Oleh: Ade Zaenudin

Dalam buku “Guru Milenial” saya menyampaikan dua belas keterampilan dasar yang harus dimiliki generasi milenial. Point pertamanya adalah Critical Thinking atau berpikir kritis.

Michael Scriven & Richard Paul menjelaskan bahwa berpikir kritis melibatkan proses yang secara aktif dan penuh kemampuan untuk membuat konsep, menerapkan, menganalisis, menyarikan, dan mengamati sebuah masalah yang diperoleh ataupun diciptakan dari pengamatan, pengalaman, komunikasi dan lain sebagainya.[1]

Berpikir kritis menjadi gerbang memahami sebuah masalah secara lebih mendalam dengan harapan kita tidak terjebak pada informasi yang keliru, justru pada akhirnya kita mampu melahirkan solusi atas sebuah persoalan.

Oleh karenanya, berpikir kritis menjadi salah satu skill yang wajib dimiliki di tengah “menggilanya” arus informasi sehingga informasi yang kita cerna menjadi sesuatu yang produktif, menyehatkan, bukan justru kontraproduktif dan mencelakakan.

Salah satu strategi berpikir kritis adalah dengan Computational Thinking (CT), yaitu kemampuan analitis dan keterampilan kritis yang sebanding dengan membaca, menulis dan berhitung.[2] Dalam bahasa yang lebih sederhana berpikir komputasional adalah metode menyelesaikan persoalan dengan menerapkan teknik ilmu komputer (informatika).[3]

Di antara sekian banyak keterampilan dasar dalam CT, setidaknya ada 4 yang paling utama, yaitu algorithmic thinking, decomposition, pattern recognition, dan abstraction.

Algorithmic thinking.

Berpikir algoritme adalah konstruksi berpikir berdasarkan proses, langkah-langkah atau rangkaian instruksi yang jelas dan sistematis. Saat ditanya bagaimana cara membuat sambal dan kemudian dijawab dengan rangkaian cara (step by step) dari awal pengumpulan bahan sampai jadi sambal, maka seperti itulah algorithmic thinking.

Sebagian siswa senang mengerjakan tugas dari gurunya dengan terlebih dahulu menyusun langkah-langkah pengerjaannya secara rinci dan mandiri. Pada saatnya mengerjakan tugas, dia mengikuti langkah-langkah yang sudah tersusun tersebut, itupun menjadi gambaran algorithmic thinking.

Decomposition.

Dekomposisi adalah konstruksi berpikir memecahkan masalah kompleks dengan membaginya pada beberapa sub masalah yang lebih rinci. Saat siswa diberi tugas menulis pengalaman tentang pembelajaran di masa pandemi, lalu dia terlebih dahulu memetakan rencana tulisan dalam beberapa sub judul, misalnya dia menentukan apa itu pandemi, kronologi pandemi, pengalaman saat pandemi dan diakhiri solusi. Dalam rangka menyelesaikan tugasnya bisa jadi siswa tersebut memilih sub judul yang paling mudah terlebih dahulu sampai akhirnya menyempurnakan seluruh tulisannya.

Saat menyusun tulisan yang sedang Anda baca ini, saya pun menggunakan konstruksi berpikir dekomposisi dengan menyusun terlebih dahulu empat keterampilan utama dalam CT.

Pattern Recognition.

Pattern recognition merupakan konstruksi berpikir menggunakan pola sebagai jalan pintas menyelesaikan persoalan. Saat siswa diberi soal deret angka 1,3,6,10,…,  dan disuruh mengisi angka yang kosong kemudian dia menelaah dan menemukan pola selisih antar angka maka akan ketemu pola 11 3 2 6 3 10 4 atau pola 1,2,3,4 (1 merupakan selisih antara 1 dan 3; 2 sebagai selisih antara 3 dan 6) maka jawabannya adalah 15 karena selisih setelah 10 polanya adalah 4. Begitulah contoh berpikir pattern Recognition.

Abstraction.

Abstraksi adalah konstruksi berpikir mengungkap ide atau beberapa ide yang paling relevan dalam satu lingkup masalah sekaligus menyembunyikan ide lain yang kurang atau tidak terlalu relevan pada lingkup masalah tersebut. Dalam karya tulis ilmiah kita mengenal abstrak yang merupakatan ringkasan dari seluruh tulisan.

Saat siswa diberi tugas membuat makalah misalnya, dia akan fokus mencari sumber data yang relevan serta mengabaikan sumber data lain yang tidak terlalu relevan. Begitu juga seorang guru, dia akan fokus memilih metode pembelajaran yang relevan dengan materi yang akan disajikan serta menyimpan metode lain yang tidak relevan walaupun metode tersebut sangat dia sukai dan menjadi andalannya. Seperti itulah contoh berpikir abstraction.

Kemampuan memetakan computational thinking sangat bermanfaat dalam rangka memetakan kemampuan dan kebiaasan pola berpikir seseorang untuk memecahkan masalah secara tepat dan cepat.

Semoga bermanfaat. Wallohu a’lam.


[1] https://id.wikipedia.org/wiki/Berpikir_kritis. Diakses tanggal 1 Juli 2021

[2] Disampaikan oleh Ma’as Shobirin pada Diklat Fasilitator Provinsi, Pengembangan Keprofesian Berkelanjutan (PKB) pada program Madrasah Reform, Realizing Education’s Promise Madrasah Education Quality Reform. Kementerian Agama RI Tanggal 18-22 Juni 2021

[3] https://bebras.or.id/v3/apa-itu-berpikir-komputasional/. Diakses tanggal 1 Juli 2021

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *