit dari titik yang sama, titik nol. Lalu siapa pemenangnya?

Sebagian orang akan berasumsi bahwa negara yang sudah mapan akan lebih survive, dan “pendatang baru” akan tertatih bahkan tumbang. Namun, asumsi mereka adalah sesuatu yang tidak pasti juga. Mari kita belajar dari perusahaan Motorola atau Nokia yang kandas di kaki para pendatang baru berbasis android. Bisa saja negara berkembang seperti Indonesia menjadi negara maju menyalip kekuatan negera-negara adidaya. Lalu apa resepnya?

  1. Update dan Upgrade

Mari kita berkaca dari perusahaan ekspedisi, kita pernah menjadi saksi kejayaan PT Pos Indonesia, perusahaan yang sudah lama bahkan milik negara. Belakangan justru harus merubah strategi agar bisa bersaing dengan perusahaan-perusahaan baru di bidang ekspedisi.

Begitu juga perusahaan-perusahan di bidang media, sebut saja Kompas dan Republika yang harus berjibaku dengan kedahsyatan media sosial, atau media-media online yang semakin bermunculan. Kata kuncinya adalah keberanian meng-update dan meng-upgrade diri.

Meng-update berarti kemampuan menyesuaikan dengan perkembangan jaman. Kita harus sadar bahwa perubahan adalah sebuah keniscayaan. Disrupsi tidak bisa diingkari. Kita dihadapkan pada perubahan iklim, teknologi, sosial, dan budaya. Siapa yang bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan jaman maka dialah yang berpeluang memenangkan persaingan.

Meng-upgrade berarti kemampuan menaikan nilai atau kualitas. Salah satu cara untuk menaikan kualitas atau kompetensi adalah menjadi pembelajar sepanjang hayat. Seorang pembelajar tidak akan pernah malu untuk belajar dari siapa pun serta tidak akan pernah puas dengan pembelajaran yang sudah di dapat. Kemaruk akan ilmu pengetahuan adalah keharusan.

Jika bangsa ini ingin memenangkan persaingan maka harus berani untuk meng-update dan meng-upgrade dirinya. Jangan hanya bangga dan terlena dengan keberhasilan dan keberanian nenek moyangnya saja, serta tidak boleh puas dengan pencapaian yang didapat.

Paul Scholz dalam teori Adversity Quotien (AQ)-nya membagi tiga tipe kepribadian, quitters, campers, dan climbers. Seorang quitters tidak tertarik dengan sesuatu yang menantang bahkan cenderung alergi dengan perubahan, dia tidak berusaha meng-update dan meng-upgrade potensi yang dimilikinya. Seorang Campers agak mendingan, dia akan mencoba sesuatu yang baru, tapi kalau sudah merasa berhasil, dia tidak ada keinginan untuk menaikan kapasitasnya, padahal dia masih punya potensi untuk naik ke posisi yang lebih tinggi.

Jika bangsa ini mau maju maka harus memiliki mental climbers. Dia akan senantiasa mendaki dan tidak pernah merasa puas dengan pencapaian yang didapat, dia harus senantiasa meng-update dan meng-upgrade potensi yang dimiliki.

  • Konsisten dan persisten

Bangsa ini hadir dalam rangka mempertaruhkan sebuah tujuan bersama yaitu melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia, memajukan kesejahteraan umum, serta mencerdaskan kehidupan bangsa.

Kalau bangsa ini mau maju maka pegang erat-erat tujuan tersebut secara konsisten dan persisten. Konsisten bermakna terus menerus, senafas dengan istiqomah. Persisten bermakna gigih, tahan banting mewujudkan cita-cita yang diharapkan, senafas dengan mujahadah atau jihad (penuh kesungguhan).

Bangsa Indonesia harus konsisten dan persisten melindungi kepentingan segenap bangsa bukan beralih atau bahkan berdalih untuk melindungi kepentingan bangsa lain. Mari belajar dari sejarah bahwa negara kita selalu dirongrong begitu banyak kepentingan, mending kalau masih saling menguntungkan, bagaimana kalau mereka hanya ingin meraup keuntungan. Mari konsisten dan persisten memajukan kesejahteraan umum, bukan kesejahteraan individu atau kelompok, mari konsisten dan persisten mencerdaskan kehidupan bangsa, bukan saling mengkerdilkan kehidupan bangsa.

  • Ketepatan dan kecepatan

Pandemi membuat semua bangsa tiarap di saat yang bersamaan, kemudian bersiap sprint setelah sesaat tertidur dan melewati mimpi buruk. Siapa yang lebih cepat bergerak maka dialah pemilik peluang terbesar kemenangan.

Kesempatan tersebut mestinya tidak disia-siakan bangsa. Momentum pandemi bukan sesuatu yang harus terus diratapi tapi dijadikan cambuk untuk berlari, tentu dengan strategi yang tepat.

Dalam perspektif manajemen persaingan, setidaknya ada dua strategi yang bisa menjadi pilihan, Red Ocean Strategy dan Blue Ocean Strategy.

Red Ocean Strategy atau strategi samudera merah berarti bersaing pada pasar yang sama, unggul di dunia otomotif tentu akan berhadapan dengan negara-negara pengembang otomotif pula. Strategi ini dikenal dengan strategi berdarah-darah karena berjibaku dengan pesaing pada sesuatu yang sama. Kita harus berbangga pada pak Habibi yang pernah ikut kontestasi persaingan global melalui Red Ocean Strategy saat menciptakan pesawat N-250. Betapa bangganya kita saat itu diakui negara-negara maju.

Blue Ocean Strategy atau strategi samudera biru mengajak kita untuk memenangkan persaingan dengan memunculkan inovasi atau sesuatu yang baru yang relatif tidak dikuasai pesaing namun menjadikan kita unggul di mata bangsa-bangsa karena kita menguasainya. Kata kuncinya adalah inovasi dan kreativitas berbasis kearifan lokal.

Kekayaan budaya bangsa serta potensi wisata berbasis kearifan lokal kita luar biasa, begitu khas dan relatif tidak dimiliki bangsa lain. Andai saja kita berhasil merawat serta memasarkannya dengan baik, maka kita akan mendapatkan posisi strategis di mata dunia. Tugas kita adalah merawat budaya nusantara, bukan malah justru melacurkannya kepada penjajah asing. Ketepatan kita mengambil keputusan akan berakibat pada nasib anak cucu kita nanti.

Percayalah, di tengah gelombang pesimisme kita masih punya harapan untuk optimis, tentu dengan satu syarat, bangsa ini harus bersatu, seperti bersatunya nenek moyang kita memerdekakan negeri ini.

Wallohu a’lam. Samping Bandara Soeta, 21/11/21

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *