Siang ini terik. Namun sesekali sinar matahari yang menyengat terhalang gumpalan awan. Sejenak teduh menaungi bumi. Bila angin datang menghalau awan, sinar mataharipun kembali menyeruak menebar terik. Terik dan teduh silih berganti.

Seorang bapak tua mengayuh sepeda ontelnya perlahan. Rambut putih menipis yang semula tersisir rapi mulai tergerai perlahan dihembus angin dari arah depan laju sepedanya. Sesekali ia mengelap keringatnya yang menetes dengan sapu tangan.

“Kriing ..” suara dering bel sepeda dibunyikan bapak Tua, kami menoleh saat mendengar suara bel sepeda untuk melihat siapa yang akan melintas.  Bapak tua membunyikan bel untuk menandai bahwa ia akan menyusul kami yang berjalan di tepi jalan.

“Selamat siang, Pak” sapa kami begitu kami mengetahui Pak Slamet, Kepala sekolah Menengah Pertama (SMP) melewati aku dan beberapa teman.

“Siang, Nak. Bapak duluan ya.”

“Iya, Pak.”

Sepeda melaju tenang tak terburu-buru mendahului kami menuju sekolah. Jadual masuk sekolah kami adalah siang hari. Bergilir dengan jadual masuk murid Sekolah dasar. Sekolah kami adalah sekolah swasta yang berada di pinggir kota. Hanya ada 6 kelas untuk SMP. Kelas 1, 2 dan 3 masingnya terdiri dari dua kelas A dan B. tiap kelas hanya terdiri dari dua puluh empat siswa.

Jam pelajaran pertama siang ini adalah matematika. Setelah ditunggu, ternyata guru yang biasa mengajar tidak masuk. Kelas mulai ramai karena tak ada guru. Tiba-tiba masuk Pak Slamet ke ruang kelas kami.

“Selamat siang, anak-anak,” sapanya

“Siang, Pak,” kami menjawab serentak, agak terkejut melihat Pak Slamet masuk dan keributan di kelas seketika hilang.

“Pak Bagio hari ini tidak masuk. Ada urusan keluarga. Jadi kita belajar bersama.” ucap Pak Slamet menjelaskan kehadirannya “Ada pekerjaan rumah yang diberikan kah ? kalau ada dikumpulkan sekarang.” lanjutnya.

Kami mengumpulkan tugas yang telah diberikan sebelumnya oleh Pak Bagio. Pak Slamet menerima dan memeriksa beberapa lembar tugas. Kelas menjadi hening menunggu Pak Slamet.

“Anak-anak, Bapak akan simpan dan sampaikan tugas kalian kepada Bapak Bagio. Sekarang kita akan menyegarkan ingatan tentang operasi dalam hitungan pada pelajaran matematika.”

“Ada yang tahu, dalam berhitung apa yang biasa digunakan ?” tanya pak Slamet sambil menunjuk salah seorang murid.

“Tambah, penambahan,”jawabnya ragu.

“Iya betul. Jawab yang tegas tak usah ragu. Apa lagi ?”tanya beliau lalu menunjuk ke murid lain.

“Kurang, kali, bagi,”jawab murid lain memborong jawaban.

“Betul. Kalian pandai sudah tahu tentang operasi dalam berhitung.” puji pak Slamet, “Kalau mau disingkat menjadi kabataku . Ada yang tahu singkatan dari apa ?”

“Kali bagi tambah kurang.” jawab kami. Pak Slamet tersenyum mendengar jawaban kami sambil menunjukkan ibu jari kanannya. “Selain kabataku, ada lagi yang lain ?”

Kami diam berfikir, tapi tidak menemukan jawaban. Agak lama kelas hening.

“Bagaimana yang ini ?” Pak Slamet lalu menulis beberapa bilangan dan tanda di papan tulis.

“kuadrat dan akar !” seru kami gembira akhirnya dapat menjawab pertanyaan pak Slamet.

“Betul .. kita akan belajar mengenai operasi dalam matematika. Mana yang lebih dahulu dikerjakan bila ada campuran seperti in,i” kata pak Slamet sambil menulis bilangan 10 + 2 x 3 = …

“Tiga puluh enam,“ jawab kami serentak setelah menghitung.

Pak Slamet tersenyum.”Hayo coba hitung lagi.”

Kami mencoba menghitung lagi dan mendapatkan angka yang sama, 36.

“Kalian perhatikan. Ini ada tanda tambah dan kali. Dalam matematika ada prioritas yang harus dihitung terlebih dahulu. Di soal ini tambah dan kali, yang harus dihitung terlebih dahulu adalah kali baru kemudian tambah. Mengerti ? Jadi berapa hasilnya ?”

Kami menghitung ulang sesuai arahan pak Slamet.

“Enam belas, Pak,”

“Iya betul. Nah sudah paham kan .. jadi kali, bagi, tambah dan kurang atau kabataku adalah urutan dalam mengerjakan hitungan. Perkalian dan pembagian setara. Begitu pula penambahan dan pengurangan. Bila bertemu dengan soal campuran kerjakan dari sebelah kiri dahulu. Jangan lupa bila ada tanda kurung seperti ini kalian kerjakan yang ada dalam kurung terlebih dahulu.” kata Pak Slamet sambil membuat sebuah tanda kurung di papan tulis.

“Coba kalian kerjakan soal-soal berikut ini. Kamu maju dan tulis soal untuk teman-temanmu,” lanjut pak Slamet, lalu memanggil Dina murid yang duduk di bagian depan untuk menuliskan soal-soal di papan tulis. Pak Slamet lalu memberikan selembar kertas untuk ditulis ulang oleh Dina.

–oo0oo–

Tugas operasi hitungan yang diberikan oleh Pak Slamet ternyata mudah diselesaikan. Matematika yang kerap dianggap sulit dan menakutkan, ternyata bukanlah mata pelajaran yang harus dihindari atau ditakutkan. Guru matematika yang sabar,  cerdas dan memotivasi dalam menjelaskan materi membuat pelajaran ini menjadi menyenangkan.

Pentingnya pelajaran matematika telah diungkapkan oleh banyak literatur penelitian. Matematika menjadi faktor yang sangat penting berkaitan dengan sukses seseorang. Banyak bidang pekerjaan dan profesi yang menuntut pelakunya untuk memahami matematika. Pentingnya matematika dalam kehidupan menjadi alasan mengapa matematika mendapat penilaian lebih tinggi dibandingkan dengan bidang studi lainnya. Itulah sebabnya matematika juga disebut sebagai ratu dari semua ilmu pengetahuan dan pelayan bagi semua disiplin ilmu.

Kemampuan mengerjakan soal matematika termasuk dalam kemampuan numerik yakni kemampuan intelektual seseorang dalam melakukan operasi perhitungan yang melibatkan proses berpikir logis dan sistematis. Kemampuan numerik menjadi salah satu materi dalam tes psikologis yang ditujukan untuk mengetahui kemampuan seseorang dalam berhitung dengan benar dalam waktu yang terbatas. Ruang lingkup tes numerik meliputi perhitungan, estimasi, interpretasi data, dan logika matematika, serta barisan dan deret.

Salah satu permasalahan adalah banyak yang masih menilai matematika sulit karena dianggap pelajaran menghafal bukan untuk memahami. Akibatnya, ketika dihadapkan soal yang berbeda murid akan merasa kesulitan dan keluarlah ucapan seperti “Matematika itu susah” .

Pak Slamet mengajarkan kepada kami untuk memahami matematika lebih baik. Soal-soal yang diberikan sesuai dengan contoh yang diajarkannya. Jadi, kami dapat menyelesaikan berbagai bentuk soal yang berbeda. Siang ini kami dapat menyelesaikan tugas matematika tanpa kesulitan.

Ah senangnya memiliki guru matematika seperti Pak Slamet, sehingga kami menyukai matematika.

(NL, Akhir November 2020) Didedikasikan untuk Bapak Drs. Hadi Sampurna Slamet, Kepala Sekolah dan guru matematika.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *