Oleh: Moh. Anis Romzi

Pagi itu datang seorang guru dari sekolah tetangga. Ia menyerahkan surat izin penelitian kepada saya. Saya membaca sebentar. Ternyata berisi permohonan izin penelitian. Sang guru sedang menempuh pendidikan pascasarjana di sebuah PTIAIN Palangkaraya. Saya tersanjung SMPN 4 Katingan Kuala dijadikan objek penelitian Tesis. Walaupun ada khawatir juga apakah mampu memenuhi ekspektasi sang peneliti.

“ Saya hendak berizin melakukan penelitian di SMPN 4 Katingan Kuala. Apakah diizinkan?”Sang guru membuka percakapan. Saya kenal dengannya karena memang bertugas di sekolah dekat dengan tempat tugas saya. Ia bertugas sejak tahun 2015.

“Saya sedang menulis tesis untuk menyelesaikan S2. Saya tertarik untuk menggali hubungan gaya kepemimpinan dengan prestasi akademik peserta didik. Saya melihat sekolah berbeda dalam menerapkan kepemimpinan dalam pembelajaran. Ada apa di dalamnya. Apa saja yang berpengaruh?”

“Aduh. Biasa saja ah. Saya sangat tersanjung kalau Bapak menjadikan SMPN 4 Katingan Kuala sebagai objek penelitian. Sekolahnya saja di kampung. Apakah ada yang menarik?”Saya menjawab sekenanya. Bisa saja saya terlalu percaya diri. Dan itu menurut saya tidak baik.

“Ya itu pak. Sekolahnya di desa. Jauh dari perkotaan dan teknologi. Tetapi SMPN 4 Katingan Kuala telah berprestasi. Bahkan saya mendengar sampai tingkat nasional. Itu menarik menurut saya. Apakah ada hubungannya antara gaya kepemimpinan dengan prestasi akademik peserta didik? Atau jangan-jangan tidak ada hubungannya. Memang gurunya yang hebat, bukan kepemimpinannya.” Ia meyakinkan saya untuk tetap melakukan penelitian.

“Apakah Bapak bisa membantu saya?”Sang guru mahasiswa pascasarjana itu menutup dengan pertanyaan.

“Insyaallah siap. Kalau untuk kebaikan pasti saya mau. Apa saja data yang diperlukan silakan diambil. Namun saya masih merasa aneh lho ya? Di sini saya memang rasanya mendapat keberkahan dalam bekerja. Guru-guru muda yang profesional dan kompeten bekerja bersama saya. Ini adalah anugerah untuk SMPN 4 Katingan Kuala.”

“Memang gaya kepemimpinan apa sih pak yang diterapkan di sini?”

“ Kepemimpinan distributif. Di sini semua adalah pemimpin. Semua diberi wewenang untuk mengambil tanggung jawab. Sumber referensinya dari sini.” Saya menunjuk dua buku yang ada di hadapan kami berdua. Satu buku berjudul Kepala Sekolah Belum Berpengalaman dan Modul Industri Sekolah baru.

“Apakah saya boleh meminjam?”Pintanya.

“ Silakan. Bawa saja untuk dibaca-baca.”

“Nanti saya akan kesini lagi untuk wawancara dan meminta beberapa data. Saya akan berkonsultasi dengan dosen pembimbing dulu. Dengan siapa nanti saya boleh meminya data sekolah Bapak?”

Sang guru Mahasiswa Pascasarjana itu berpamitan. Saya masih ragu di dalam hati. Apakah SMPN 4 Katingan Kuala ini layak dijadikan objek penelitian sebuah tesis. Tidak mengapa saya kira. Jika ada orang lain di luar sekolah yang menganggap baik. Mudah-mudahan memang benar. Andaipun tidak ini menjadi kesempatan untuk belajar lagi. Sebuah penelitian menurut saya baik untuk menghasilkan sebuah teori baru. Dalam hal ini tentang kepemimpinan sekolah. Ilmu pengetahuan tidak akan pernah habis berapa sekalipun telah diteliti. Itulah sifat-Nya yang Maha Mengetahui. Alhamdulillah selalu atas pemberian-Nya.

Dalam ingatan saya ini adalah penelitian keempat yang menjadikan SMPN 4 Katingan Kuala. Dua sebelumnya mahasiswa Strata 1. Keduanya mahasiswa yang sedang kuliah di Palangkaraya. Pertama adalah mahasiswa pendidikan IPS Universitas PGRI. Ketua adalah mahasiswa tadris Biologi STAIN Palangkaraya. Ketiga adalah penelitian untuk tesis tentang budaya relijius di SMPN 4 Katingan Kuala. Penelitinya adalah mahasiswa dari Universitas Islam Indonesia Yogyakarta. Dan ini adalah yang terakhir saat tulisan ini dibuat. Adakah hubungan antara gaya kepemimpinan dengan prestasi akademik peserta didik? Jaya Makmur, Katingan, Kalteng, 7 Desember 2020.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *