Oleh: Nurjanah Lubis

Edelweiss, Edelweiss
Every morning you greet me
Small and white clean and bright
You look happy to meet me

Blossom of snow, may you bloom and grow
Bloom and grow forever
Edelweiss, Edelweiss
Bless my homeland forever

Sumber: LyricFind

Penulis lagu: Robin Spielberg / Richard Rodgers / Oscar Ii Hammerstein

Sekuntum bunga mungil putih bergetar diterpa angin lembah yang terasa dingin. Bunga dengan keharuman khas ini mulai terlihat kehadirannya di lembah dan lereng gunung pada ketinggian 2000 meter di atas permukaan laut (Mdpl). Di tempat yang sama sekali tidak terusik manusia, jauh dari hiruk pikuk dan lalu lalang, mampu tumbuh hingga delapan meter dengan batang yang kokoh.

Bunga ini bernama Edelweis. Nama Edelweis dari bahasa Jerman, ‘edel’ yang artinya mulia dan ‘weiss’ artinya putih. Dalam bahasa Latin Edelweis bernama Anaphalis Javanica. Edelweiss Jawa pertama kali ditemukan di lereng Gunung Gede, Jawa Barat, Indonesia, oleh ilmuwan asal Jerman bernama Caspar Georg Carl Reinwardt, dan diteliti lebih lanjut oleh Carl Heinrich Schultz pada 1819. 

Edelweiss terbilang bunga langka, karena jarang ditemukan ada bunga yang dapat tumbuh di daerah pegunungan. Di Indonesia yang memiliki sejumlah pegunungan dan lembah, seperti Gunung Lawu, Gunung Semeru, Gunung Rinjani, Gunung Pangrango dan Gunung Gede, menjadi padang hamparan Edelweiss yang cukup luas.

Edelweis memikat hati para pendaki atau pencinta alam. Penggemar Edelweis menjadikannya simbol dari petualangan dan pengorbanan, karena  seseorang harus melakukan pendakian gunung dan memerlukan perjuangan untuk mencapainya. Bunga ini juga menandakan cinta dan pengabdian yang mendalam. Edelweis disebut juga sebagai Bunga Abadi karena dapat mekar dan bertahan hingga 10 tahun lamanya bahkan lebih. Kemampuannya bertahan lama karena bunga mengandung hormon etilen yang dapat mencegah kerontokan kelopak bunga. 

Edelweis ternyata memiliki berkhasiat untuk dijadikan obat karena kandungan antioksidannya tinggi. Ekstrak bunga Edelweiss dapat dipakai sebagai penyembuh berbagai penyakit, seperti difteri, TBC, batuk, bahkan kanker payudara. Antimikroba di dalamnya juga berfungsi sebagai pembasmi bakteri, serta jamur, dan juga memiliki anti radang atau antiinflamasi. Selain itu digunakan dalam kosmetik anti penuaan dan tabir surya. Bisa juga dijadikan salep sebagai pelindung untuk kulit dari sinar UV, meredakan rasa sakit karena reumatik, dan menyembuhkan luka.

Secara teknis Edelweis bukanlah satu bunga tetapi lebih dari 50 hingga 500 kuntum kecil yang berkelompokkan dalam 2 hingga 12 kepala bunga kuning (capitula), dikelilingi oleh 5 hingga 15 daun putih beludru (bracts) yang disusun dalam bentuk bintang.

Dari kajian ekologis, Edelweis memiliki peran sebagai pioner dalam revegetasi dan suksesi. Menjadi tanaman pertama yang tumbuh dan menghasilkan unsur-unsur hara sebagai media tumbuh tanaman lain. Selain tanaman perintis, Edelweis menjadi cover corp atau tanaman penutup yang mampu menahan hempasan air hujan dan laju permukaan, sehingga meminimalkan risiko erosi. Di sisi lain, banyak serangga yang hidup di dalam bunga untuk sekedar menghisap nektar atau berlindung di dalam rimbunnya dedaunan.

Akibat aktivitas pendakian yang makin ramai, Edelweis terancam kepunahan karena sering kali dipetik untuk dijadikan cenderamata. Edelweis tidak boleh dipetik sembarang untuk dijadikan buah tangan para pedaki. Untuk mencegah kepunahan, keberadaan Edelweis kini dilindungi. Edelweis menjadi salah satu tumbuhan yang dilindungi berdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Republik Indonesia Nomor P.20/Menlhk/Setjen/Kum.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang Dilindungi.

Pelanggaran dapat dikenai pidana berdasarkan Undang-undang Nomor 5 Tahun 1990 pasal 33 ayat (1) dan (2) tentang Konservasi Sumber Daya Hayati Ekosistem yang berbunyi: “Setiap orang dilarang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan terhadap keutuhan zona inti taman nasional.” Dan pasal 40 ayat 2, UU No.5 tahun 1990 : “akan dipidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp 200 juta rupiah.”

Peraturan ini diharapkan dapat menghindari Edelweis dari tangan-tangan jahil yang menjadi penyebab kepunahannya. Edelweis diharapkan tetap tumbuh dan bersemi sebagai bunga abadi, dan menjadi alasan bagi pencinta alam untuk mendaki serta menjumpainya di lembah, lereng dan puncak gunung.

Edelweiss, Edelweiss
Bless my homeland forever

Dari berbagai sumber.Pencinta Edelweis, Sawangan 2 April 2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *