Programnya Pak Ade Sang Komandan Kalimat tahun ini adalah mendorong penulisan buku solo. Bila dibandingkan dengan teman-teman Kalimat, aku bukanlah penulis produktif.  Baru menulis apabila diajak bareng untuk membuat antologi. Program ini aku dukung, karena pernah di lubuk hati tersimpan tekad untuk menyelesaikan satu buku biografi guru silatku.

Alhamdulillah, akhirnya selesai  juga penulisan buku biografi guru silatku di awal Maret 2021. Selain tuntas dukungan untuk Pak Ade, tunai pula janji seorang murid kepada Sang Guru.  Janji untuk mengisahkan perjalanan hidupnya yang unik dan mempunyai peran yang tidak dapat diabaikan dalam perkembangan silat nasional..

Perjalanan hidup dari seseorang yang dapat diambil pelajaran dan keteladanannya. Suka duka, tawa tangis, sukses gagal, gempita di arena dan sepi di hati menjadi cermin kehidupan kita sendiri. Saat waktu terus bergulir dan tak kuasa untuk dikejar, saat itu sesal tak terbayarkan. Ketika semua rencana berjalan tidak sesuai pelaksanaan, maka jalan keluar alternatif harus disiapka.

Akhirnya sebuah karya dengan izin Sang Pemilik Kehidupan dan restu Sang Guru pun selesai. Sebentuk buku mungil pun hadir.

“Mas .. “ kataku pada saat bertemu Sang Guru pada acara pelatihan silat di padepokan Juli 2017. Dalam komunitas silat kami, orang yang lebih tua umumnya dipanggil dengan sebutan Mas (laki-laki) atau Mbak (perempuan), sesuai tradisi Jawa yang berlaku dan berfungsi mendekatkan hubungan inter personal di antara anggota.

 “Mas Owo kan punya pengalaman melatih, kenapa tidak menulis dan membuat buku.” sambungku kepada Sang Guru yang berada di usia senja. Dia menatapku.

“Mas Owo gak pandai menulis, kamu saja yang menulis tentang Mas mu ini.”

“Musti banyak wawancara ..”

“Kamu mau diceritakan apa ?” tantangnya. Aku hanya tersenyum dan berpikir apa yang harus kutulis, belum ada dalam benakku untuk menulis dengan tema apa. Yang terpikir cuma menulis tentang beliau.

Menulis sebuah bukan tidaklah sama seperti membuat laporan psikologis. Perlu persiapan dan dukungan teori atau pengetahuan tentang menulis. Jadilah aku mengambil Kursus Menulis Online bersama pak Cahyadi.

Sambil berharap waktu masih panjang untuk dilalui dan mendapat bahan tulisan yang tepat untuk mengisahkan kehidupan beliau yang unik. Namun Tuhan memberi jalan lain kepada kami. Ketika sang waktu menutup pintu untuk satu kehidupan, aku pun harus mencari jalan lain untuk tetap memenuhi janjiku dan mendapat kisah dari sisi lain.

Orang-orang terdekat Sang Guru menjadi sasaranku untuk mendapat informasi dan mendengarkan kisah mereka tentang beliau. Satu per satu kumpulan kisah kurangkai menjadi untaian perjalanan hidupnya. Pada awalnya aku tidak banyak mengenal mereka, namun perlahan mulai mengenal mereka yang berada di sekitar kehidupan Sang Guru. Berkisah tentang masa lalu, suka duka dan kebanggaan mereka terhadap Sang Guru. Mereka pun mulai mengenal aku, salah seorang murid yang mencoba menulis sejarah Gurunya. Informasi mengalir ketika kusampaikan tujuan dari pertanyaanku kepada mereka. Bagai aliran air deras turun melintasi celah bebatuan di pegunungan menuju laut, seperti itu pula kenangan terhadap Sang Guru mengalir melintasi waktu. Dukungan dan apresiasi disampaikan, tidak saja untuk Sang Guru, akupun terkena percikan kebahagiaan mereka mengenang orang yang disayanginya. Aku menjadi pendengar yang baik dari kisah yang diungkapkan.

Rangkaian pun disusun dalam satu buku berdasarkan urutan waktu atau kronologi. Sejak kecil, remaja, dewasa, tua dan akhir hidupnya. Seorang rekan senior yang biasa menulis sebagai wartawan berkenan  menjadi editor, dan seorang rekan lainnya membantu melayout buku dan disain cover. ISBN dibantu Mang Agus, demikian pula cetak buku.

Alhasil 220 buku dicetak, 20 di antaranya eksklusif dengan hard cover dan warna. Yang eksklusif tentu untuk hadiah kepada senior yang mendukung, baik memberi kata sambutan seperti Mas Dwi Soetjipto, Mas Rachmat Gobel dan Pak Eddie M Nalapraya. Maupun sebagai nara sumber seperti Mas Tony Widya, pesilat asal Jakarta dan Mas Joko Widodo, pesilat asal Yogyakarta yang bertanding di SEA GAMES XIV 1987.

Sebagaimana arahan Pak Cah untuk memanfaatkan media sosial, inisiasi buku yang akan terbit aku posting di FB dan IG, juga wag komunitas teman-teman silat. Kemudian untuk pemasarannya  sebagaimana trik dari webinar Umi Ida dan Mba Anita Kursasi, kugunakan jalur pribadipun untuk menawarkan buku. Targetku adalah teman-teman silat. Hitungannya lebih dari 1000 orang di Indonesia. Ada beberapa dari luar negeri, namun mengingat ongkos kirim pasti mahal maka prioritas adalah teman-teman dalam negeri.

Untuk menarik pembeli, aku posting komentar Mas Joko Widodo yang sudah mencapai tingkat pendekar, tingkat tertinggi di perguruan. Beliau memiliki track record baik sebagai pesilat nasional. Alhamdulillah dari hasil posting Mas Joko dan Mas Tony permintaan pun mengalir. Ke dua tokoh ini adalah teladan bagi pengembangan silat prestasi di perguruan. Memiliki Teknik silat yang mumpuni namun rendah hati, bagai bulir padi merunduk.

Hambatan dan komen kurang sedap ada kudengar. Agak baper, namun Mba Cicik yang ternyata saudara seperguruan dan menjadi teman diskusi mampu mengingatkanku untuk bangkit. Excited terbitnya buku lebih kuutamakan karena lebih banyak  tanggapan positif yang disampaikan. Apalagi buku ini adalah buku pertama tentang tokoh silat nasional perguruan yang ditulis secara lengkap. Tentunya setelah sejarah pendiri perguruan silat yang sudah baku tersebar di IPSI.

Pelan-pelan biaya cetak mulai tertutupi. Kurang-kurang sedikit transferan atau ada yang lupa mentransfer pun diikhlaskan, karena ini gawean pertama. Demikian juga ketika diingatkan untuk berbagi dengan Koperasi perguruan dan pemberian persentasi kepada ahli waris. Menulis adalah sedekah. Semua merupakan pelajaran baru dan pengalaman pertama yang layak diterima. Seperti tabularasa yang menyerap semua pengalaman dan pengetahuan. Jalani dan terima semua.

Satu per satu teman memberi tanggapan, diantaranya :

Joko Widodo, atlet silat dan pendekar

“Salam Bunga Sepasang mbak Nurjanah.

Kenangan sangat indah bersama Pendekar History Mas Owo, yang menjadi kebanggaan Seluruh Keluarga Besar Perisai Diri. Ketauladanan Mas Owo adalah nyata, Beliau selalu di hati saya dan seluruh Keluarga. Matur nuwun sudah disapa dengan sangat indah ditambah hadiah Buku Sejarah Mas Owo tercinta.”

Alfansuri, pengusaha PT Jasatrans

“Alhamdulillah saya sudah terima buku biografi Mas Arnowo Adjie. I am surprised to find the hard cover of the book which is very beautiful. Congratulation ! Thanks a lot !”

Hanry Molomoe, pendekar

“Tulisanmu bagus. Memang harus seperti ini menulis sejarah silat, ada tokoh yang sudah berjasa yang diceritakan”

Endri Lubis, murid yang lama non aktif

“Makasih banyak lho mbak, buku mbak menjembatani silahturahmi yg terputus.”

Fikry Budiman, karyawan

“Baca sekilas bukunya, jadi sedih..mengingatkan kembali dengan Mas Owo, terutama saat Kejurnas pelajar di Bandung dengan beliau”

–oo0oo–

Untuk sementara ini target dan janji tercapai. Kini mempersiapkan diri untuk proyek berikutnya. Dua draft buku sesuai passionku di dunia olahraga, terutama silat, sedang menanti penyelesaiannya.

Semoga buku karyaku memberi manfaat. Terima kasih Pak Cah, Umi Ida dan teman-teman Kalimat, khususnya Mba Cicik. NL / Sawangan,190321

Keterangan: Buku sudah masuk di Perpustakaan Padepokan Pencak SiIat TMII

–oo0oo–

0Shares

By Admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *