Maryati Arifudin 30 Ramadhan 1442

Warna hidup berupa duka atau bahagia pasti ada. Sungguh hadirnya duka lara tidak seluruhnya mewarnai dalam kehidupan anda.

Hanya setitik duka diberikan kepada anda, bukan untuk selamanya. Sungguh, satu persatu ujian itu ada ditengah-tengah kehidupan kita semua agar dapat dikelola. Dikelola ujian dengan ilhas, sabar, dan hati terbuka tuk mengisi dan menghiasi hidup agar menundukkan jiwa dan raga sesuai syariat-Nya.

Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.” (QS. Al Anbiya: 35)

Bukan hanya ujian keburukan saja yang hadir dalam kehidupan nyata. Ujian keburukan dapat berakhir bahagia jika seorang hamba mampu menundukkan dengan logika pikir dan imannya. Sabar menerima ujian itu serta berprasangka baik pada Yang Maha Kuasa. Selalu menyadari diri akan kesalahan dan seluruh peristiwa atas takdir dari-Nya. Kunci dari badai ujian pasti mudah sirna dan memenangkan seluruh jiwa raga.

Renungkan! Bahwa semua kejadian atas kehendaknya agar bisa mengambil ibrah dengan takdir yang ada. Tetap taat pada-Nya, jangan sekali-kali ingkar akan perintah-Nya. Sungguh, ujian kehidupan ini hanya sementara saja tidak selama-lamanya.

Ujian kehidupan jua dialami para rasul dan sahabat-sahabatnya. Ujian yang diamali para rasul dan sahabatnya sungguh sangat berat. Ujian kesedihan Beliau juga pernah mengalaminya dan para sabahat rasul jua. Jadi, kita bukan hanya seorang diri saja yang mengalami ujian itu. Ingatlah, ujian terberat yang dialami sahabat dan baginda Rasul tercinta ada dalam sejarah kehidupan nyata.

Coba tengok sejarah sahabat yang mulia bernama  Bilal bin Sa’ad memperjuangkan Kalimat Ullya. Bilal di tengah teriknya matahari disiksa dan dihina agar melepas keyakinannya tuk  bersedia kembali pada ajaran nenek moyangnya. Dengan tetap sabar menerima siksaan dari tuannya, ia tetap memperjuangkan kalimat tauhid yang diyakininya.

Gambaran akan ketabahan dan perjuangnya menegakkan kalimat tauhid itu nyata. Coba simak teguhnya para sahabat yang mulia dalam memperjuangkan keimanannya agar tak terlepas dari jazadnya. Yakinlah! Ujian perjuangan kehidupan pasti ada dan dialami oleh semua insan di dunia tidak hanya diri kita saja. Jadi, wajar saja bersedih tapi bersedih itu jangan melenakan jiwa apalagi meninggalkan syariat-syariat-Nya.

Mari belajar bagaimana menghadapi ujian hidup mampu membawa bahagia yang sesungguhnya. Bisa anda simak kisah sejarah kehidupan Baginda Muhammad rasul tercinta bersama para sahabat-sahabatnya agar memahami ujian berat yang sesungguhnya. Mereka mampu menjalani ujian kehidupan itu dengan tetap istiqomah menjalankan seluruh perintah-Nya. Ujian kesedihan tidak membuat keingkaran namun menambah ketaqwaan pada-Nya. Karena, mereka menyakini kesabarannya akan digantikan surga yang dirindukannya.

Bilal bin Sa’ad rahimahullaahu berkata, “Wahai hamba Allah, ketahuilah sesungguhnya kalian hanya beramal pada hari – hari yang pendek untuk hari – hari yang panjang. Kalian hanya beramal di negeri yang akan lenyap untuk negeri yang menjadi tempat tinggal. Di negeri penderitaan dan kesedihan untuk negeri kenikmatan dan keabadian”.

Sadarlah bahwa kita hanya seorang hamba yang siap menerima semua ketetapan-Nya. Berjuang menundukkan ujian adalah tugas insan yang menghirup udara dunia. Ada langkah nyata agar jiwa terasa tentram dan ujian segera sirna maka banyak beristighfar dan memohon bimbingan-Nya. Ingat, jiwa-jiwa seluruh insan ada dalam genggaman-Nya. Dia Alloh yang Maha Kuasa mampu menghapus atau mengilahkan segala duka atau suka.

Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan membukakan jalan keluar baginya, dan Dia memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan-Nya. Sungguh, Allah telah mengadakan ketentuan bagi setiap sesuatu.” (QS. Ath Thalaq : 2-3)

Percayalah! Kita sebagai seorang hamba sedang diuji tuk menyelesaikan seluruh ujian dengan seksama. Satu tanda “episode kehidupan itu nyata” berasal dari Tuhannya tuk menguji seorang hamba agar sabar dan ihlas menjalaninya. Begitulah hidup di dunia, jika mampu menyelesaikan ujian satu persatu maka derajat  menjadi mulia. Hanya pribadi orang-orang yang bertaqwa mampu menyelesaikan ujian dengan sempurna.

Referensi:

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *