banner 728x250

Bulan Turunnya Cahaya

banner 120x600
banner 468x60

.. tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. Asy-Syura : 52)

Oleh: Agus S. Saefullah
13 Ramadan 1443 H

banner 325x300

Malam itu sunyi sepi meliputi diri Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam di Gua Hira tempatnya beruzlah – menenangkan diri dari hiruk pikuk Mekah yang menjemukan. Datanglah Jilbril ‘alaihisalam membawa wahyu pertama dari Rabb Yang Maha Pencipta.

Dalam getar yang ditenangkan Jilbril ‘alaihisalam, Sang Nabi yang kala itu berusia empat puluh tahun sebagaimana riwayat Ibnu Abbas, menerima bimbingan untuk membacakan kalam ilahi iqra! (bacalah!).

“Ketika itu di gua Hira.” ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha menuturkan. “Malaikat datang dan berkata, “Bacalah!” Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Saya tidak bisa membaca.” Malaikat itu pun memeluk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam hingga terasa sesak. Setelah itu ia melepaskanya. Dia pun memintanya membaca kembali. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Saya tidak bisa membaca.” Kemudian dia kembali memeluk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk kedua kalinya hingga beliau merasa tersesak, kemudian melepaskannya dan berkata, “Bacalah!” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Saya tidak bisa membaca.” Kemudian dia memeluk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang ketiga kalinya, lalu melepaskannya, lantas malaikat itu membacakan,

اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ . خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ . اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ . الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ . عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ .

Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Maha Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran qolam (pena). Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.” (QS. Al-‘Alaq: 1-5).

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pun kembali ke rumah menemui Khadijah radhiyallahu ‘anha dalam keadaan takut.

“Selimuti aku, selimuti aku.” Pinta Nabi pada Sang Istri, Khadijah. Khadijah pun segera menyelimutinya hingga makin menghilang rasa takutnya.

Seketika tenang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Khadijah, “Aku takut pada diriku sendiri.”

 “Demi Allah, Allah tidak akan menghinakanmu selamanya, karena kamu adalah orang yang suka menyambung hubungan silaturahim, membantu orang lain, memberi orang yang tidak punya, memuliakan tamu, membantu orang-orang yang tertimpa musibah.” Ucap Khadijah menenangkan.

Kejadian itu berlangsung pada bulan Ramadan sekira tahun 610 M.  Tahun dimana juga terjadi pelengseran Phocas oleh Heraclius di Byzantium yang kemudian menduduki Kekaisaran.

Di dalam Qur’an surat Al-Baqarah ayat 185 Allah menegaskan kejadian ini adalah bulan Ramadan,

شَهْرُ رَمَضَانَ ٱلَّذِىٓ أُنزِلَ فِيهِ ٱلْقُرْءَانُ هُدًى لِّلنَّاسِ وَبَيِّنَٰتٍ مِّنَ ٱلْهُدَىٰ وَٱلْفُرْقَانِ ۚ …

“(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil) …” (Q.S. Al-Baqarah: 185)

Inilah awal mula perjuangan dakwah Nabi. Al-qur’an kemudian diturunkan pada waktu-waktu setelahnya secara bertahap dan disertai dengan asbabunnuzul agar mudah dipahami oleh Nabi dan para sahabat.

Hingga Al-Qur’an pun lengkap dan secara mutawatir turun dengan sempurna sampai ke tangan kita semua sudah dalam bentuk mushaf yang sangat mudah untuk dibaca dan dipelajari.

Al-Qur’an inilah yang akan menuntun manusia sesuai dengan fitrah-Nya. Segala kewajiban, larangan dan aturan-aturan lainnya dalam kitab ini adalah wahyu Allah yang disetting compatible dengan apa yang dibutuhkan manusia.

Segalanya adalah untuk keselematan manusia dan juga makhluk-makhuk lainnya yang dipercayakan kepada manusia segala kepemimpinannya.

Agar manusia mudah memahami, Allah Yang Maha Rahman juga menurunkan Nabi sebagai role mode dalam menjalankan isi Al-Qur’an dengan baik dan benar.

Semua SOP beragama dipraktekan secara sempurna oleh Sang Nabi dengan segala keteladanannya. Inilah yang dinamakan degan Sunah. Sunah berarti jalan Nabi dalam beragama.

“Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah. “(Q.S. Al-Ahzab: 21)

Karena itu kewajiban kita adalah mengikuti dengan seluruh upaya agar benar-benar menyemai Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam serta khalifah-khalifah yang rasyid.

“… dan umatku akan terpecah umatku kepada 73 golongan, semuanya masuk neraka kecuali satu golongan.” Mereka (shahabat) bertanya, “siapakah itu ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Yaitu yang aku dan para shahabatku berada di atasnya” Demikian Tirmidzi meriwayatkan.

Selain itu Allah juga telah memberikan modal kepada kita semua dalam bentuk pendengaran, penglihatan dan hati untuk berfikir.

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.” (Q.S. An-Nahl 78)

Jika semua yang Allah anugerahkan ini yaitu Al-Qur’an dan Sunah Nabi, kita hidupkan di dalam diri kita dengan menggunakan pendengaran, penglihatan dan hati maka cahaya Allah itu akan menerangi perjalanan kehidupan ini. Tidak ada rasa khawatir dan rasa takut yang menggelapkan mata dan hati.

 … وَلَٰكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا ۚ وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَىٰ صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

“.. tetapi Kami menjadikan Al Quran itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu (Muhammad) benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus” (QS. Asy-Syura : 52)

banner 325x300

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *