Oleh: Ade Zaenudin

Senja. Mak Penti bersama kedua anak kembarnya Penul dan Penil bercengkrama di bale samping kolam ikan lele belakang rumahnya.

Mak, apa gunanya kita berselawat, mendoakan Nabi Muhammad SAW sementara emak bilang Nabi kita sudah di-ma’shum, pasti masuk surga, sudah penuh dengan rahmat Allah. Protes si Penul.

Lagi kita pede banget sih mak? Kita ini siapa? Masa orang penuh dosa kaya kita mendoakan yang gak punya dosa? Gak kebalik tuh mak? Si Penil ikut protes.

Nul, Nil, coba perhatiin tuh ember yang ada di kolem. Kata Mak Penti sambil nunjuk ember penuh air persis di bawah keran.

Ntu kolem ada ikannya gak? Tanya Mak Penti.

Ada mak, kasian dia butuh air tuh mak. Kata Penul sambil memandang kolam ikan lele dalam kondisi kering karena baru dikuras, padahal disitu ada beberapa ikan yang lagi mangap-mangap butuh air.

Kira-kira tuh ikan lagi ngomong apa Nil? Tanya Mak Penti.

Kayanya lagi minta tolong agar ember diisi aer dah mak. Jawab Penil dengan muka iba.

Lah ngapain diisi lagi Nil, kan ember udah penuh. Tanya Mak Penti.

Emaaaak…, kalau ntu ember diisi aer lagi, otomatis aernya kan ntar luber, kalau luber kan aernya jatoh ke kolem. Otomatis yang untung kan ikan mak, kolemnya jadi penuh aer. Si Penil berargumen sambil bergaya memainkan tangannya.

Nah, begitu juga kalo kamu selawat, berdoa agar Allah berikan rahmat pada Nabi Muhammad SAW. Maka sebenernya yang untung adalah kita. Luber pahalanya ke kita. Jelas Mak Penti.

Oh begitu mak. Penil dan Penul manggut-manggut lalu berselawat Allohumma solli alaa Muhammad.

***

Nabi Muhammad SAW adalah makhluk spesial, bukan hanya untuk umatnya, bahkan Allah SWT begitu memuliakannya. Dalam sebuah hadits qudsi Allah berfirman, “Laulaka ya Muhammad lamma kholaqtul aflak” Jika bukan karena engkau wahai Muhammad, tidak akan Aku ciptakan alam semesta ini.

Buat kita, perangai beliau menjadi panutan, teladan setiap insan. Dalam Q.S. Al Ahzab ayat 21 Allah SWT berfirman

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ

Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.

Rasulullah SAW menjadi uswah hasanah, contoh yang baik bagi umatnya.

Setidaknya ada tiga tiga indikator perilakumanusia yang meneladani Nabi berdasarkan ayat tersebut.

Pertama, Senantiasa gemar beribadah dan hanya semata mencari rida Allah. Hari-harinya diisi dengan melipatgandakan kebaikan, baik dalam bentuk ucapan, gerakan, pikiran, maupun tulisan. Serta senantiasa mengikis hal-hal yang tidak diperkenankan oleh Allah SWT.

Kedua, punya keyakinan akan adanya hari akhir. Di era modernisasi seperti saat ini, banyak orang yang menuhankan akal dan berkeyakinan bahwa akhirat adalah bualan saja. Omong kosong katanya. Naudzu billah, semoga keturunan kita tidak ada yang seperti itu.

Bagi orang yang berkeyakinan akan adanya hari akhir, maka dia akan terobsesi untuk pulang kampung dalam kondisi yang baik. Baik dimata Allah, baik dimata sesama. Husnul Khatimah. Diantar ke kubur dengan cerita-cerita kebaikan selama hidupnya. Subhanalloh.

Ketiga, selalu full ingat sama Allah. Kapan pun, di mana pun dia akan senantiasa ingat, dekat, dan sadar akan kehadiran-Nya. Kondisi ini bisa menjadi alarm pengingat saat kita alfa. Apa pun yang akan dilakukan selalu dimulai dengan pertanyaan, Allah rida gak yah sama yang akan aku lakukan?

Mak Penti pun menutup pergumulan cintanya sambil melantunkan syair Rumi, “Bersama Muhammad cinta temukan pasangan, sebab cinta jualah Tuhan berfirman: Laulak”.

Wallohu a’lam

0Shares

By Ade Zen

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *