Oleh: Cicik Setyorini

“Dan berlaku angkuhlah Fir’aun dan bala tentaranya di bumi tanpa alasan yang benar dan mereka menyangka bahwa mereka tidak akan dikembalikan kepada kami.”
Q.S. Al Qasas:39

Keberhasilan dan kenikmatan duniawi sering menjadikan diri bak seorang hero, hingga sang hero terlupa bahwa dia hanyalah sebutir debu tak bernilai di hadapan Pemiliknya.
Ya dia sesungguhnya dalam posisi zero kala merasa I’m a hero.

Seorang hero sesungguhnya hanya seorang hamba. Tak mempunyai nilai apapun jika sang Majikan, sang Pemilik tidak memberikannya keistimewaan, kesempatan, keberhasilan, dan segala bentuk kenikmatan.

Sungguh tak layak jika ada setitik rasa “i’m a hero” di relung hati yang tercipta suci, apalagi jika dimunculkan dalam ucap dan tingkah kesombongan.

Alangkah gagahnya ketika hero to zero bermakna ukhrowi … kesadaran seorang hamba, bahwa sebagai apapun dia, setinggi apa jabatannya, sekaya apa hartanya, seluas dan sedalam apa pun kuasanya…dia sadar sepenuhnya bahwa dia bukan apa-apa di hadapan-NYA, he was zero.

Hingga ketika makna hero yg disandang itu harus lepas atau dilepaskan jadikan tak memiliki apa-apa = zero, maka baginya itulah makna hero yang sejati.

Makna zero yang lecutkan tekad bangkit raih hero bagi dirinya pun di hadapan sang Pemilik.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *