Oleh: Zoetya

Kabut mulai menipis. Gelap mulai pergi. Simbok Penul (SP) asyik menata bayam, kangkung, brambang, dan kawanannya. Sepasang mata mengamati kesibukan SP. Merasa ada yang mengamati, SP hentikan sejenak kesibukan tangannya yang keriput namun lincah kokoh itu.

SP : Ealah, ngapain lihatin aku wae, Lik?

Lik : Nanti apa ada yang beli yo, Mbok?

SP menarik nafas dalam-dalam dan masih sempatkan kirim senyumannya untuk si Lik.

SP : Ora usah suedih nemen seperti itu. Bismillah, insyaa Allah ada yang beli nanti. Rejeki sudah Allah atur.

SP mencoba menjadi provokator kebaikan buat si Lik, tanpa dapat mengelak bahwa SP sendiri galau….sangat galau. SP teruskan kesibukannya.

Lik : Kalo begini terus awak e dewe harus bagaimana ya, Mbok?

SP menghentikan kembali kesibukannya menata dagangan.

SP : Mungkin ini mungkin lho, Lik. Kita mulai kudu pinter merubah itung-itungan dagang kita ini. Musti cepet nyesuain kondisi. Biar bisa bertahan.

Lik : Lha carane piye to, Mbok?

SP : Emboh, Lik. Paling gak…Yen ono kabar gak boleh keluar rumah opo kae istilah e? Pe es be be opo pe pe ka em opo lokdon…awak e dewe kulakan e sak cukup e wae.

Lik : Apa jualan kita ditambahi nglayani pakai onlain onlain kae po yo, Mbok?

SP : Naahhh iyooo…tapi aku gak punya telpon e kuwi, Lik. Jeneng e opo, embuh. Jare putuku aku ini gaptek …opo maneh kuwi…

Mereka berdua kembali terdiam. Matahari sudah mulai menghangatkan pasar. Namun, belum tampak satupun pembeli yang biasanya sudah mulai ramai menyapa.

Simbok Penul, si Lik, dan teman-temannya kembali terdiam dan termangu.

•••••••••

Tak akan berat Allah berikan beban bagi hamba-NYA yang beriman.

Pemimpin yang beriman, rakyat yang beriman…jadilah sebuah negeri yang nyaman walau dalam keterbatasan.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *