Oleh : Yani Lestari

Entah… ini hari keberapa aku dan temanku tinggal di rumah guru yang dibuatkan oleh BP3  atau Badan Pembantu Pelaksanaan Pendidikan selaku badan perwakilan dari orang tua siswa yang saat ini berubah namanya menjadi Komite Sekolah. Tujuan pembuatan rumah guru tersebut selain karena rumah dinas sudah penuh dihuni oleh guru -guru lain juga supaya guru- guru yang baru bertugas bisa lebih akrab dengan masyarakat sekitar.

Setelah tinggal beberapa hari di rumah buatan BP3, maka kami sudah menjadi bagian dari masyarakat kampung Tinggiran Baru. Kami mulai membaur dengan kehidupan masyarakat sekitar, jika ada acara selamatan, pernikahan dan sebagainya kami usahakan untuk hadir pada acara tersebut.

Sore hari jika tidak ada kegiatan, kami sempatkan untuk jalan-jalan keliling kampung sambil bersilaturahmi dengan masyarakat setempat. Benar pepatah yang mengatakan bahwa banyak kawan banyak rezeki menyambung silaturahmi akan menambah rezeki. Sering sepulang dari jalan-jalan keliling kampung kami pulang kerumah membawa oleh-oleh pemberian dari masyarakat setempat entah sayuran, buah-buahan ataupun minyak kelapa yang baru saja di olah oleh mereka. Barakallah… hikmah dari silaturahmi.

Siang itu cuaca cukup cerah, banyak bapak- bapak yang menaiki sepeda lewat di depan rumah yang kami huni. Sebagai pendatang baru, timbul niatku untuk berbasa basi, “ Pak, datang dari mana?” tanyaku. “Dari Masigit bu…” jawab bapak tersebut. Tidak begitu lama lewat pula bapak-bapak yang juga bersepeda. Aku pun bertanya lagi, “Bapak-bapak dari mana kok bisa bersama-sama?” “Oh… kami datang dari Masigit bu guru…” jawab mereka hampir serentak. Tanpa pikir panjang aku pun bertanya , “ Bapak-bapak, apa Mas Sigit sedang sakit ya, kok bersama-sama ke rumah Mas Sigit?” “Ha… ha… ha…” Orang-orang pun akhirnya tertawa. Salah seorang dari mereka menjelaskan kepada kami bahwa Masigit yang mereka maksud sebenarnya adalah Masjid, sementara dalam bahasa Jawa “Mas” itu panggilan penghormatan untuk kaum laki-laki. Duh… lagi dan lagi… aku pun tertawa sendiri, baru ingat kalau hari itu hari Jum’at, banyak kaum pria yang melaksanakan sholat Jum’at. Orang-orang di daerah tersebut menyebut Masjid menjadi Masigit. Mas Sigit oh …  Mas Sigit… ternyata engkau tidak sedang sakit.

Dari kejadian tadi kita menjadi lebih tahu pentingnya bahasa daerah, sebab bahasa adalah identitas. Bahasa kita, khususnya bahasa daerah, sekarang mulai terkikis oleh bahasa asing dan perkembangan teknologi, padahal bahasa salah satu pembentuk karakter bagi bangsa. Bahasa akan membentuk perilaku, sekilas kita bisa tahu jika seseorang tutur bahasanya baik, kemungkinan besar perilakunya juga baik. Memang sih, ada juga yang kadang tidak baik, tetapi itu merupakan perkecualian saja.

Lambat laun akhirnya kami bisa menggunakan bahasa Banjar yang merupakan bahasa daerah setempat. Sambil belajar sambil berproses mempelajari adat-istiadat budaya kebiasaan yang ada di masyarakat setempat. Itu semua bagian dari pepatah yang mengatakan dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung. Dengan mengetahui Bahasa daerah, adat istiadat, budaya dan kebiasaan-kebiasaan di lingkungan tempat tinggal kita, In Syaa Allah kita tidak akan menemui kesulitan dalam bermasyarakat.

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *