Oleh: Moh. Anis Romzi

Genap satu bulan pembelajaran tatap muka terbatas berlangsung. Terhitung tanggal 02 November 2020 saat dimulai. Setiap proses perlu dimonitor agar semua berjalan seperti harapan yang diinginkan. Protokol kesehatan menyatakan bahwa kelas hanya dapat diisi separuh dari jumlah normal. Tidak ada pilihan selain sistem shift untuk menyiasati jumlah peserta didik yang hadir.

Sistem shift diterapkan untuk meminimalkan pertemuan peserta didik dalam jumlah banyak. Protokol kesehatan wajib diutamakan. Jumlah maksimal peserta didik dalam rombongan belajar adalah 18 orang. Jarak minimal 1 meter juga harus dipatuhi. Satu kursi satu meja, dan wajib menggunakan masker. Semuanya demi kesehatan dan keselamatan bersama. Penerapan shift dalam pembelajaran diharapkan dapat meminimalkan risiko penularan.

Pertemuan saat selesai shift 1 dan masuknya shift 2. Pemeriksaan suhu badan adalah upaya pencegahan pertama. Praktik penerapan protokol kesehatan memerlukan konsistensi. Tidak hanya sekarang seremonial belaka. Pertemuan saat shift 1 dan 2 rentan terhadap kerumunan. Secara umum psikologi peserta didik masih sangat ingin berkumpul dengan teman-teman sekelasnya. Hal ini apabila tidak dipantau dapat berpotensi menimbulkan penularan.

Pendapat para peserta didik perihal tatap muka sistem shift. Salah seorang peserta didik kelas 9 Risqi MS berkomentar,” Kalo saya kurang enak pak, karena waktu pembelajarannya berkurang tidak seperti biasanya.”

Peserta didik yang lain Niha juga dari kelas 9,” Menurut saya kelebihannya kita bisa  lebih memahami pelajaran dan kekurangannya tidak ada kantin dan tidak bisa bertemu dengan temen” semuanya karna ada sift”an.’

Kelebihan dari pelaksanaan sistem shift pada pembelajaran tatap muka terbatas. Lebih dari 95% kehadiran peserta didik. Waktu yang dipersingkat dari pembelajaran tatap muka reguler. Mereka hanya berada di sekolah selama empat jam paling lama. Selain itu beberapa peserta didik juga merasakan dapat lebih fokus ketika belajar. Jumlah rombongan belajar yang hanya separuh membuat mereka lebih leluasa dalam menyerap informasi pembelajaran.

Kekurangan yang dirasakan dengan pembelajaran sistem shift. Beberapa keluhan banyak yang menyampaikan perihal waktu pembelajaran yang singkat. Materi pelajaran yang didapat terkesan terburu-buru untuk diselesaikan. Ini karena umumnya para pendidik berpacu dengan waktu terhadap capaian kurikulum. Walaupun kementerian pendidikan telah memberikan keringanan kurikulum dalam kondisi khusus. Sebagian pendidik belum terbiasa. Pembelajaran sistem shift yang telah diterapkan membawa masalah bagi pendidik menentukan materi esensial. Ini karena terbatasnya waktu.

Seperti komitmen yang telah ditanamkan di SMPN 4 Katingan Kuala. Bagaimanapun kondisinya belajar harus tetap berlangsung. Bahwa pelaksanaan tatap muka terbatas dan daring belum diukur hasilnya. Namun pemantauan terhadap penerapan protokol kesehatan lebih penting daripada ketercapaian kurikulum. Pembelajaran tatap muka adalah kehendak mayoritas orang tua peserta didik. Hampir lima bulan lebih belajar dari rumah, banyak orang tua mengeluhkan sulitnya mendampingi peserta didik ketika belajar.

Dengan dasar usulan orangtua dan wali SMPN 4 Katingan Kuala mengajukan izin pembelajaran tatap muka kepada Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Katingan. Berdasarkan surat Kepala Dinas Pendidikan nomor: 421.7/1794/Disdik-I/2020 memberikan izin tatap muka terhitung mulai tanggal 02 November 2020. Ini berdasarkan pantauan tidak ditemukannya kasus covid-19.

Semoga pelaksanaan pembelajaran tatap muka terbatas di SMPN 4 Katingan Kuala tidak menimbulkan kluster baru penyebaran covid-19. Sistem shift mampu mengurangi risiko penularan covid-19. Kehadiran peserta didik tetap tinggi (95%) walaupun situasi pandemi. Majulah pendidikan Indonesia. Pandemi bukan penghalang untuk tetap belajar. Jaya Makmur, Katingan, Kalteng. 28/11/2020

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *