Maryati Arifudin, 3 April 2021

Rasa syukur itu baru terasa mana kala sedang dilanda ujian. Nikmatnya sehat akan terasakan, jika mengalami sakit. Baru di uji sebulan saja badan terasa sakit  jiwa ini banyak berkeluh.

Sungguh malu ku tak mampu mentauladani Nabi Ayub AS. Seujung kuku hitamku belum sanggup ku meniru ketauladanan nabiku. Kusadari  nikmat atau karunia yang besar telah lebih 53 tahun rasa sehat itu ada dalam jiwa. Baru satu bulan saja, ujian badan ini nano-nano rasanya kita sudah tak berdaya. Semoga menjadikan diri ini menerima dengan sabar semua ketetapan-Nya.

Ujian sakit memang luar biasa, bagi orang yang mengalaminya. Dituntun kita tuk berjiwa besar, menerima takdir sesuai kehendak-Nya. Takdir sakit yang menimpa dibadan, jika semua insan di dunia ditawarkan pasti tak mau meminta.

Ku harus belajar dari sang nabi Ayub. Ikhlas menerima keputasan-Nya, agar menambah ladang amal. Ku berusaha mencari alasan agar, diri ini selalu pandai bersyukur.

Teringat di beranda facebook pasanganku tertanggal 7 Agustus 2020 pesan ini muncul, tuk menjadi pengingatku. Katanya, “Aku akan mencari 1001 alasan agar ku bisa selalu bersyukur. Agar ku selalu bahagia 😃 dan tetap tersenyum”. Kata kunci itu, yang membangun pasanganku menundukkan ujian sakitnya. Mudah-mudahan aku dapat mentauladaninya dari kehidupan nyata di depan mata.

Sungguh akibat rasa sakit itu, membawa turunnya nikmat yang luar biasa dari Tuhannya. Sungguh! Orang-orang yang sabar dan ihlas menjalani sakit pasti mendapat balasan istimewa.

Rasulullah SAW bersabda, “Tiada yang menimpa Muslim, baik berupa sakit atau penyakit kronis, kebimbangan, kesedihan, penderitaan, hingga duri yang menusuk (tubuhnya), melainkan dengan itu Allah menghapus dosa-dosanya.” (HR al-Bukhari).

Bagitulah kasih sayang Alloh pada umatnya. Tanpa diminta Sang Pencipta menurunkan ujian sakit, langsung saat itu juga menghadirkan pahala yang luar biasa. Bagi umat yang mampu berpikir, ujian sakit mampu menghadirkan ketaatan pada-Nya.

Rasulullah SAW bersabda, “Tidaklah seorang Muslim menderita sakit karena suatu penyakit dan juga lainnya melainkan Allah menggugurkan kesalahan-kesalahannya dengan penyakit itu, sebagaimana pohon yang menggugurkan daun-daunnya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).

Bagaimanakah mencari pemantik tuk menggugurkan kesalahan dan dosa kami? Kata kuncinya menumbuhkan seribu satu alasan agar pandai bersyukur.

Bersyukur masih diberi kesempatan waktu untuk beristighfar pada-Nya. Memohon ampun atas dosa-dosa yang telah dilakukan. Menyadari diri bahwa diri ini banyak salah dan dosa. Dosa baik lewat tangan, mulut, mata dan pikiran kita.

Banyak ragam dosa yang telah kita jalani. Semoga, dengan hadirnya sakit ini menyadari untuk berhati-hati menjalani kehidupan selanjutnya. Hidup harus sesuai dengan aturan Tuhannya, jangan mencari jalan lain kecuali aturan yang telah ditetapkan-Nya.

Dosa kita tidak mungkin hanya berhubungan dengan hak pada Tuhannya saja. Tapi, dosa kita juga  terbentang seantero sahabat dan saudara kita. Masa sakit inilah, kesempatan bermuhasabah diri. Mengingat-ingat diri mungkin ada kesalahan ataupun kedzoliman yang telah kita berbuat. Bersegeralah untuk minta maaf pada sahabat atau kerabat.

Kesempatan waktu untuk bertaubat digunakan pada saat ujian itu melanda sebagai pengingat. Pengingat, bahwa hidup semakin singkat untuk selalu siap mempersiapkan bekal akherat. Gunakan waktu dengan tepat untuk bermunajat dan tetap bersemangat untuk minta kesembuhan yang total. Sehingga kesembuhanmu akan makin mendekat. Mendekat untuk menjadi pengingat bahw hidupmu hanya sesaat. Bersegeralah selalu taat saat dirimu sehat. Jangan lupa kampung akherat!

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *